Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 35 - PERTEMPURAN DI LUAR BENTENG


Pasukan pecahan Zeron yang tinggal di benteng ikut bergabung bersama Jendral untuk keluar benteng. Pasukan pimpinan Leon juga lima ratus prajurit pimpinan Gardden sudah siap di depan gerbang untuk keluar dengan kuda-kuda gagah mereka.


Begitu pintu gerbang di buka yang kedua kalinya, seluruh pasukan Drake keluar dengan cepat di pimpin Jendral dengan pedang baja ditangannya.


Jendral dan para prajurit membentuk barisan memanjang dengan pedang yang membentang, seluruhnya berkuda dengan cepat, meluncur dahsyat ke arah musuh bak gelombang yang menghantam.


Banyak pasukan Zeron yang tumbang seketika itu terkena sabetan pedang, kapak dan tombak pasukan pimpinan Jendral Luzen.


Perang kital-pun berkecambuk. Pedang-pedang para pasukan kedua belah kubu saling beradu. Hantaman tombak prajurit pimpinan Jendral Luzen berhasil menghalau brikade depan gelombang kedua pasukan Zeron.


Pasukan Zeron dengan cepat membuat blokade tameng, formasi Flangs kotak. Tapi kekuatan pasukan pimpinan Leon berhasil menerobos dan membuat blokade buyar berantakan, alhasil pasukan Drake berhasil masuk dan memporakporandakan blokade Zeron.


Jendral yang bertempur sengit berhasil melumpuhkan tiap tiga orang dengan sekali tebasan pedang. Jendral berusaha merangsek ke depan menuju Kapten Robin, tetapi jaraknya terlalu jauh. Tatapannya terus mengarah ke tempat dimana Kapten itu berada.


Jendral dari awal keluar benteng memang sudah merencanakan untuk melumpuhkan Kapten Robin, karena pikirnya jika pemimpinnya di lumpuhkan maka semangat prajuritnya akan melemah.


Jendral terus saja menghalau pasukan Zeron yang datang menyerangnya tanpa habis.


Tiba-tiba sabetan pedang mengenai punggung Jendral, baju rompi besi Jendral robek seketika, ternyata pelakunya adalah Kapten Robin, pimpinan tertinggi pasukan Zeron.


Ternyata yang dari tadi sedang diincar Jendral justru ada dihadapannya.


Dengan cepat Jendral membalas serangan Kapten Robin, adu pedang tak ayal lagi menjadi sengit dan menegangkan, karena mereka berdua sama-sama kuat, sama-sama memiliki kedudukan tinggi di mata pasukan.


Tanpa disadari Kapten Robin menendang kuda yang ditunggangi Jendral, pria itu jatuh ketanah bersamaan dengan kuda hitamnya, tapi berhasil cepat bangkit dan menarik baju perang Kapten Robin, hingga posisi mereka sama-sama di bawah tanpa menunggang kuda.


Pertempuran sengit dan duel hebat antara Jendral dan Kapten Robin mewarnai peperangan di hari itu.


Kapten Robin berhasil memberi satu lagi besetan di lengan kiri Jendral, darah meleleh di lengan Jendral, tapi ia seolah tak memperdulikannya.


Beberapa lama mereka beradu kekuatan di medan peperangan, akhirnya…


Dua tebasan telak dari Jendral mendarat di perut dan dada Kapten Robin, pria berbadan besar tadi terlihat goyah, ia membungkuk dengan bertumpu pada pedang yang ditancap ke tanah.


“ Aaarrgg! ” suaranya menahan sakit, kemudian ia paksakan bangkit melangkah cepat ke arah Jenrdal, tapi dengan gesit Jendral dapat menghindar tebasan pedangnya yang cepat, dan Jendral memukul dada Kapten Robin dengan sikunya, pemimpin Zeron tadi jatuh terlentang, kemudian pedang Jendral sudah berada di leher pemimpin musuhnya itu.


Kapten Robin tersenyum dengan sinis, ia sudah berada diujung tanduk, tubuhnya semakin lemah, tergeletak pasrah dengan luka yang cukup serius dan darah yang keluar tanpa henti, dan pedang Jendral sudah siap untuk menebas lehernya.


Dengan mata yang agak ragu, antara iba atau harus melakukannya, lalu Jendral memantapkan niatnya…


“ Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu Kapten…”


Sreet!!!…


Jendral memenggal kepala Kapten Robin. Sesaat kemudian pria itu berlutut disamping jasad Kapten yang sudah tak bernyawa lagi, ia menundukan kepalanya dan tangannya memegang pedangnya yang tertancap di tanah.


Samar-samar terdengar teriakan ‘ Kapten telah wafat!!!’..’ Kapten Robin terbunuh!!!’…


Maka pasukan Zeron seperti menjadi hilang kendali, mereka berlarian, ada yang mundur, ada yang menarik baju temannya agar tetap di pertempuran, ada yang diam berdiri.


Kemudian Jendral memerintahkan seluruh pasukan Drake untuk mundur sedikit dan berkumpul ditangah mendekati benteng.


Mereka membuat dinding perisai. Para prajurit berdiri dalam barisan, mereka berlindung menggunakan perisai masing-masing, bahu-membahu memegang perisai dari semua sisi, atas, belakang, samping kiri dan kanan.


Mereka saling merapat dan perisai saling bersentuhan, akhirnya dinding perlindungan yang terbentuk dari perisai membentuk formasi berlindung yang kokoh.


Jendral sudah memberi isyarat sebelumnya kepada para pemanah, jika dinding perisai terbangun, apapun yang terjadi, maka pasukan pemanah harus memanah sekitaran mereka.


Ratusan pasukan Zeron mengejar pasukan Drake yang sudah membentuk dinding perisai. Mereka berniat menghancurkan blokade pertahanan pasukan Drake, tapi belum sempat mereka menyentuhkan pedangnya ke tameng-tameng pasuka Drake,


Ribuan anak panah terbang di udara, seketika langit serasa berwarna hitam. Panah-panah tersebut menghujani pasukan Zeron yang tengah berlari memburu tameng pasukan Drake.


Ratusan pasukan Zeron tergeletak seketika, terhujam panah yang sangat banyak. Dinding perisai pasukan Drake dikelilingi panah yang menancap, juga mayat-mayat pasukan Zeron di sekitarnya.


Hampir setengah pasukan Zeron telah tumbang, dari pertama pasukan Jendral yang keluar gerbang, hingga tragedi hujan panah yang baru terjadi.


Raja Zeroix tampak kecewa. Ia memerintahkan pasukannya mundur untuk sementara. Karena dia juga telah kehilangan Kaptennya yang sangat berbengaruh.


Sore menjelang, pasukan Zeron mundur dan berkemah di lembah yang agak jauh dari benteng.


...**********...