Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 30 - ORIS SEDANG MENGANDUNG


“ Kenapa kau begitu bodoh Jendral..kau bisa memilih yang lebih baik untukmu..kau bisa serahkan tambang intan itu lalu mendapatkan banyak koin, atau kau bisa ikut aku ke kerajaanku, hidup enak disana..ayolah..kenapa kau malah memilih aku perangi?” Ratu mencoba merayu Jendral.


“ Maaf yang mulia Ratu, aku tidak akan menjual apapun padamu, dan aku tidak pernah berminat menjadi pengawal pribadimu, aku lebih suka tinggal disini dengan teman-temanku”


“ Aku sudah memberimu penawaran dengan cara baik-baik, tapi kau selalu saja menolak apa yang kuinginkan, setelah semua yang kau minta sudah kukabulkan ketika di kerajaanku, sekarang kau menolak semua permintaanku” Ratu mulai berbicara dengan nada keras.


“ Semua permintaanmu hanya untuk kesenanganmu tetapi merugikan orang lain, maaf yang mulia Ratu, menurutku kau terlalu egois “. Jendral juga mulai berbicara tegas.


Ratu bangun dari duduknya dan menghampiri Jendral. Wanita itu mendekati telinga Jendral.


“ Kenapa kau selalu sombong seperti ini Jendral?..sudah berapa kali kau menolakku dan membuatku kecewa. lihatlah bagaimana Ratu ini akan menghancurkan desamu dan semua harta karun itu akan menjadi milikku..tunggulah!…”


Kemudian saat Ratu akan beranjak keluar, Jendral langsung mengambil kasar lengan Ratu dan wanita itu berusaha melepaskannya, tapi cengkraman tangan Jendral terlalu kuat.


“ Kenapa kau mengganggu hidup kami..aku tak pernah punya masalah dengan Gozan, tapi jika kau mengancam desa kami, maka bersiaplah menerima kepahitan. Jika kerajaanmu tumbang ditanganku, maka kerajaan Gozan Timur hanya tinggal sejarah.” Jendral melepaskan tangan Ratu dengan kasar.


“ Beraninya kau!! Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa?!!”


tangan Ratu yang ingin menampar Jendral ditangkap dengan cepat.


“ Dikerajaanmu kau adalah Ratu, tapi di wilayahku kau hanya tamu yang tak tau malu!”


Jendral menatapnya dengan mata yang tegas dan tajam.


Ratu dengan cepat keluar dari ruangan, kemudian diiringi beberapa pengawal yang mengikutinya, lalu pergi dari benteng.


Jendral memukul meja dengan kesal. Lalu satu persatu teman-temannya datang dan menanyakan apa yang terjadi. Jendral memberitahu apa yang di bicarakannya tadi dengan Ratu Gozan.


Dua pekan berlalu,


Di dekat dapur di dalam benteng, Merlin membawa sebuah wadah berisi bubur gandum, irisan daging rusa panggang dan minuman hangat.


Merlin berpapasan dengan Jendral.


“ Apa itu untukku Merlin?..sepertinya enak..terimakasih..” dengan percaya dirinya Jendral hendak mengambil makanan tadi dari tangan Merlin.


“ Tidak tidak…ini bukan untukmu tuan, ini untuk Oris, sepertinya dia kurang sehat, dari kemarin dia beberapakali muntah” Merlin memalingkan makanan itu dari tangan Jendral.


“ Oris?” Jendral seperti memikirkan sesuatu.


“ Apa jangan-jangan,….” benak Jendral berfikir sesuatu yang buruk mungkin terjadi.


“ Aku akan memeriksanya..permisi tuan” Merlin melewati Jendral dan berlalu. Jendral masih merenung di tempat berdirinya.


Setelah beberapa saat kemudian Jendral menemui Merlin yang sedang berjalan menuju dapur lalu bertanya tentang kondisi Oris, wajah Merlin menyiratkan kebingungan.


“ Tuan, sepertinya Oris,..sepertinya dia akan menjadi seorang ibu…” pernyataan Merlin membuat Jendral terkejut bukan main, jantungnya serasa berhenti.


Jendral memejamkan matanya dengan kuat, lalu mengangkat kepalanya, seolah musibah telah terjadi.


“ Apa kau yakin kalau dia sedang mengandung?” tanya Jendral kembali.


“ Iya, aku yakin, tapi masalahnya, dia belum mau memberitahukan siapa ayah dari bayinya “


Jendral langsung lemas, kepalanya serasa di benturkan ke dinding, pikirannya kacau tak beraturan. ‘Apa itu adalah anakku.., bagaimana aku menjelaskannya pada Merlin’ bisik batinnya dengan keadaan galau bercampur aduk.


“ Jendral, kau tak apa-apa?..” Merlin menegur Jendral yang tengah termenung dengan kegalauannya.


“ Apa sebaiknya kita tanyakan saja pelan-pelan ke Oris siapa ayah bayi itu, agar dia bertanggung jawab “ Merlin memandang wajah Jendral.


“ Jangan!, maksudku, biar aku coba yang menanyakan padanya” Jendral langsung berlalu dan menuju tempat Oris berada.


Di kamar Oris, sebuah ketukan pintu membangunkan gadis itu dari tidurnya.


Sebelum suara bertanya ‘siapa?’ selesai, pintu kamar terbuka dan Jendral masuk dengan sedikit terburu-buru. Oris agak kaget melihat kehadiran Jendral.


“ Tuan Jendral?” Oris bangkit dari tidurnya, ia duduk di ranjangnya yang sederhana.


Jendral menghampirinya, lalu menggeser kursi kayu mendekati posisi Oris.


“ Oris, apa benar kau sedang mengandung? “ Jendral langsung bertanya tanpa basa-basi.


“ Aku..,iya tuan, sepertinya aku sedang mengandung..”


“ Apa itu..,apa bayi itu anakku?” Jendral menatap Oris serius.


“ Tuan, apa bayi ini harus lahir tanpa ayah?” Oris memandang Jendral dengan memelas.


“ Maksudmu?” Jendral mengerutkan keningnya.


“ Tuan, apa kau bersedia….” Oris masih memandang Jendral.


Jendral menyimak kata-kata oris dengan serius.


“ Apa kau bersedia..menikahiku?”


Mata Jendral spontan membulat, jantungnya serasa ditusuk puluhan belati, sesak, dan kepalanya serasa berkunang-kunang.


...**********...