
Merlin dengan perasaan geram, bingung dan panik bercampur ingin berlari menuju Jendral...tapi dari belakangnya…
“ Nona!!!, nona Merlin!!..” Denzu mencoba mengejarnya.
Merlin menoleh dan menghentikan langkahnya.
“ Tuan Denzu? Ada apa?” Tanya merlin dengan buru-buru.
“ Nona, aku ikut denganmu..sepertinya mereka aneh..” ternyata Denzu juga menyadari keanehan penduduk benteng termasuk Jendral.
“Kau menyadarinya tuan?..” Merlin akhirnya menemukan satu orang yang merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan dirinya.
“ Ya, aku tahu ada yang tidak beres dengan mereka “ Denzu ikut berjalan bersama Merlin dengan kaki yang masih nyeri.
Di depan Jendral dan wanita itu, Merlin langsung menegur mereka keras.
“ Tuan!!, apa kau sudah gila?! Kenapa dengan mudahnya kau mengizinkan wanita itu melihat tambang intan? lagipula kenapa dia masih disini, ini sudah melebihi batas waktu yang dimintanya“
“ Merlin! Kebetulan kau datang, kenapa ada Eldr di pintu tambang? Singkirkan dia Merlin!” perintah Jendral.
“ Tidak!!, aku tidak akan biarkan wanita ini masuk ke tambang!” jawab Merlin keras.
Elya berlindung di belakang Jendral, seolah dia adalah wanita polos yang sudah memikat hati jendral.
“ Tuan, apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu?!, sadarlah tuan!!, apa yang terjadi padamu?!” Merlin mencoba menyadarkan Jendral.
“ Diamlah Merlin! Cepat perintahkan Eldr itu menyingkir dari sana!” Jendral kembali memerintah Merlin,
“ Tidak akan!!, bukankah kau yang bilang kita harus hati-hati dengan wanita ini, tapi kenapa justru kau malah terpikat olehnya…sadarlah tuan, dia bukan wanita baik”
“ Hey, jangan menuduhku macam-macam!” elya ikut bersuara,
Merlin mendorong pundak Elya…
“ Siapa kau! Apa yang kau perbuat pada Tuan Luzen dan kawan-kawanku?!” Merlin tambah geram.
“ Merlin! Apa yang kau lakukan?!” Jendral memandang tajam merlin.
“ Tuan Luzen!, sadarlah tuan, kau mungkin telah di sihir oleh wan-..”
PAAKK!!!....” DIAM KAU!!! “
Tamparan keras dari Jendral mendarat di pipi Merlin, serta merta Merlin membelalakan matanya sambil memegang pipinya, dan seketika itu mata Merlin berubah merah, taringnya mulai tumbuh.
Dari samping Merlin, Denzu yang sudah tidak tahan melihat kelakuan Jendral, tiba-tiba dengan cepat mendaratkan pukulan telak ke wajah Jendral.
Jendral yang tidak siap dengan pukulan itu jatuh ke tanah, tapi ia cepat-cepat bangun dan memukul Denzu di rahangnya.
Para pria disana memisahkan keduanya, tapi sepertinya mereka seolah membela Jendral, dan mendorong Denzu hingga tersungkur ke tanah.
Merlin mengerang keras di depan Jendral dan wanita itu, terlihat di matanya yang merah butiran air mata menetes.
Elya yang ketakutan kembali berlindung di belakang Jendral dan memegang lengan Jendral dengan kuat.
Merlin tidak menyerang mereka, ia hanya mengerang marah, memperlihatkan gigi runcingnya, lalu ia membantu Denzu yang sudah mulai berdiri, lalu Merlin terbang di udara meninggalkan mereka dengan membawa kecewa yang dalam.
Merlin mendarat di halaman benteng dengan lelehan air mata. Ia cepat-cepat berlari kearah kamarnya, dengan perubahan menjadi seperti sedia kala.
Gadis itu menangis di ranjangnya yang mungil, dia duduk dengan menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan.
Tiba-tiba ketukan pintu kamarnya membuyarkan kesenduannya.
“ Siapa?” dengan nada lirih dan masih terisak oleh tangisan, Merlin mencoba bertanya.
“ Aku Denzu nona..” suara di balik pintu kamar Merlin.
“ Aku ingin bicara sesuatu padamu, aku menunggu diluar saja..” ketika Denzu ingin berbalik badan, pintu kamar Merlin terbuka.
“ Apa yang mau dibicarakan tuan?” Merlin mengusap air matanya yang masih saja mengalir.
“ Nona, tolong jangan salahkan Jendral, dia hanya terpengaruh sihir..” Denzu mencoba menjelaskan.
“ Sihir?!” Merlin tampak bingung.
“ Mari ikut aku..” Denzu langsung menarik lengan Merlin.
Denzu membawa Merlin ke atas benteng, dia melihat sekelilingnya seolah khawatir ada yang mendengar.
“ Nona, aku rasa mereka semua terkena sihir, termasuk Jendral..” Denzu memberi kabar yang membuat Merlin terkejut.
“ Benarkah?!” wajah Merlin terlihat bingung.
“ Iya, dan aku yakin sekali wanita dan saudaranya itu adalah penyihir “
“ Tapi bagaimana kau tahu kalau mereka penyihir?”
“ Nenekku adalah seorang penyihir, dia memberitahu padaku ciri-ciri penyihir dan orang yang terkena sihir…Nah, apa kau lihat di atas sana?..dan sana?..” Denzu menunjuk ke udara, tetapi Merlin tidak melihat apapun disana, hanya awan putih dan pepohonan di bawahnya.
“ Ada apa disana? Aku tak melihat apapun?” Merlin yang masih mencari-cari sesuatu yang aneh di depannya, memincingkan matanya perlahan.
“ Perhatikanlah nona, disana ada seperti bulatan berwarna ungu tipis..” Denzu menunjuk lagi ke udara.
“ Ahhh!!! Ya..aku melihatnya..iya itu seperti ada gelembung tipis besar mengeliling di benteng..”
“ Yah, itu adalah lingkaran sihir untuk seluruh penghuni benteng, semua akan terpengaruh oleh sihir wanita itu” Denzu menjelaskan.
“ Tapi, aku..dan kau? Kenapa tidak terpengaruh sihir itu?” Merlin bertanya serius.
“ Karena dari kecil aku telah di beri penangkal sihir oleh nenekku, sedangkan kau nona, kau adalah seorang Eldr. Eldr tidak akan mempan dengan sihir apapun”.
“ Begitu rupanya..” Merlin yang masih mengangguk tampak terkesima dengan penjelasan Denzu.
“ Jadi, apa yang harus kita lakukan?” Merlin menatap Denzu serius.
“ Pertama kita harus menangkap wanita itu dan saudaranya, tapi kita tidak bisa melakukannya sendiri, kita harus mendapat bantuan dari kastil, tuan Dumor dan pasukannya harus datang kesini secepatnya”
“ Baik, aku akan menyuruh Eldr untuk memberi kabar pada tuan Dumor, lalu apa selanjutnya?” Tanya Merlin kembali.
“ Yang kedua, kita harus mencari pemecah sihir dan mengembalikan mereka seperti semula” Denzu dengan serius menjelaskan lagi.
“ Dimana kita bisa mendapatkan pemecah sihir?” Tanya Merlin.
“ Nah, itulah yang aku tidak tahu..karena nenekku tidak pernah memberitahuku tentang hal itu dan dia sudah terlanjur wafat, jadi kita harus temukan penyihir yang masih ada sekarang dan bertanya padanya”
“ Penyihir…, ah ya! Aku tahu dimana menemukan penyihir..” Merlin langsung teringat penyihir tua yang ditemuinya di Gunung Selatan, tempat para Eldr.
“ Oya tuan, bagaimana kalau aku yang menyerang wanita penyihir itu, sekarang aku bisa berubah menjadi Demon Eldr sesuai kehendakku “
“ Jangan nona!, itu juga beresiko, jika kau menyerang penyihir itu, maka Jendral yang masih dikuasai sihir bisa marah padamu dan rasa benci seseorang yang dibawah kendali sihir akan semakin kuat dan sulit di tangkal, atau bisa jadi pengaruh sihir Jendral tidak bisa hilang jika kau membunuh penyihir itu, karena yang aku lihat, sihir yang diberikan kepada Jendral sedikit berbeda dengan sihir yang diberikan kepada yang lain”
“ Maksudmu?”
“ Jendral seperti menuruti semua yang dikatakan wanita itu, dan sepertinya Jendral juga menjadi suka dengan wanita itu karena pengaruh sihir yang lebih kuat”
“ Tidak bisa kubiarkan!” Merlin terlihat geram dan memalingkan wajahnya dari Denzu.
Akhirnya Merlin dan Denzu merencanakan keberangkatan ke Gunung Selatan setelah menunggu kedatangan Dumor dan pasukannya.
*********