
Akhirnya setelah pemakaman selesai, seluruh penduduk kastil kerajaan Gozan Selatan berkumpul di depan kastil, dan menyatakan untuk mengabdi sepenuhnya pada Raja mereka yang sekarang yaitu Jendral Luzen, atau Raja Luzen Gozan Selatan.
Sejak kematian ayahnya, Charlotte menjadi sedikit pendiam. Jendral yang melihat istrinya seperti itu berusaha menghiburnya dan menjadikan ia semakin dekat dengan Charlotte.
Jendral meminta izin kepada Merlin melalui pesan Eldr, bahwa ia akan berada di Benua Hitam beberapa saat lagi, karena masih dalam suasana berkabung.
Di gazebo taman kastil, Charlotte berdiri seorang diri dengan memegang bunga Lilly putih di genggamannya. Wanita cantik itu memandang kearah kolam air yang bergemericik.
Dari belakangnya, seorang pria gagah dengan mantel coklat tua telah berdiri tegap.
“ Charlotte..” suara berat pria itu membuat Charlotte menoleh spontan.
“ Suamiku..” jawab Charlotte dengan sikap tidak biasanya.
“ Aku disini, aku akan menemanimu beberapa pekan lagi..”
“ Benarkah? “ Charlotte terdengar sedikit semangat.
Jendral mendekati Charlotte dan mengelus rambutnya dengan lembut.
Wanita itu spontan memeluk erat pinggang Jendral, dan membenamkan wajahnya di dada pria itu.
“ Jadilah pengganti ayahku, suamiku..aku membutuhkanmu di sisiku..” pegangan Charlotte semakin erat.
“ Ya, baiklah..aku akan disini lebih lama “ Jawab Jendral lembut.
Jendral memegang dagu Charlotte, dan mengangkat wajahnya agar menatapnya.
Tatapan yang menyiratkan kasih sayang, kali ini lelaki itu mulai bisa mencintainya sebagaimana ia mencintai Merlin.
Jendral mendekatkan wajahnya perlahan kearah wajah Charlotte, kemudian bibir mereka saling bertemu.
Setahun berlalu,
Di luar maupun di dalam kastil kerajaan Gozan Selatan terlihat sangat meriah, semua bersuka cita dengan kelahiran seorang bayi laki-laki tampan calon pewaris kerajaan Gozan Selatan.
Pihak kerajaan memperkenalkan calon pewaris selanjutnya kepada semua penduduk Gozan Selatan yang telah berkumpul memenuhi halaman istana kastil.
Charlotte sangat gembira dengan kehadiran buah hatinya, karena ia memiliki pewaris untuk masa depan Gozan Selatan.
Jendral tak hentinya memandang putra mungilnya. Wajah tampannya sangat mirip dengan ayahnya Jendral sekaligus Raja Luzen.
Charlotte mengundang Merlin untuk datang ke istana mereka, tetapi Merlin tidak bisa hadir menyaksikan kelahiran putra Jendral karena ia juga tengah mengandung besar, dan kemungkinan akan lahir pada bulan berikutnya.
“ Aku ingin bertemu Merlin sekali lagi, dia cantik dan menyenangkan..” Charlotte yang tengah menggendong bayi mungilnya berkata pada suaminya di kamar.
“ Bukankah kau pernah bertemu dengannya tempo hari, waktu ku ajak dia kesini? “
“ Ya, apa salahnya aku ingin bertemu dengannya lagi?..”
“ Apa kau ingat ketika kau membuat kami berdua ketakutan?..” Charlotte berujar pada suaminya dengan sedikit tawa kecil.
Jendral kembali tertawa mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu ketika ia nekat mengajak Merlin ke kastil dan memperkenalkannya pada Charlotte.
Karena pria itu berfikir walau bagaimanapun yang akan terjadi tetapi mereka harus saling mengenal.
Jendral mengira Merlin dan Charlotte akan berseteru atau saling cemburu, tetapi justru mereka saling memuji dan menyukai sifat satu sama lain.
Di luaar dugaan, Merlin dan Charlotte terlihat akrab, sehingga Jendral justru sedikit tersingkir.
Kedua wanita yang juga adalah istri-istrinya yang tengah duduk dan melihat mereka berlatih pedang dari kejauhan, dengan spontan berlari bersamaan kearah Jendral yang jatuh dan mengerang kesakitan.
“ Suamiku!”…sahut Charlotte dengan panik sambil berlari meghampiri suaminya.
“ Tuan! Anda tidak apa-apa?! “ Merlin juga berlari dengan kekhawatiran di wajahnya.
Ketika mereka melihat darah di tangan Jendral mereka semakin panik, tapi justru Jendral dan Gardden malah tertawa, karena darah itu hanya besetan kecil di tangan Jendral dan bukan tusukan di perutnya.
Dengan rasa puas mengerjai kedua istrinya yang sedang panik, Jendral tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Begitu juga dengan Gardden yang sempat meminta maaf pada kedua wanita itu, karena Jendral yang telah menyuruhnya.
Gardden menjauh dari mereka, dan ketika keduanya tahu yang sebenarnya, pria itu dipukuli dengan pukulan kesal sekaligus manja oleh kedua wanita itu dengan tangan kosong.
Gardden masih bisa mendengar kekesalan dari kedua wanita itu dan suara tertawa Jendral yang masih menyisa dari kejauhan.
Gardden hanya bisa menggeleng dengan mengulum senyum dengan kelakuan sahabatnya itu.
" Saat itu kalian sudah seperti sahabat saja..." Jendral melirik kearah istrinya.
" Apa kau tidak cemburu padanya Charlotte?" Tanya Jendral penasaran.
" Tidak, dia wanita polos yang baik, aku suka dengannya..untuk apa cemburu padanya ".
Jendral menghela nafas dan tersenyum.
Satu bulan kemudian,
Jendral kembali ke sisi Merlin, ia dengan tegang menunggu kelahiran putra keduanya, yang berarti adalah calon pemimpin para Eldr.
Suara tangisan bayi memecah kesunyian di tengah benteng Drake.
Semua bersuka cita dengan kelahiran putra Merlin dan Jendral yang kelak akan menjadi Demon Eldr.
Jedral mengecup kening istrinya yang masih berkeringat. Ia memandang lekat-lekat wajah tampan anak keduanya, mungil dan gagah.
Lengkap sudah kebahagiaan Jendral, kini ia memiliki dua keturunan yang akan menjadi calon pria hebat di kemudian hari.
Sementara Gardden, ia telah melangsungkan pernikahan dengan Violet beberapa bulan kedepanya, putri angkat dari kerajaan Gozan Tengah, dan mereka tinggal di benteng Drake.
Tiga bula kemudian,
Di kastil kerajaan Gozan Selatan, Charlotte sedang menimang bayi tampannya, ia berada di taman kastil sambil bersenandung menikmati kesejukan gemericik air kolam yang menyejukkan.
Tiba-tiba suara gaduh dari dalam kastil dan luar mengganggu ketenangan ibu pangeran tersebut.
Ia melangkah cepat dengan masih menggendong bayi mungilnya, ia menuju dalam kastil, ingin tahu apa yang terjadi.
“ Ratu, sebaiknya anda berlindung di ruangan anda “ seorang pengawal kerajaan mencoba mengantarkan Charlotte ke kamarnya di atas.
“ Ada apa pengawal? Apa yang terjadi? “ tanya Charlotte sedikit panik.
“ Kakak anda.., pangeran Vier dan pasukannya menyerang kerajaan “ nada panik dari si pengawal membuat Charlotte semakin bingung.
“ Vier?..kakakku? “ gumam Charlotte dengan mata membulat dan nada takut.