Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 79 - HADIAH UNTUK JENDRAL


Razel membelalakan matanya, jantungnya berdegup kencang tak beraturan.


Tubuhnya seolah kaku, bukan karena udara dingin yang merayap di malam itu, bibirnya kelu tak dapat bicara, ingin ia menghindar tetapi ada rasa takut yang mengguyur sekujur tubuhnya.


‘ Tuan…’ gumamnya hanya berani dalam hatinya.


Perlahan juga wajah pria itu mendekat kearah wajah gadis cantik itu.


Kini jari Jendral menggenggam dagu Razel dan menariknya sedikit keatas hingga wajah gadis itu terangkat.


Perlahan dan semakin dekat…


Ketika bibir mereka semakin dekat, Razel tertegun dan cepat-cepat menghindar.


Gadis itu dengan cepat melangkah menjauhi Jendral sambil menunduk menahan malu. Gadis itu berlari dengan cepat tanpa berkata-kata.


Jendral menurunkan pundaknya, kepalanya menunduk dan masih terdiam di posisinya. Pria itu mengusap keras wajahnya, dan meraup rambutnya hingga ke belakang.


Hasrat yang tak tersampaikan….


“ Huuuh ‘dengusnya perlahan.


‘ Apa yang telah kulakukan…’ gumamnya seolah menyesali kekhilafannya.


Seketika ia melihat dua senjata milik Razel yang masih menancap di batang pohon besar. Jendral melangkah mendekatinya, kemudian mencabutnya. Ia membolak balik senjata yang baru dilihatnya itu.


Esok pagi yang masih terasa dingin. Karena angin musim dingin telah terasa…


Di depan lumbung gandum, Jendral terlihat menemui Razel di bibir pintu dan memberinya dua buah kunai.


“ Ini milikmu, ehm, maaf untuk yang semalam “ tanpa menunggu kata-kata dari Razel, Pria gagah itu berlalu dengan kibasan jubahnya meninggalkan Razel yang masih menggenggam kunai miliknya sambil melihat Jendral dari belakang.


Ternyata pemandangan itu terlihat oleh Merlin yang berada di ruang obat, dari celah pintu kayu yang sedikit terbuka.


Alisnya mengerut, tetapi kali ini, ia sama sekali tidak cemburu kepada Razel atau marah dengan suaminya, justru ia menyalahkan dirinya sendiri karena lalai melayani suaminya dan terlalu sibuk dengan urusannya.


‘ Tuan..’ gumam Merlin lirih dalam hatinya.


Di ruang obat, Merlin masih duduk meracik beberapa ramuan herbal untuk di simpan di dalam toples kaca.


“ Nyonya?..boleh aku masuk? “ suara seorang gadis membuat Merlin menoleh seketika.


Merlin terdiam sesaat, ternyata gadis yang tadi dilihatnya bersama suaminya kini berada di hadapannya.


“ Yah, masuklah Razel “ sahut Merlin mempersilahkan seolah melupakan apa yang tadi dilihatnya.


“ Nyonya, si kecil Alpen sudah tertidur, pekerjaanku selanjutnya adalah ke pusat kota. Kemarin anda menyuruhku membeli rempah-rempah, tapi yang seperti apa nyonya?“ tanya Razel dengan sopan.


” kau tidak perlu ke pusat kota hari ini. Duduklah Razel “ sahut Merlin sambil menyodorkan kursi di sebelah Merlin.


Dengan wajah heran bercampur penasaran, Razel menarik kursi itu dan duduk di samping Merlin.


“ Ada apa nyonya? “ tanyanya serius.


“ Razel, aku tahu kemampuanmu sangat mengagumkan. Sayang sekali jika kerjamu hanya membantu pekerjaan sehari-hariku. Aku ingin memberi hadiah kepada suamiku, dan hadiah itu adalah kau Razel…”


Perkataan nyonyanya itu membuat Razel tersentak, jantungnya serasa berhenti berdetak.


“ Ha? Hadiah? Maksud nyoya? “ mata Razel membulat sempurna, wajahnya menyiratkan tanda tanya besar.


“ Aku akan memberikanmu pada tuan Luzen sebagai hadiah. Dan kau akan menjadi pelayannya, ikutilah kemanapun dia pergi, jadilah pelayan yang setia untuknya“ Merlin berusaha menyibak senyum tetapi ada perasaan tersembunyi yang terpancar.


“ Tidak Razel, justru kau sangat spesial, sayang sekali jika kau hanya bekerja di benteng mengerjakan pekerjaan harian, para bibi sudah cukup membantuku mengerjakan pekerjaan sehari-hari “


“ Tapi nyonya..” wajah Razel memelas.


“ Tolonglah Razel, bantulah melayaninya dalam segala hal. aku mencintai suamiku..aku ingin memberinya hadiah yang spesial ”


Razel tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia menunduk lemas. Tak menyangka ia akan melayani suami nyonyanya, yang semalam bertemu di dekat hutan, yang selama ini ia kagumi.


Sebenarnya Razel bukan tidak mau menjadi pelayan Jendral, justru ia menyukai pria itu semenjak pertama kali ia melihatnya di pasar budak. Tetapi ia tidak ingin merusak hubungan Merlin dan Jendral yang telah menolongnya, karenanya Razel selalu menghindar dengan Jendral, tetapi justru Jendral yang mencoba mendekatinya.


Jika Razel menjadi pelayan Jendral berarti ia akan sering bertemu dengan Jendral, itulah juga yang ingin di hindari Razel.


“ Razel?..apa yang kau pikirkan? “ tanya Merlin membuat lamunan Razel membuyar.


“ Ah, tidak apa nyonya..”


“ Kau bersedia kan Razel? “ Merlin memastikan lagi.


“ Yah, baiklah jika itu memang keputusan nyonya “ jawabnya pasrah.


“ Terimakasih, kau memang gadis yang sangat mengagumkan “ senyum Merlin menyibak di wajahnya.


Malam menggelayut, dingin dan lembab, anginnya meresap dingin membuat penduduk malas berada di luar rumah.


Di kamar Merlin, wanita cantik itu duduk di depan cermin tengah menyisir rambut peraknya yang halus. Ia berdandan tipis dan terlihat cantik.


Suara pintu terbuka, Jendral masuk sambil membuka jubahnya. Ia menatap istrinya yang duduk di depan cermin, tidak seperti kemarin-kemarin yang sudah terlelap di ranjangnya.


“ kau belum tidur? “ tanya Jendral sambil menggantung jubahnya.


“ Aku menunggumu “ jawab Merlin lembut.


“ Benarkah? “ senyum di sudut bibir Jendral sedikit menyiratkan keraguan.


“ Yaah. Tuan, maafkan aku selama ini, melalaikan tugasku di ranjang, apa kau mau memaafkan aku? “ tanya Merlin.


“ Hm, sudahlah Merlin, kau tak perlu minta maaf. Aku tahu kesibukamu. Terimakasih sudah menjaga anak-anakku “ sahut Jendral yang mulai menaiki ranjang.


Merlinpun menghampiri suaminya…, wanita ia meniup satu sumbu lampu minyak di pinggir mejanya, hingga ruangan menjadi sedikit redup.


“ Apa kau sudah siap, suamiku..” suara Merlin pelan dan sedikit manja.


Jendral terseyum melihat istrinya yang cantik yang sudah berada di dekatnya.


Dan malam semakin meninggi,..dingin..dan pekat.


Tiga hari menjelang peperangan.


Pasukan dari Benua Hitam sudah berada sepekan yang lalu. Mereka tinggal di barak sementara di dalam benteng. Semua perlengkapan perang telah siap.


Jendral keluar dari aula diiringi beberapa petinggi di benteng, termasuk Gardden. Tetapi mereka berpisah di pintu aula.


Leon yang ditugaskan menjadi Komandan batalyon sibuk menyiapkan bendera untuk grupnya.


Gardden menemui istrinya yang berada di lumbung.


Jendral memegang peta wilayah kerajaan Nerogon dan berjalan menuju ke gudang senjata. Tetapi tiba-tiba suara panggilan dari arah belakang membuatnya menghentikan langkahnya.


“ Jendral!..Jendral!…,nyonya Merlin terjatuh di kebun dan telah di bawa ke ruang periksa“ seorang prajurit mengabarkan dengan sedikit tersengal-sengal akibat berlari.