
“ Sudahlah Merlin, aku sudah mengkhianatimu…carilah pria baik yang bisa mencintaimu tanpa ada wanita lain “ Jendral seolah sudah pasrah dengan keadaanya, ia menundukkan kepalanya.
“ Tuan, apa kau tidak ingin memilikiku?..Aku bersedia menjadi yang kedua demi dirimu tuan…aku, aku juga mencintaimu..” Merlin melangkah mendekati Jendral.
“ Benarkah Merlin? Kau bersedia menikah denganku? “ Jendral berdiri dari duduknya.
“ Iya tuan.., aku bersedia “
“ Walaupun aku sudah menikahi wanita lain?” Jendral mulai tenang.
“ Ya, aku harus menerimanya, akan akan mencoba untuk mengerti keadaan ini tuan”
“ Terimakasih Merlin…”
Jendral menghampirinya dan memeluknya, jemari Jendral mengelus rambut gadis itu.
“ Besok kita akan menikah, tak perlu keramaian..maaf atas pernikahan yang sangat tergesa ini Merlin, tapi aku ingin cepat-cepat menjadikanmu menjadi milikku “ bisik Jendral yang masih memeluk erat Merlin.
Merlin hanya diam dalam senyuman, perasaannya bercampur antara senang atau pedih, gadis itu tenggelam dalam pelukan Jendral dengan air mata yang perlahan meleleh lagi.
Besok pagi yang agak dingin berselimut kesejukan.
Semua penduduk Drake telah berkumpul di halaman benteng. Sebagian lagi telah siap di aula. Mereka semua menyaksikan pernikahan antara Jendral dan Merlin.
Merlin yang menggunakan gaun sutra putih sederhana namun terlihat begitu anggun dengan sanggul rapih di hiasi bunga-bunga mungil yang melingkar mengeliling di atas keningnya.
Para Eldr juga serempak memberi selamat dengan posisi berlutut dihadapan Merlin dan Jendral.
“ Merlin, apa kau masih bisa memimpin mereka setelah ini? “ Jendral yang berdiri disamping Merlin yang kini mejadi istrinya bertanya dengan sedikit berbisik.
“ Entahlah tuan, tapi sepertinya mereka masih bisa mengikuti perintahku” jawab Merlin.
Mereka berpesta dengan hidangan seadaanya di halaman benteng. Meja panjang besar di bentang di tengah-tengah halaman. Kursi-kursi kayu mengeliling mengitari meja. Makanan tersaji hampir memenuhi meja walaupun seadanya dan mendadak, tetapi stok makanan mereka cukup untuk pesta sedikit meriah di malam itu.
Jendral Luzen tak henti-hentinya melihat kearah Merlin yang ketika itu duduk agak berjauhan. Sesekali Merlin juga melirik kearah Jendral.
Pria itu dikagetkan dengan beberapa prajurit benteng yang menghampirinya dan memberi selamat atas pernikahan mereka.
Teman-teman Jendral juga sangat bersuka cita dengan pernikahan pemimpin mereka.
Para Eldr berterbangan di udara seolah ikut merayakan pernikahan pemimpin mereka.
Setelah pesta usai, ramai penduduk desa dan penghuni benteng berangsur sepi, hanya beberapa orang yang masih menikmati malam bersejarah itu, mereka duduk-duduk sambil menikmati minuman.
Malam mulai meninggi, Merlin dan Jendral yang berada di dalam satu kamar tampak canggung. Kamar sederhana milik Jendral, dengan dekorasi seadanya, kini kamar itu juga dimiliki oleh Merlin.
Merlin duduk di sisi ranjang, sedangkan Jendral sudah membuka jubah hitam kebesarannya dan mulai membuka rompi lapisan dalam.
Merlin hanya menatap Jendral yang masih berdiri sibuk melepaskan pakaiannya.
Ketika Jendral hendak melepas pakaian atasnya yang terakhir, dengan pakaian bagian bawah masih lengkap, tiba-tiba…
“ Eeh..” Merlin terlihat kaget, matanya yang biru membulat.
“ Ada apa Merlin?” Tanya pria bertubuh tegap atletis itu.
“ Ahh tidak…” merlin langsung menunduk seolah malu.
“ Kau masih saja polos seperti anak kecil..” Jendral tertawa kecil dan langsung mendekatinya lalu tangannya langsung menyentuh pipinya.
Jendral duduk di sisi ranjang di samping Merlin.
“ Apa kau tidak masalah jika setelah menikah kau tidak bisa lagi menjadi Demon Eldr?“ Jendral menatap dalam-dalam wajah istrinya.
“ Ya tak masalah tuan…” jawab Merlin dengan suara pelan.
“ Yah, justru lebih bagus jika kau menjadi manusia seutuhnya bukan? “ senyuman dari Jendral membuat Merlin membalas senyum sambil mengangkat alisnya.
Jendral menatap wajah wanita cantik itu agak lama, semakin dekat..
Kemudian perlahan Jendral menyentuh kancing baju atas Merlin, tapi dengan spontan Merlin menepis tangan Jendral.
" Ah..maaf, aku lupa, aku hanya tidak terbiasa..." Merlin sedikit malu terpancar dari rona wajahnya yang agak memerah.
Jendral tersenyum..
Ketika Jendral semakin mendekat kearah Merlin, Merlin lagi-lagi agak
kaget..
" Ah, sebentar...maaf kenapa aku menjadi gugup seperti ini.."
Jendral tertawa kecil, dan merasa gemas dengan kelakuan istrinya.
“ Baiklah!..mari kita buat kau menjadi manusia seutuhnya..istriku..” tanpa basa-basi Jendral langsung menggotong merlin ke tengah ranjang dengan semangat.
“ Eehh..tuan..” gumam Merlin setengah kaget.
Merlin seolah merasakan sebuah kebahagiaan dalam hidupnya di hari itu.
Kesuciannya yang selama ini ia jaga, akhirnya ia serahkan pada orang yang dicintainya.
Dan malam pun semakin pekat…. Jendral juga mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan…seorang yang benar-benar mengisi hatinya.
Pagi itu di depan pintu aula, Jendral berdiri di antara teras aula dan halaman benteng, ia menghirup udara pagi, pria itu terasa segar, wajah tampannya yang tegas seolah secerah mentari yang menyinarinya pagi itu.
Setiap yang bertemu Jendral pasti melihat Jendral yang sedikit berbeda dari biasanya.
Dari belakang Gardden menepuk kemudian merangkul pundak Jendral.
“ Sepertinya kita melihat seseorang yang sangat bersemangat hari ini..” ledek Gardden pada sahabatnya.
Jendral hanya senyum, lalu menunduk sedikit kemudian wajahnya diangkat, matanya memincing kearah langit yang cerah.
“ Yah, aku tak pernah sebahagia ini Gard…aku tak pernah membayangkan akan melangkah sejauh ini..dan memiliki Merlin ”
“ Hey yang mulia Raja, anda juga sudah memiliki seorang Charlotte di sebrang sana..” gumam Gardden sedikit berbisik.
“ Ya, aku tahu Gard..tapi mereka berbeda, aku belum memiliki perasaan apa-apa terhadap Charlotte..”
“ Apa benar begitu? Padahal kecantikkannya sudah tak diragukan lagi..”
“ Ini bukan soal kecantikan, tapi soal hati, yang kau tahu hanya penampilan saja…” Jendral ikut merangkul sahabatnya hingga kepala Gardden merunduk terbawa pitingan lengan Jendral.
Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan panggilan dari belakang mereka.
“ Tuan!..Hmm, kalian seperti anak kecil..” dengan tawa kecil, Merlin menghampiri mereka.
“ Nona, apa tidak ada panggilan yang lebih romantis kepada suamimu?” Gardden menggoda mereka.
“ Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu tuan Gard, kau tidak keberatan kan tuan.., maksudku suamiku?” pandangan Merlin beralih ke Jendral.
“ Hmm, yahh terserah kau mau panggil aku apapun Merlin, asal jangan Yang Mulia, aku kurang suka panggilan itu untuk disini..” Jendral menatapnya lembut.
“ Oya, ada apa Merlin? “ tanya Jendral pada istrinya.
“ Para Eldr ingin menjadi pasukanmu juga tuan, karena kau adalah suamiku, maka mereka ingin menjadi bawahanmu juga..”
“ Hmm, baiklah..aku ada rencana! “ seketika Jendral memiliki sesuatu di dalam pikirannya.
“ Apa itu tuan? “ tanya Merlin penasaran.
“ Ayo ikut aku, kau juga otot besar..” seru Jendral pada Gardden.
“ Baik yang mulia “ Gardden membalas, dan Jendral menatapnya dengan gemas kepada sahabatnya.
Jendral mengumpulkan sebagian para Eldr di halaman benteng, dan ia membaginya menjadi empat kelompok. Setiap kelompok Eldr akan ditempatkan di empat kastil yang berbeda. Kastil Drake, Kastil Timur, Benteng Drake dan Kastil Gozan Selatan.
Mereka di tugaskan untuk membawa atau mengirim berita, dari satu kastil ke kastil yang lain sesuai perintah.
Para Eldr menyetujuinya, bahkan mereka bersemangat karena mendapat tugas baru dan pemimpin baru selain Merlin.