
“ Bukan!! Bukan!!..bukan begitu, aku hanya berusaha menolongmu..” Denzu terlihat panik dengan menggerakkan tangannya di depan Merlin.
“ Maaf nona, tapi itu tidak seperti yang kau pikirkan” Denzu mencoba menjelaskan.
“ Yah, sebaiknya kau istirahat nona, biar kami yang menangkap ikan” Lizo mengambil keranjang milik Merlin.
“ Benarkah?, terimakasih tuan-tuan..sebaiknya aku kembali dulu ke benteng”
“ Nona, aku minta maaf telah membuatmu takut, hingga kau jatuh..” Denzu agak menunduk berhadapan dengan Merlin.
“ Ya, tidak apa..terimakasih juga telah menolongku..” jawab Merlin singkat.
“ Hei, apa kau penyebab nona Merlin tenggelam?” Harlmon menggenggam pundak Denzu.
“ Tidak seperti itu, aku ha-“…. Denzu mencoba menjelaskan.
“ Sudahlah tuan Harl, aku tidak apa-apa..” merlin seolah tidak ingin masalahnya menjadi panjang.
“ Hey, Denzu, sebaiknya kau temani nona Merlin kembali ke benteng” Dude menatap Denzu.
“ Ah..aku..” Denzu tampak ragu.
“ Tidak!..tidak perlu, aku jalan sendiri saja..” Merlin buru-buru berjalan menjauh dari yang lain.
Merlin telah menjauh dan hampir tak terlihat lagi.
“ Hei, kalau menolong wanita tenggelam hanya seperti tadi aku juga bisa melakukannya..” Dude sedikit tersenyum kepada Harlmon dan Lizo.
“ Dasar bodoh!, tadi kau bilang tidak bisa” Lizo mendorong pundak Dude.
“ Hey, Denzu kau sangat beruntung, nona Merlin itu..” Harlmon belum menyelesaikan kalimatnya.
“ Aku mau kembali ke sungai..” Denzu dengan santai berjalan kearah sungai tanpa perduli kata-kata Harlmon.
Malam mulai meninggi.
Di benteng yang terlihat agak sepi, karena udara yang sedikit dingin. Dari kejauhan rombongan Jendral telah kembali.
Suasana benteng berubah menjadi agak ramai.
Mereka yang didalam rumah-rumah kayu, beberapa ada yang keluar menyambut kepulangan Jendral, tak terkecuali Merlin, yang buru-buru keluar dari kamarnya.
Setelah beberapa saat, mereka kumpul di aula dan bercerita tentang keadaan di Kastil yang baru mereka rebut.
Berita kemenangan dan pengambil alihan kekuasan Zeron ke tangan benteng Drake telah tersebar ke seluruh kerajaan,
sampai-sampai kerajaan Hazmut tidak percaya benteng yang hanya dihuni pasukan seadanya bisa mengalahkan kerajaan Zeron yang sangat besar, bahkan Raja Zeroix wafat di tangan Jendral, hal ini membuat semua kerajaan ketar-ketir.
Saatnya mereka istirahat.
Sebelum Merlin melangkah kekamarnya, Jendral mnghampirinya di depan pintu kamar.
“ Merlin, kemarin kau sudah membantu kami,..apakah itu berarti tawaranku sudah bisa kau penuhi?” Jendral bertanya agak kikuk, sambil melihat kanan kiri, khawatir ada yang mendengarnya.
“ Tawaran?..” Merlin menyeritkan keningnya.
Jendral menghela nafas dan memejamkan matanya perlahan.
“ Menikah maksudku..apa kau bersedia?”
“ Eeeh, menikah?...emm, maaf tuan, apa kau bisa beri aku kesempatan sedikit lagi, setidaknya sampai peperangan Gozan. Nanti akan kupikirkan lagi tuan..”
“ Hmm, baiklah. Aku tidak bisa memaksamu..selamat tidur…” Jendral tersenyum lalu mengelus kepala Merlin dan berlalu.
Pagi yang cerah, namun udara dingin tetap merambat.
Para pria menyusun lagi bangunan yang berantakan akibat peperangan kemarin, semua bekerja memperbaiki fasilitas yang rusak.
Jendral yang sedang memperbaiki sebuah atap rumah yang hancur terkena batu, hampir terpeleset ke lubang atap yang bolong, beruntung Denzu yang tepat disebelah Jendral berhasil menggapainya dan menariknya kembali dengan cepat, tapi kaki Denzu tidak kuat menahan beban yang terlalu berat, ia hilang keseimbangan dan….
BRAK!!!
Denzu jatuh dari atas atap rumah bersamaan dengan kayu-kayu yang ikut berjatuhan.
Beberapa pria menghampiri Denzu dan berusaha menolongnya.
“ Denzu!! Kau tidak apa-apa?!” teriak Jendral khawatir dari atas atap rumah.
Denzu yang sedang mengerang kesakitan di bawah lantai tidak mampu menjawab, ia hanya mengangguk menandakan masih bisa bergerak, dan lukanya tidak terlalu serius, di atas tubuhnya banyak serpihan kayu berserakan.
Jendral yang buru-buru turun dari atas dengan cepat menghampiri Denzu.
Ia membantu mengangkat tubuh Denzu yang kotor dengan serpihan kayu dan puing.
Denzu di bawa ke ruang obat, dan Jendral memanggil Merlin untuk memeriksanya.
“ Siapa yang jatuh tuan?” Merlin yang terburu-buru masuk ke ruang obat melihat Jendral dan Denzu sudah berada di kursi.
Jendral berdiri mengalah dan memberikan kursinya pada Merlin, karena memang hanya ada dua kursi di ruangan itu.
Merlin yang diam sejenak seperti ragu-ragu. ‘ Kenapa aku harus berurusan dengan pria ini lagi’ batinnya saat melihat Denzu.
“ Merlin?..apa bisa kau mengobatinya?” Jendral menatap wajah Merlin yang seakan bingung.
“ Ah, iya..coba kulihat “ Merlin duduk di kursi berhadapan dengan Denzu yang sedang menahan sakit.
“ Luka dikakinya lumayan parah, kulitnya robek, harus segera di jahit “. Merlin melihat luka Denzu yang menganga dan masih mengeluarkan darah.
“ Baiklah, jahitlah lukanya Merlin” Jendral yang berdiri mempersilahkan Merlin menjahit kaki Denzu.
“ Tapi obat penenangku dan penghilang rasa sakit sudah habis kemarin, terlalu banyak kupakai untuk mengobati pasukan, jadi tolong tuan Denzu tahan sedikit sakitnya” Merlin berdiri dan mempersiapkan peralatan operasinya.
Tak lama berselang Merlin kembali, ia yang masih berdiri terlihat bingung kembali.
“ Tapi bagaimana aku harus menjahitnya…apa bisa tuan Denzu mengangkat kakimu?” Tanya Merlin.
“ Aku harus bagaimana?, apa aku harus berbaring?” Denzu juga bingung dengan posisinya.
“ Kau duduklah Merlin, apa kau tidak keberatan kalau kaki Denzu ditaruh di kakimu?” Jendral memberi solusi.
“ Tapi tuan…” Merlin seperti tidak setuju.
Tapi Jendral seperti tidak menghiraukan ketidaksetujuan Merlin, ia membantu memapah kaki Denzu ke atas paha Merlin yang sudah duduk di kursi.
Merlin dan Denzu memasang wajah risih dan tidak enak.
“ Jendral, apa tidak apa-apa seperti ini?” Denzu masih tidak enak dengan Merlin.
“ Yah, mau bagaimana lagi, kakimu harus cepat di jahit kan?” Jendral menjawab santai.
“ Merlin jahitlah cepat..”
“ Ya..baik-lah..” Merlin yang tidak nyaman dengan kondisi itu, terpaksa melakukannya karena perintah Jendral.
Merlin mulai menjahit luka yang menganga di kaki Denzu.
Pria itu menggigit sepotong kain yang diberikan Merlin untuk menahan sakitnya.
“ Aarrggh!” dengan mulut tersumbat kain, dan wajahnya menghadap atas, Denzu mengerang menahan perih sambil memegang pinggir kursi dengan cengkraman kuat.
“ Tahanlah sebentar Denzu..” Jendral mencoba menenangkan“
Jendral!, tuan Gardden mencarimu di aula, ada seseorang yang datang “ seorang pria datang dari arah pintu dan memanggil Jendral.
“ Baiklah aku kesana” sahut Jendral.
“ Denzu, aku tinggal dulu. Merlin tolong urus dia ya..” Jendral keluar bersama pria yang baru datang tadi.
Merlin hanya melihat Jendral yang keluar ruangan. Sekarang, hanya ia dan Denzu.
Denzu tak sengaja memperhatikan Merlin yang sedang serius mengurus kakinya.
Pria itu mengambil penyumbat mulutnya, sepertinya ia tak lagi merasakan perih seperti tadi.
“ Cantik…” suara Denzu pelan hampir tak terdengar.
“ Apa kau mengatakan sesuatu tuan?” Merlin menoleh kearah Denzu.
“ Ah..tidak..tidak, maaf, lanjutkan saja nona”
“ Apa masih terasa nyeri? “ Merlin memastikan.
“ Tidak, sepertinya tidak perih lagi..” Denzu sempat terpesona dengan kecantikan Merlin.
“ Benarkah?..padahal aku tidak memberimu penawar rasa sakit ”
“ Baiklah, sudah selesai ” Merlin merapihkan alat-alatnya.
“ Terimakasih nona.” Denzu masih menatap Merlin.
“ Baiklah tuan, mari kita ke aula, sepertinya semua berkumpul disana”.
“ Sepertinya aku belum bisa berjalan dengan baik, mungkin aku akan menyusul”
“ Baiklah, aku duluan tuan..” Merlin keluar ruangan dan menuju aula.
Benar saja disana sudah berkumpul beberapa pria termasuk Jendral dan Gardden.
Dan di tengah-tengah mereka ada seorang wanita berpakaian bangsawan bersama satu pria lagi, mereka sedang berdiskusi dengan Jendral.
...**********...