
“ Pengawal! tanya pada wanita itu apa ada yang bernama Merlin” perintah Raja pada pengawalnya dari jendela kereta.
“ Baik yang mulia “ sahut pengawal.
“ Yang mulia, untuk apa kita berhenti? Dan siapa Merlin itu? “ tanya wanita bangsawan istri Raja Zaimon.
“ Sudahlah, kau tak perlu tahu “ Raja Zaimon seolah tidak menghiraukan istrinya.
“ Hey, apa ada dari kalian yang bernama Merlin?!” tanya pengawal pada beberapa wanita yang menepi di jalan termasuk Merlin diantaranya.
Merlin buru-buru merapatkan tudungnya dan menutup sebagian wajahnya dengan tudung besar dari mantelnya.
Para wanita yang di panggil bibi oleh Merlin menoleh kearah Merlin dan seolah mengetahui bahwa mereka harus menyembunyikan identitas Merlin.
“ Tidak tahu, kami tidak tahu..” jawab wanita paruh baya di samping Merlin.
“ Hey! Apa kau yang bernama Merlin! “ pengawal menatap Merlin dengan aneh dan bertanya pada gadis bertudung dihadapannya.
“ Ah, siapa?..Merlin siapa?..hey bibi apa kau mengenalnya? “ jawab Merlin menoleh kearah wanita di sampingnya. Wanita itu semua menggeleng.
“ Ahh..kalian semua seperti orang bodoh! “ sahut si pengawal dengan mengibaskan tangannya, lalu kembali melapor kepada Rajanya.
" Sepertinya tidak ada dari mereka yang bernama Merlin yang mulia. Mereka hanya sekumpulan wanita bodoh " tukas pengawal pada Rajanya yang berada di dalam kereta.
" Baiklah, jalan! " perintah Raja Zaimon.
Akhirnya iring-iringan itu kembali berjalan.
“ Huufftt…hampir saja…” Merlin terlihat lega dan menghembuskan nafas.
“ Nona, apa kau tidak apa-apa?” tanya Merlin pada gadis yang terjatuh tadi.
“ Ya aku tak apa-apa, hanya makananku ada yang terjatuh. terimakasih nyonya. Kau cantik sekali nyonya ” gadis itu menoleh kearah Merlin.
Merlin tersenyum.
" Kau juga cantik. Kau mau kemana nona?" Tanya Merlin.
" Aku ingin mengantar makanan untuk saudaraku. Tapi pengawal Raja itu baru saja menjatuhkannya" gadis itu terlihat kecewa.
" Ambillah makanan ini untukmu" Merlin memberikan gadis itu roti dan buah.
" Ah kau baik sekali nyonya..terimakasih " wajah gadis tadi kembali ceria.
" Kau tinggal dimana?" Tanya Merlin kembali.
" Aku tinggal di sekitar Hazmut, tapi rasanya aku ingin sekali pindah ke benteng Drake, disana lebih nyaman, pemimpinnya juga sangat baik..apalagi akan terjadi perang nantinya..kerajaan Hazmut pasti dikalahkan". Perkataan gadis itu sontak membuat Merlin kaget.
" Ya sebaiknya kau cepat pindah sebelum perang dimulai. Kehidupanmu di benteng Drake pasti terjamin " sahut Merlin semangat.
" Yah, baiklah aku akan bicara pada ayahku"
Akhirnya mereka berpisah tetapi Merlin terus memikirkan gadis itu.
Sementara di Benteng Drake,
Jendral menemui utusan dari kerajaan Nerogon. Utusan tadi dipersilahkan masuk ke aula.
“ Apa yang ingin kau sampaikan ?” tanya Jendral penuh wibawa di dalam aula benteng.
“ Aku akan menyampaikan surat ini dari Raja Rowen, silahkan anda baca tuan “. Utusan tadi memberikan sebuah gulungan surat yang telah di beri semacam cap lilin berwarna merah tanda kerajaan.
Jendral membukanya, dan mulai membaca…
Kepada Jendral Luzen, pemberontak yang beruntung.
*Aku Raja Kerajaan Noregon, Rowen Bosten. Dengan beradanya surat ini ditanganmu, ku nyatakan tantangan perang untukmu.
Jika kau berhasil mengalahkan pasukanku, maka kerajaanku akan menjadi milikmu, dan kau berkuasa penuh atas kekuasaan di wilayah Noregon, tetapi jika aku yang berhasil mengalahkan benteng kecilmu, maka seluruh bentengmu beserta harta karun di dalamnya dan juga wilayah Zeron harus menjadi milikku*.
Kau perlu tahu pemberontak, bahwa aku akan mengerahkan seluruh pasukanku dan pasukan aliansiku untuk memastikan jika kau akan benar-benar mati saat itu juga.
Peperangan di adakan ketika purnama berikutnya, di lembah Leyn wilayah Nerogon.
Rowen Bosten.
Jendral terdiam sejenak setelah membaca surat itu. Wajahnya yang tegas menyiratkan kemarahan. Rahangnya dikatupkan keras.
“ Tolong ambilkan kertas dan alat tulisku “ perintah Jendral pada seorang prajurit di sebelahnya.
Setelah ia menerima kertas, pena dan tinta, Jendral mulai menulis surat balasan untuk Raja Rowen.
Kepada Raja Rowen Bosten, pengecut yang biadab.
*Aku terima tantanganmu. Tetapi aku akan meralat sedikit tentang konsekuensi tantangan ini.
Jika kau menang dalam perang ini, kau boleh mengambil bentengku dan apapun yang kau mau*,
Tetapi jika aku yang berhasil melumpuhkanmu beserta pasukanmu, maka seluruh wilayah Nerogon menjadi milikku, DAN kau harus mati di hadapanku, apapun caranya, apakah aku yang menebas lehermu, atau kau yang membunuh dirimu sendiri karena kekalahan, itu tak jadi soal, yang jelas aku akan melihatmu mati di depan mataku.
Bersiaplah dengan pasukanku yang akan membuatmu tercengang. Dan yang perlu kau tahu juga, kau tidak perlu repot memastikan aku benar-benar mati saat itu, karena aku yang akan memastikan kematianmu.
Tertanda, Raja Benua Hitam,
Luzen.
“ Nah, kirimlah ini kepada Rajamu! “ perintah Jendral pada utusan itu.
“ Oya, siapa aliansi kerajaan Nerogon? “ tanya Jendral pada utusan tersebut.
“ Yang kutahu itu kerajaan Hazmut tuan “ jawab si utusan.
Jendral senyum dengan sudut bibirnya, matanya menerawang.
“ Bagus kalau begitu!, sekali serang dua kerajaan akan kulumpuhkan sekaligus” suara Jendral agak pelan, hingga hanya Gardden dan prajurit disebelahnya yang mendengar.
Siang itu Jendral berpamitan pada Merlin, karena ia akan ke Benua Hitam untuk mengumpulkan pasukan dan merencanakan strategi untuk perang melawan Nerogon dan Hazmut.
Jendral dan rombongannya kembali mengarungi lautan lepas.
Sesampainya di dermaga Benua Hitam, Jendral disambut oleh warga yang ada di sekitar.
“ Selamat datang Yang Mulia Raja!“ semua penduduk menundukkan kepala mereka.
Jendral menoleh pada teman-temannya.
“ Sudahlah, kalian tidak perlu melakukan itu padaku..” Jendral menyuruh warga tidak terlalu berlebihan menyambutnya.
Di sepanjang jalan menuju kerajaan Kastil timur dan Gozan Selatan, Jendral mendapat sambutan yang sama dari masyarakat.
Mereka menyambut kedatangan Jendral dengan rasa hormat kepada Raja, mereka menundukkan kepalanya di hadapan Jendral.
Jalan yang dilalui Jendral beserta rombongan seolah memang sengaja di sediakan untuk jalan seorang Raja.
Masyarakat menepi ke pinggir dengan kepala tertunduk ketika Jendral melewati mereka.
Jendral justru tidak nyaman dengan penyambutan seperti itu.
Sesampainya di Kastil Timur, seluruh penghuni kastil menyambut Jendral dengan penuh penghormatan.
Jendral di persilahkan menduduki kursi singgasana yang mewah dengan lapisan bahan bludru warna merah marun yang telah tersedia di aula kastil pertemuan yang megah.
“ Gard, apa kau pikir ini semua tidak terlalu berlebihan? “ tanya Jendral pada Gardden sebelum ia menduduki kursi singgasananya.
“ Kau adalah penguasa Benua Hitam yang mulia, aku rasa tidak berlebihan “ jawab Gardden sedikit tersenyum meledek.
“ Awas saja kau otot besar! “ tambah Jendral yang terpaksa menduduki kursi Raja yang megah itu.
Beberapa orang petinggi kerajaan memasuki ruang aula, dan menghadap Jendral dengan sedikit menunduk.
“ Yang Mulia Raja Luzen, seperti kebiasaan di kerajaan-kerajaan Benua Hitam, bulan ini adalah bulan perayaan hadiah dari para penduduk, yang diadakan setahun sekali bagi Raja-Raja di kerajaan Benua Hitam.
Para penduduk akan memberikan hadiah kepada yang mulia. Harap yang mulia bersedia menerimanya” salah satu dari pria paruh baya petinggi kerajaan menjelaskan.