Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 66 - BERITA DUKA DARI GOZAN SELATAN


Vier dan Jendral sama-sama kaget dengan pemandangan itu.


Vier yang lemah dengan luka-luka di tubuhnya seolah terkejut dengan apa yang dilakukannya, dengan mata membulat melihat Charlotte yang tertusuk belatinya ia melangkah mundur menjauhi posisi Charlotte.


Tubuh Charlotte lunglai, roboh seketika.


“ Charlotte!! ” teriakkan Jendral menggema di sekitar ruangan. Dengan cepat Jendral menghampiri istrinya yang bersimbah darah.


Sedangkan Vier berlutut dengan belati yang berlumuran darah masih di genggamannya.


“ Charlotte!..istriku!..bertahanlah! “ Jendral yang panik dengan kondisi istrinya berusaha memapah kepala Charlotte yang mulai terkulai lemah.


Darah mulai mengalir dari tubuh Charlotte.


Mata wanita itu mulai menutup, tapi kemudian terbuka lagi…


“ Charlotte! Charlotte! Sadarlah! “ Jendral mengguncang pundak istrinya dan menepuk pelan pipi wanita yang mulai melemah itu.


“ Aku- ba-ik..baik..sa-ja..” Charlotte sempat tersenyum kearah suaminya dan menggenggam jemari Jendral yang sedang berada di pipinya.


“ Suami-ku..” suara Charlotte mulai melemah.


Melihat istrinya yang masih membuka matanya Jendral sedikit melihat harapan.


“ Bertahanlah istriku, kau pasti selamat, aku akan mencari tabib setelah ini berakhir, kau tunggulah sebentar..”


" Gardden!!, Leon!..Penjaga!..Hey! kenapa tidak ada orang!"


Jendral berteriak memanggil seseorang untuk menolong istrinya, tapi sepertinya semua orang sedang sibuk bertarung.


" Aku akan segera kembali istriku " Jendral menatap istrinya sejenak yang masih terkulai dan masih memandang Jendral.


Jendral melihat kearah Vier yang masih berlutut dan menunduk lemah, kemudian ia meletakkan Charlotte perlahan dan hati-hati di lantai dan menghampiri Vier dengan kemarahan.


Jendral yang juga ikut berlutut mendekatkan tubuhnya ke tubuh Vier.


Vier tidak dapat berkata-kata lagi, ia seolah pasrah dengan kematian yang sebentar lagi menemuinya.


Sebelah tangan Jendral berada di pundak Vier, sedangkan tangan satu lagi mendekat ke belati yang di pegang Vier.


“ Kau bajingan kecil! Beraninya mengusik ketenanganku dan menggangu keluargaku! “


Jendral berbisik di telinga Vier, pria itu sudah terlihat pasrah, ia diam tak bergeming dengan sisa nafas yang tersengal.


Jendral mengambil paksa belati dari tangan Vier, kemudian ia menusukkan belati itu ke perut Vier, dan mencabutnya, lalu menusuknya lagi dan mencabutnya, lalu menusukkan ke jantungnya kemudian di cabutnya lagi, sampai Vier benar-benar kacau dengan kondisi luka di tubuhnya, dan pria itu akhirnya merenggang nyawa di tangan Jendral.


Jendral mendorong tubuh Vier yang sudah tak bernyawa.


Kemudian ia melangkah menuju Charlotte. Tapi tatapannya seolah menyiratkan ketakutan. Langkahnya di percepat menuju istrinya.


“ Charlotte?! “ panggilannya tak mendapatkan jawaban.


“ Charlotte! Buka matamu! “ suara Jendral semakin meninggi ketika pria itu melihat mata istrinya yang sudah tertutup rapat dan lemas.


Jendral terus mengoyak tubuh istrinya agar sadar, tetapi tubuh indah itu terkulai tak bergerak lagi.


“ CHARLOTTE!!”…


Teriakkan Jendral menggelegar mengisi semua sisi ruangan aula. Pria itu memeluk tubuh istrinya yang sudah lemas tak bernyawa lagi.


“ Ratu?..ada apa dengan Ratu, yang mulia” Prajurit mendekati dan memastikan kondisi Ratunya.


Jendral tak menggubris kehadiran prajurit tadi tidak pula menjawab pertanyaannya, pria itu terus menatap jasad istrinya yang sudah tak bergerak.


Akhirnya Jendral menggotong tubuh Charlotte yang sudah lunglai keluar ruangan aula.


“ Ayo kita urus pemakamannya..” Jendral menjawab juga pertanyaan prajurit tadi tanpa menoleh kearahnya.


Spontan prajurit tadi terkejut dengan kabar duka itu, ia masih membatu di posisinya, seolah tidak percaya Ratu mereka telah wafat, sementara Jendral telah hilang dari pandangannya.


Sorak sorai kemenangan Gozan Selatan menderu dari luar hingga ke dalam kastil, tetapi semua tak membuat Jendral mengucapkan satu katapun.


Jendral mulai melewati para pasukan dengan tubuh Charlotte yang masih di papah di dekapannya, seketika semua terdiam dan wajah mereka menyiratkan kebingungan sekaligus tanda tanya, apakah Ratu mereka telah wafat…


Gardden dari kejauhan melihat Jendral yang tengah membopong Charlotte langsung berlari menghampirinya.


“ Luzen!, ada apa dengan dia? “ wajah Gardden menyiratkan kepanikan melihat kearah Charlotte.


“ Dia telah tewas Gard..” jawab Jendral dengan suara lemah namun justru membuat semua pasukan yang ada di sekitarnya gaduh, tak percaya dengan kenyataan tersebut.


Ryon yang penuh luka berusaha tegap berdiri dengan ketegaran yang di sembunyikannya, sebenarnya selama ini dia sangat menyukai Charlotte tetapi ia tahu posisinya yang hanya sebagai pengawal pribadi wanita itu.


Petang menjelang, suasana kemenangan seolah tertutupi oleh duka yang lebih mencuat.


Kerajaan Gozan Selatan kembali telah kehilangan orang paling berpengaruh di kerajaan.


Pemakaman di laksanakan di area pekuburan kerajaan. Berita duka ini telah tersebar ke seluruh Benua Hitam, bahkan sampai ke tanah Oleic.


Merlin dan penduduk benteng juga berduka dengan kematian Ratu Gozan Selatan.


Di kamar, Jendral menggendong putranya yang kini telah kehilangan sosok ibu. Pria gagah itu mengelus lembut rambut bayi mungil di gendongannya.


“ Kau akan menjadi pria hebat, walaupun ibumu telah tiada nak..jadilah Raja yang berwibawa..” suara pelan Jendral menderu di telinga mungil bayi itu.


Kesedihan terus menyelimuti suasana kerajaan, terutama Jendral.


Pria itu sering merenung sendiri di dekat danau, kemudian melempar kerikil kecil ke tengah danau yang tenang.


Gardden selalu datang dan menemaninya.


" Luzen, aku tahu kesedihanmu..tapi kita masih harus melangkah " Gardden yang berada di samping Jendral tidak menatap sahabatnya itu.


" Ini yang ku benci Gard, disaat aku telah mencintai, seolah dia harus direnggut dariku " Jendral melemparkan lagi batu kecil ke tengah danau.


" Seperti itulah kehidupan Luzen, kau tidak boleh membencinya, ada waktunya aku dan kau akan mati seperti mereka yang telah mati". Gardden mencoba menasehati.


Jendral hanya tertunduk.


Sepekan telah berlalu…


Jendral merencanakan membawa putranya ke benteng Drake, ia akan menyerahkan pangeran kecil itu kepada Merlin karena sebenarnya Merlinlah yang memintanya merawat dan menjaga putra suaminya itu.


Tanggung jawab kerajaan Gozan Selatan di serahkan sementara kepada Ryon.


Jendral, Gardden dan teman-teman akan kembali ke Benua Oleic untuk beberapa lama, karena Jendral juga merencanakan akan merebut kerajaan Nerogon, karena kerajaan itu telah bersekutu dengan Veir kemarin dan merencanakan pembunuhan untuk dirinya.