Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 24 - TERPERANGKAP KEMBALI


Ketika lentera di taruh di atas meja, salah satu dari pasukan Zeron yang tadi siang baru datang ke benteng menjelaskan dengan sangat ketakutan kepada enam orang pasukan benteng yang menangkap basah dirinya di depan pintu kamar Merlin.


Ia di dudukan paksa di kursi kayu. Dude, Bugerd, Ziggo, Lizo, Leon dan Gardden berada di hadapannya dengan pedang-pedang mereka yang belum di masukan kedalam sarungnya.


“ Apa maksudmu di depan kamar nona Merlin?!” Gardden yang duduk di atas meja bertanya dengan kakinya berada di bangku yang di duduki pria Zeron tadi.


“ Aku, aku hanya penasaran dengan wanita itu..di tempat kami belum pernah ada wanita seperti itu..” pria itu terlihat tak berdaya.


“ Heh, dasar bodoh!, kau kira kami percaya!!, dasar cabul!!” Dude memukul kepala pria itu dari belakang.


Jendral keluar dari kamarnya, dan menanyakan apa yang terjadi. Mereka menjelaskannya.


Jendral tidak banyak bicara, ia menodongkan belati ke leher pria itu, dan menyebabkan sedikit goresan kecil hingga mengeluarkan darah, dan Jendral sedikit berbisik pada pria itu…


“ Apapun alasanmu, kau sudah tidak bisa dipercaya. Tapi kami masih memberimu satu kesempatan, jika kau melakukan suatu hal bodoh lagi, maka goresan belatiku kupastikan sampai ke tulang kerongkonganmu!. bilang juga pada semua temanmu agar tidak melakukan hal bodoh disini!”


Jendral mendorong pria itu sampai jatuh ke lantai. Pria itu langsung meminta maaf dan berlari ke kamarnya.


Pagi hari, indah dan segar…Merlin membangunkan wanita di sana untuk membantunya membuatkan sarapan.


Tapi dari kejauhan di luar gerbang, seorang anak kecil menghampiri gerbang dengan sedikit berlari.


Setelah ditanya keperluan si anak, ia menjelaskan bahwa ibunya sakit dan harus cepat di obati.


Merlin langsung meminta izin kepada Jendral agar memeriksa ibu si anak tadi.


Jendral sedang mengerjakan sesuatu dengan kawan-kawannya sehingga tidak bisa menemani.


Ia memerintahkan Ghose untuk menemani Merlin ke rumah anak kecil tadi.


" Apa perlu tambahan orang lagi untuk menemanimu Merlin?" Jendral bertanya pada Merlin.


" Tidak perlu tuan, tuan Ghose sudah cukup untuk menemaniku"


Akhirnya Merlin, Ghose dan anak tadi menaiki kuda menuju rumah si anak di pinggiran ke arah pusat kota.


Sesampainya di rumah anak kecil itu, Merlin masuk ke dalam rumah sederhana, dan terlihat seorang wanita terbaring di dipan tua terbuat dari kayu.


Ketika Merlin ingin memeriksa si wanita, tiba-tiba dari belakang Merlin seorang pria menutup mulut Merlin dengan handuk yang telah di beri ramuan bius. Merlinpun pingsan.


Wanita yang pura-pura terbaring tadi memberi isyarat kepada si pria agar bersembunyi di tempat yang sudah di rencanakan.


Dari dalam rumah, si wanita berteriak agar Ghose masuk, benar saja dengan cepat Ghose mendobrak pintu dan masuk, melihat Merlin tergeletak di lantai Ghose ingin menghampirinya, tapi pukulan keras dari belakang membuatnya rubuh dan juga pingsan.


********


Merlin membuka matanya perlahan, sepertinya ia mengenal tempat itu. Spontan matanya membulat dan ia bangkit dari berbaringnya.


“ Kenapa aku ada di kamar ini lagi?!!” tanyanya pada diri sendiri, ia tak menyadari bahwa dia telah di bawa ke kerajaan Hazmut kembali, dan berada di kamar yang sama.


Merlin langsung menuju pintu dan berusaha membukanya, tapi lagi-lagi pintu terkunci dari luar.


Ia ingin melihat ke arah jendela, tapi belum sempat ia menuju jendela, suara pintu terbuka berbarengan dengan pria yang masuk, yah ia sangat kenal pria itu.


“ Apa-apaan kau!! kenapa aku di bawa lagi kesini?!!” Merlin langsung memukul pangeran Zaimon yang sudah berada di hadapannya, ia memukul dengan keras dan tak terarah ke tubuh pria dihadapannya itu, seolah melampiaskan amarahnya.


Kedua tangan Merlin di tangkap pria yang berdiri tegap itu. Ia tersenyum dengan sudut bibirnya kepada Merlin.


“ Selamat datang kembali peri kecil…aku menangkapmu lagi..” seolah puas dengan mainan yang didapatkan kembali, pangeran tertawa ringan.


Merlin melepas paksa genggaman tangan pangeran, lalu dengan marah ia menjauh dari pria itu.


“ Apa kau menggunakan anak kecil dan wanita tua untuk memancingku kesini?”


“ Hahaha…pintar bukan? “ pria dihadapannya itu malah tertawa puas.


“ Apa yang kau mau dariku?, aku hanya gadis biasa…tolong jangan ganggu aku..bukankah mudah bagimu memiliki banyak gadis cantik yang derajatnya tinggi.. tolong pulangkan aku..kumohon..” mata Merlin mulai berkaca-kaca, seolah kejadian kelam tempo hari akan terulang pada dirinya.


“ Ssstt…ayah dan ibuku tidak tau kau ada disini.. jangan keras-keras..” pangeran mengisyaratkan jarinya ke bibir.


“ Aku hanya ingin memelihara peri kecil yang cantik di kamarku…apa tidak boleh?” pangeran dengan santai melipat tangannya di dada. Sedangkan Merlin menyentuh kening dengan jemarinya.


...*********...