Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 90 - MELAWAN PENYIHIR


“ Argh! Sial!..berapa banyak pasukan musuh di sana? “ tanya Jendral dengan mata membulat.


“ Sekitar dua ratusan pasukan tuan “ jawab prajurit tersebut.


“ lalu dimana istriku sekarang?! “ tampak kecemasan di wajah Jendral.


“ Masih di dalam benteng, tetapi mereka menggunakan sihir untuk melumpuhkan para prajurit “


“ Dari mana mereka ini! “ gumam Jendal.


Tak butuh waktu lama, Jendral kemudian memacu kudanya sangat cepat menuju benteng.


Sesampainya di benteng, Jendral melihat beberapa pasukannya telah tergeletak di mana-mana, dan banyak pasukan musuh yang telah berhasil memasuki benteng, hingga suasana benteng menjadi kacau.


Jendral bersama pasukannya yang masih tersisa di luar berusaha menghalau musuh yang berada di depan gerbang benteng.


Dengan pedang di tangannya, Jendral dan prajuritnya diluar benteng bertempur dengan sengit. Tetapi pasukan musuh tidak terlalu kuat hingga Jendral dan pasukan benteng berhasil mengalahkan sepertiga dari pasukan musuh yang berada di luar.


“ Tuan, para penyihir sudah masuk ke dalam, masuklah tuan!, biar kami yang atasi disini “ ujar seorang prajurit di dekat Jendral.


“ Baiklah, aku akan kirim pasukan elit ke sini “ sahut Jendral.


“ Buka gerbang! “ perintah Jendral.


“ BUKA GERBANG! TUAN LUZEN SUDAH KEMBALI!” teriak salah satu penjaga menara.


( sebutan untuk Jendral berbeda-beda tergantung tempatnya )


“ Lindungi tuan Luzen! “ beberapa pasukan benteng mengeliling mengitari Jendral melindunginya untuk memasuki gerbang.


Gerbang pun di buka sedikit untuk Jendral memasukinya.


“ Kumpulkan Pasukan Elit Garda Depan!, halau pasukan yang ada di depan gerbang!“ perintah Jendral kepada beberapa pasukan yang terlihat menghampiri Jendral.


“ Tuan!, para penyihir sudah ada di sini, dan para Eldr di buat kualahan dengan beberapa naga merah yang tadi menyerang “ lapor seorang prajurit ketika melihat Jendral tiba di dalam benteng.


“ Kenapa kalian tidak memanggil Wyen untuk menghalau naga merah?! “ tanya Jendral.


“ Wyen hanya bisa di kendalikan oleh anda tuan, kami tidak bisa memerintahnya“ jawab prajurit tersebut.


“ lalu pasukan musuh yang berhasil masuk benteng apa sudah diatasi? “ tanya Jendral kembali.


“ Sudah tuan, pasukan yang berhasil masuk benteng sudah di bisa lumpuhkan semuanya, yang tersisa hanya penyihir di dalam benteng “


“ Baiklah, kumpulkan pasukan dan ikutlah denganku “ perintah Jendral.


Jendral memanggil Wyen si naga hitam dengan peluit khusus yang sudah ia latih ke naga tersebut untuk memanggilnya dari jarak yang agak jauh.


Tak lama berselang, awan seolah menjadi redup, tertutup oleh sebuah bayangan besar yang datang dari atas.


Wyen naga hitam besar telah datang memenuhi panggilan tuannya.


Jendral menghadapkan wajahnya kearah naga besar tersebut.


“ Wyen-ku yang gagah, tolong kau halau para naga merah jika mereka mengganggu, mudah buatmu bukan? Kau adalah penguasa para naga kan? “ ujar Jendral pada naga hitam tersebut. Seolah mengerti perkataan Jendral Wyen mendengus dan mengerang, kemudian ia terbang mencari naga merah.


Kemudian, Jendral berjalan cepat dengan beberapa pasukan di belakangnya menuju aula, dan ia bertemu degan Denzu.


“ Denzu, Dimana istriku? “ tanya Jendral pada Denzu yang tengah memegang panah.


“ Nyonya Merlin, para wanita juga anak-anak bersembunyi di lumbung gandum tuan, mereka mengincar nyonya Merlin, dan kami mencari tempat bersembunyi paling aman, lumbung gandum menurutku tempat paling bagus untuk sembunyi “ ujar Denzu sedikit berbisik.


“ Kenapa mereka mengincar Merlin? “


“ Mereka bilang mereka mencari darah keturuan Demon Eldr “ ujar Denzu menjelaskan.


“ Apa?!, kalau begitu anakku juga menjadi ancaman?! “ tanya Jendral khawatir.


“ Tapi sepertinya mereka hanya menyebut-nyebut nyonya Merlin “


“ Baiklah, aku akan menemui istriku, kau teruslah pantau dari atas “ perintah jendral sambil menepuk pundak Denzu kemudian sedikit berlari kearah lumbung diikuti pasukannya.


Belum sampai ke pintu lumbung, Jendral di halau oleh beberapa penyihir yang membuat semacam aray atau penghalang sihir agar Jendral dan pasukannya tidak dapat memasuki area lumbung yang ternyata mereka telah mengetahui tempat persembunyian Merlin dan para wanita yang lain.


Beberapa pasukan benteng telah berapa kali mencoba menembus aray penghalang sihir tersebut, tetapi selalu gagal.


“ Hey, kalian para penyihir!, apa mau kalian sebenarnya?! “ Jendral menghunuskan pedangnya kearah penyihir yang berada di belakang penghalang sihir yang mereka buat.


“ Hahahahaa!!, menyerah sajalah tuan,..kekuatanmu maupun pasukanmu tidak akan bisa mengalahkan sihir kami. Percuma saja kalian menggunakan senjata kalian. Kami hanya ingin mengambil Ratu kami, Ratu Merlin, setelah itu kami akan pergi “ ujar salah satu wanita penyihir dengan pakaian serba hitam yang masih merapalkan mantera sihirnya.


“ Sial!, bagaimana kita melawan sihir “ gumam Jendral setengah geram dan menggerutu.


Tiba-tiba dari arah belakang, Razel dan pasukan ‘Kunai’nya maju melempar beberapa kunai kearah aray penghalang yang ada di depan mereka.


Jendral terkejut dengan kehadiran Razel yang sedari tadi memang tidak terlihat.


“ Maaf tuan, aku terlambat “ tukas Razel sembari menoleh kearah tuannya.


“ Tuan! Lihat!, aray penghalang sihir itu retak! “ salah satu prajurit mengejutkan semua yang ada di sana.