Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 82 - PEPERANGAN DI TANAH LEYN


Pagi yang menyisakan dingin, udaranya merayap membungkus ke sisi tubuh. Matahari seolah malas menampakkan sinarnya, terhalang awan redup di depannya.


Dalam ruang kamar Jendral Luzen, Razel tertidur pulas masih dalam dekapan pria itu, tubuhnya yang putih bersih terhalang selimut sampai batas pundaknya.


Jendral mengecup kening gadis itu, kemudian pria itu menatap wajah Razel yang polos dan cantik yang sedang terlelap.


Ia bangkit perlahan tanpa ingin membangunkan Razel, kemudian ia mengambil jubah serta mantelnya keluar kamar menuju tempat bejana air.


Di luar kamar, suasana masih sedikit sepi. Ia teringat merlin istrinya. Setelah membasuh wajahnya dan membersihkan tubuh, kemudian Jendral cepat-cepat menemui istrinya di kamar anak.


Tetapi ia tidak menemukannya.


“ Tuan, apakah tuan mencari nyonya Merlin? “ tanya seorang wanita paruh baya di belakangnya.


“ Ah, ya bibi..dimana istriku? “ jawab Jendral.


“ Nyonya sedang menyiapkan makanan untuk tuan“ sahut wanita itu.


“ Ha? Apa dia sudah sembuh?“ tanpa menunggu jawaban si wanita, Jendral langsung menemui Merlin di ruang dapur.


“ Merlin? “ tanya jendral ketika melihat istrinya membawa sebuah nampan perak berisi roti, saus tomat pitersely, selai mulberry dan beberapa makanan kecil.


“ Tuan? “ Merlin setengah kaget melihat kehadiran suaminya di pintu dapur.


“ Kenapa kau kesini? Aku baru saja ingin mengantar makanan ini ke kamarmu “ ujar Merlin.


“ Merlin, kau tidak perlu melakukan ini, kau bisa menyuruh bibi untuk mengantarkan makanan. Merlin, apa kau sudah baikan, bagaimana kondisimu?” Jendral sedikit khawatir dengan kondisi istrinya.


“ Aku baik-baik saja tuan. Tidak apa tuan, aku ingin melayanimu sebagai istri, apa tidak boleh? “ sahut Merlin kembali.


“ Bukan seperti itu Merlin. Yah..baiklah, biar aku yang membawa makananku“ Jendral mengambil nampan perak berisi makanan dari tangan istrinya.


“ Tuan!..” Merlin tidak bisa menahannya ketika tangan Jendral meraih nampan dari tangan Merlin.


Akhirnya Jendral membawa makanannya sendiri, dan Merlin berjalan di sampingnya.


“ Bagaimana dengan Razel ?” tanya Merlin tiba-tiba sambil menatap wajah suaminya.


“ Ah, dia.., dia pelayan yang setia..” jawab Jendral seadanya.


“ Apa kau sudah..?, um, maksudku..” Jendral mengerti arah pembicaraan Merlin.


“ Sudahlah Merlin, tidak perlu membahas hal itu “ Jendral menatap wajah istrinya.


Merlin hanya tersenyum.


Di pintu kamar, Merlin meminta izin untuk melihat anak-anak, dan wanita itu berlalu dari hadapan Jendral.


Jendral memasuki kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya, tetapi ia tidak menemukan Razel di sana.


Padangannya mengeliling keseluruh sisi kamar. Ruangan itu telah rapih dan tertata.


Selimut tebal telah telipat dengan rapih berada di atas ranjang. Sprei yang menjadi saksi bisu atas kesetiaan Razel pada tuannya juga telah di ganti dengan yang baru.


Barang-barang yang semalam terlihat sedikit berantakan sekarang telah tertata dengan sempurna.


Suara wanita dari arah belakang Jendral menghentikan pandangannya. Kemudian ia menoleh ke belakang.


Pria itu menggeleng sambil tersenyum.


“ Makanlah dulu gadi kunai “ sahut Jendral sambil meletakkan nampan di atas meja kecil di samping ranjang.


“ Baik tuan “ sahut Razel, yang kali ini sedikit lebih ceria dan bersemangat.


Tiga hari kemudian,


Di lembah Leyn, wilayah Nerogon. Seluruh pasukan Nerogon dan Hazmut telah siap dengan delapan puluh ribu pasukan mereka. Mereka berbaris dengan membuat tiga bagian besar.


Raja Rowen Bosten dan Raja Zaimon tidak berada di medan peperangan, mereka berada di kerajaannya masing-masing. Mereka hanya mengirim beberapa orang pemberi kabar untuk memberi informasi ke kerajaan.


Tetapi pasukan Nerogon dan Hazmut sangat tercengang dan tidak menduga akan berhadapan dengan pasukan lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukan mereka.


Bisik-bisik dan sedikit ricuh membuat komandan mereka marah. Ternyata siasat Jendral sedikit berhasil, mereka berhasil membuat pasukan Nerogon dan Hazmut ketar-ketir, ketakutan sebelum berperang.


Walau wajah-wajah mereka tertutup helm besi, tetapi ketakutan mereka tidak dapat di sembunyikan.


Ya, pasukan Benteng Drake telah menyiapkan lima ratus ribu pasukan di tanah Leyn. Pasukan yang berada di depan adalah pasukan dengan penampilan yang menyeramkan.


Pasukan Fangs, pasukan Kastil Drake ( Zeron ), pasukan serigala, pasukan suku Abyee dan suku Raw, mereka ditempatkan di barisan paling depan.


Jendral menempatkan mereka di depan bukan tanpa alasan, tujuannya adalah untuk mengerutkan nyali musuh dan agar semangat musuh menjadi ciut sebelum berperang.


Jendral yang berada diatas kudanya melihat kearah dua pasukan yang beraliansi tersebut, ketika arah matanya melihat pasukan Hazmut, ia teringat pesan Merlin istrinya agar ia tidak membunuh Raja Zaimon jika mereka berhasil mengalahkan Nerogon dan Hazmut, karena Raja Zaimon pernah menolongnya ketika Merlin pertama kali bertemu dengan Eldr.


Dengan berat hati Jendral mengabulkan permintaan istrinya.


DI kediaman Raja Rowen Bosten, kerajaan Nerogon.


Seorang pemberi kabar memberi informasi pada Rajanya bahwa pasukan pimpinan Jendral Luzen memiliki pasukan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukan mereka.


“ Bagaimana mungkin pemberontak itu memiliki pasukan yang jauh lebih banyak?pasukan yang menyeramkan?!“ Raja Rowen mengepalkan tangannya dan membenturkannya ke pegangan kursi singgasananya.


“ Yang mulia, apa kita perlu mundur untuk sekarang ini? “ salah satu penasehat kerajaan yang berada di sisi kanan ruang kerajaan berbicara dengan memandang wajah Rajanya yang kaget, marah bercampur bingung.


“ Mundur katamu?! “ mata Raja tersebut membelalak marah pada penasehatnya.


“ Pasukanku tidak sepengecut dirimu penasehat!. Apapun yang terjadi, aku tidak akan mundur!. Kembalilah ke sana, dan laporkan apa yang selanjutnya terjadi! “ perintah Raja Rowen pada pemberi kabar.


Akhirnya waktu peperangan telah tiba, perangpun berkecambuk. Pasukan Drake terbagi menjadi beberapa gelombang.


Gelombang pertama menyerang bagai air bah yang mengalir di daratan. Perangpun berlangsung dengan sengit.


Hampir setengah hari peperangan berlangsung tidak seimbang, pasukan Drake masih dengan gelombang pertamanya, tetapi pasukan musuh sudah mengirim dua kali bantuan dari pasukan inti.


Peperangan yang berkecambuk seperti bukan peperangan biasa. Pasukan musuh seolah sedang mengalami mimpi buruk yang paling menakutkan, apa yang mereka lihat di hadapannya bukanlah seperti berperang dengan manusia biasa.


Mereka melihat betapa brutalnya pasukan Fangs yang berbadan tinggi besar membunuh musuh di depannya dengan sadis dan dengan kekuatan luar biasa, juga pasukan suku Abyee dengan senjata aneh mereka, belum lagi bar-barnya cara membunuh pasukan Kastil Drake (Zeron) yang membuat pasukan Hazmut dan Nerogon seolah berhadapan dengan para kanibal menakutkan. Ditambah pasukan pimpinan Leon yang sangat kuat dan sulit di taklukan.


Diatas mereka Wyen berputar-putar menunggu aba-aba dari Jendral untuk memberi api besar yang memporak porandakan pasukan musuh, walaupun Jendral belum memerintahkan padanya, tetapi Wyen tetap berada diudara berputar-putar di tengah-tengah peperangan. Begitu juga dengan Eldr yang siap menyerang dari udara.