Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 67 - KETENANGAN DI BENTENG DRAKE


Di tanah Oleic, Benteng Drake.


Semua penduduk menyambut kehadiran Jendral dan pangeran mungil yang ikut serta di bawa ke benteng.


Wajah bayi itu hampir mirip dengan anak dari merlin, sama-sama tampan dan menggemaskan.


Para wanita di benteng berebut untuk menggendong pangerang mungil itu.


Di kamar Jendral yang sederhana…


“ Merlin, apa kau tak keberatan anakku di rawat olehmu? “ tanya Jendral sambil menggantung jubah coklatnya.


“ Kenapa harus keberatan tuan, ia juga adalah anakku..” senyuman Merlin membuat wajahnya sejuk, dan Jendral yang melihatnya seolah tersiram air dingin yang menyegarkan.


Merlin yang tengah duduk di sisi ranjang sibuk melipat pakaian bayi yang sebagiannya masih terlihat berantakan..


Jendral duduk di samping Merlin di pinggir ranjang. Pria itu menoleh kearah bayi mereka yang tengah tertidur lelap, kemudian menatap lagi kearah Merlin.


“ Merlin, terima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku,..” Jendral menatap merlin yang tengah tertunduk melipat pakaian bayi.


“ Kenapa tiba-tiba kau berkata begitu tuan? “ kali ini Merlin menoleh kearah suaminya.


“ Ah, tidak..aku hanya terlalu banyak mendapat bantuan dari dirimu , aku tak bisa membayangkan jika harus kehila-..” Merlin spontan mencium bibir suaminya.


Tangan Merlin melingkar di pundak pria disampingnya, mereka larut dalam kerinduan.


Pria itu berharap bisa lebih lama hidup dengan Merlin.


Lima bulan berlalu,


Keadaan benteng kini lebih makmur dari tahun sebelumnya. Semua bangunan telah terkontruksi dengan baik. Keadaan benteng cukup tenang akhir-akhir ini.


Di bulan itu kabar duka juga terdengar dari kerajaan Hazmut. Raja Ell telah wafat, kini kerajaan di pimpin oleh penerusnya, pangeran Zaimon.


Pangeran Zaimon telah beristri seorang wanita dari kalangan bangsawan, tetapi pernikahan mereka tidak sebahagia yang terlihat di permukaan, pangeran sama sekali tidak mencintai istrinya, ia masih menginginkan seseorang yang sampai saat ini masih mengisi hatinya, Merlin.


Di benteng Drake, Denzu melangkah cepat kearah aula benteng, ia menemui Jendral yang tengah berdiskusi dengan Gardden dan teman-temannya.


Denzu mendekatkan wajahnya kearah telinga Jendral.


“ Jendral, seorang utusan dari Nerogon menunggumu di halaman benteng “


“ Nerogon? “ alis Jendral menyeringit agak merapat.


Seketika juga ia bangkit dari duduknya dan mengajak Gardden beserta yang lain untuk menemui utusan tersebut.


Sementara itu, Merlin dan beberapa wanita akan berbelanja ke pusat kota untuk membeli kebutuhan mereka juga perlengkapan anak-anak.


Langkah Jendral dan kawan-kawannya terhenti ketika berpapasan dengan Merlin.


“ Tuan, aku akan berangkat ke pusat kota, aku ingin membeli pakaian anak-anak yang tempo hari kuceritakan padamu..” Merlin menjumpai Jendral sebelum mereka bertemu utusan di halaman Benteng.


“ Ah, apa harus sekarang? Tunggulah aku, kita pergi bersama “ Jendral menatap Merlin dengan sedikit tergesa-gesa.


“ Tapi kau banyak urusan bukan?“


“ Yah, setelah urusanku selesai kita pergi bersama “ gumam Jendral.


“ Kau tidak perlu repot menemaniku tuan, aku akan pergi bersama para bibi ( wanita yang lebih tua ) “ ujar Merlin.


“ Selain mereka, siapa lagi yang akan menjagamu.. Ah, Denzu..kau ikutlah dengan istriku “ perintah Jendral pada Denzu yang berada di sampingnya.


“ Tapi Jendral, anda menyuruhku melatih prajurit memanah siang ini bukan? “ jawab Denzu.


“ Oh baiklah. Gard, kau bisa menemani Merlin? “ tanya Jendral.


“ Bukannya aku menolak Luzen, tapi ada tiga wilayah yang kau suruh aku untuk mengunjunginya bukan?, Maafkan aku nona Merlin..aku tidak bisa menemanimu “


“ Tidak apa tuan Gard..” jawab Merlin ringan.


“ Harlmon?..kemana dia? “ Jendral seolah mencari seseorang.


“ Dia sudah berangkat dari tadi pagi buta “ Gardden menjawab.


“ Sudahlah tuan, aku di temani para bibi dan tuan Ghoose, itu sudah cukup “ Merlin bersiap untuk berangkat.


“ Haah..ya, ya..baiklah, tapi kau jangan terlalu jauh dari pusat kota, jangan terlalu lama berbelanja, jang-..” Jendral belum menyelesaikan kalimatnya.


“ Aku pergi….sampai nanti..” Merlin menggandeng wanita setengah baya yang ada di sampingnya dan berlalu meninggalkan Jendral.


Di pusat kota perbatasan Hazmut,


“ Tuan Ghosse, kau tunggulah disini, aku dan yang lain juga akan berjalan-jalan ke toko perlengkapan bayi, mungkin agak lama “ Merlin dan tiga wanita yang menemaninya meninggalkan Ghosse dengan kereta karavan mereka.


Merlin membeli pakaian bayi untuk dua bayi sekaligus. Mereka juga membeli perlengkapan untuk di dapur.


“ Minggir! Minggir! “ suara beberapa prajurit menghalau penduduk agar memberi jalan untuk kereta kuda kerajaan yang tengah lewat.


Semua yang di sana beranjak menepi ke pinggir memberi jalan, termasuk Merlin dan para bibi juga ikut menepi.


“ Siapa yang lewat bi?, mereka dari kerajaan mana? “ tanya Merlin setengah berbisik pada wanita paruh baya yang ada di sebelahnya.


“ Sepertinya itu dari kerajaan Hazmut nona, dan yang aku dengar sekarang pangeran Zaimon telah menjadi Raja, mungkin mereka ingin mengenalkan diri dengan berkeliling, mungkin juga itu istri pangeran Zaimon yang berada dalam kereta kuda“ wanita tadi menjelaskan kepada Merlin.


“ Oh, begitu rupanya..” gumam Merlin.


Ketika kereta kuda melewati Merlin, dari dalam kereta terlihat seorang wanita bangsawan dengan wajah setengah mendongak terlihat duduk di dalam kereta, di sebelah wanita itu duduk seorang pria berjubah mewah, jubah kerajaan dengan bulu disekitaran kerahnya. Ya, pria itu adalah pangeran Zaimon yang kini telah menjadi Raja menggantikan ayahnya Raja Ell yang telah wafat.


Di belakang dan di depan kereta kerajaan, beberapa pengawal mengiringinya dengan berkuda.


Salah seorang pengawal yang berkuda berjalan di belakang kereta, mendorong seorang gadis yang tengah menepi hingga si gadis terjatuh.


“ Kau kurang menepi, kepinggirlah! “ hardik si pengawal dari atas kuda kepada gadis yang sudah terjatuh tadi.


Merlin yang berdiri tak jauh dari si gadis spontan berlari dan menghampiri gadis itu, kemudian Merlin membantunya berdiri.


“ Hey! Dia sudah menepi! Apa kau tidak melihatnya! “ Merlin dengan geram balas menghardik si pengawal.


Pengawal di atas kuda melotot melihat kearah Merlin.


Iring-iringan terhenti seketika. Raja Zaimon yang ada di dalam kereta spontan menoleh kearah suara wanita yang menghardik tadi, suara yang ia kenal, tetapi ia tak bisa melihat wajah wanita di luar sana.


“ Merlin…” suara Raja Zaimon perlahan. Istri disampingnya memandangnya dengan perasaan heran.