Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 78 - SENJATA BARU


“ Ha?..apa kau mau membunuh seseorang?, atau…kau ingin menjadi pengkhianat? “ wajah pria itu tiba-tiba maju mendekat kerah Razel.


“ Aaah, bukan..bukan, bukan seperti itu, aku tidak ingin membunuh siapapun, apalagi menjadi pengkhianat, aku hanya ingin melatih kemampuanku…”


“ Kemampuan?...ya baiklah, senjata apa yang kau inginkan?, pedang? Tombak? Kapak? Pisau belati?..” tanya si pria.


“ Bukan, bukan seperti itu, aku ingin kau membuatkan ‘Kunai’ untukku, bisakah paman?”


“ Kunai?” aku pernah mendengarnya, tapi aku lupa bentuknya seperti apa? “


“ Itu semacam ujung tombak, dia lancip dan kuat bisa untuk memanjat, untuk dilempar dan bi-..”


“ Ahhh! Ya, aku ingat sekarang!, tetapi sepertinya senjata semacam itu jarang ada di wilayah ini, dari mana kau tahu senjata macam itu nona? “


“ Ya memang di wilayah ini dan wilayah Benua Hitam jarang sekali ditemukan senjata seperti itu, aku berkeliling mencarinya tapi tak menemukannya sampai sekarang. Waktu umurku dua belas tahun, aku pergi bersama ayah ke wilayah di sebrang lautan, aku tidak tahu nama tempat itu, tetapi orang-orang disana banyak yang menggunakan senjata itu. Aku diajarkan cara menggunakannya sampai aku benar-benar bisa menggunakannya, dan aku ingin melatih kemampuanku dengan senjata itu “ jelas Razel kepada pria berbadan besar.


“ Ah berarti kau bisa menggunakannya?..itu bagus nona!, karena disini senjata semacam itu sangat langka. Baiklah! Aku akan membuatkannya untukmu “ pria penempa pedang itu terlihat semangat.


“ Tapi ada syaratnya..” tambah si pria.


“ Ha? Apa syaratnya paman? “


“ Kau harus menciumku dulu..”


“ Hah?!,..tidak! tidak mau! “ sahut Razel sedikit geram.


“ Hahahahaa…, tenang nona, aku hanya bercanda..” pria itu mengelus kasar rambut hitam Razel.


“ Baiklah, aku akan membuatkan senjata itu untukmu, sampai nanti!“ pria berbadan besar itu kemudian berbalik dan berlalu keluar lumbung.


“ Terimakasih banyak paman! “ Razel sedikit meninggikan suaranya ketika pria itu berada di bibir pintu, pria itu tidak menoleh atau membalikan badannya, ia hanya melambai tanda bahwa ucapan terimakasih Razel di iyakan.


Tiga hari berlalu. Malam yang dingin mulai merayap, karena musim dingin telah merebak di sekitaran wilayah Oleic.


Jendral yang masih terjaga di ranjang kamarnya, melihat istrinya yang sudah terlelap tidur. Pria itu menggoyangkan perlahan pundak Merlin.


“ Merlin,..Merlin, apa kau sudah terlelap?..apa bisa kita melakuk-..” suara pelan Jendral terputus.


“ Ah…ya, sela-mat ti-dur tuan..” dengan setengah sadar dari kantuknya, Merlin menarik selimutnya sebatas pundak dan berbalik badan membelakangi Jendral, kemudian wanita itu kembali terlelap.


Jendral hanya pasrah dengan keletihan istrinya. Ia diam memandangi punggung istrinya. Kemudian beranjak dari ranjang, dan mengambil mantelnya. Ia keluar dari kamar itu.


Jendral yang sendirian pergi ke atas benteng, ia merapatkan mantelnya karena dingin yang meresap berhamburan serasa sampai ke tulang, ia melihat rumah-rumah yang terhampar di bawahnya, semua sepi, semua tengah terlelap..


Seketika Jendral memincingkan matanya, ia menangkap sebuah pergerakan di luar benteng. Sepertinya seseorang sedang berada di dekat pepohonan dekat dengan benteng.


‘ Penyusup...’ gumam Jendral.


Pria itu langsung bergegas ke kamarnya dan mengambil pedangnya. Ia berjalan sangat cepat menuju gerbang benteng.


Sang penjaga gerbang yang bertugas jaga malam, bertanya kepada Jendral apa yang terjadi dan terlihat khawatir, ia ingin ikut bersamanya, tetapi Jendral memerintahkan agar penjaga gerbang tetap di tempatnya.


Jendral dengan perlahan melihat keadaan yang gelap, tetapi samar-samar masih bisa terlihat.


Mata Jendral membulat dan semua indranya di fokuskan dengan baik, ketika ia melihat sesosok dengan pakaian serba hitam, juga penutup wajah hitam sedang melayangkan senjatanya kearah pepohonan.


Dengan cepat dan langkah yang tak terdengar, Jendral berhasil mendekati si penyusup dari arah belakangnya.


Dengan sigap pedang Jendral telah menempel di leher penyusup berpakaian hitam itu, seketika itu juga orang itu berhenti bergerak, ia mematung ditempatnya membelakangi Jendral.


“ Sedang apa kau di wilayahku, penyusup? “ tanya Jendral dengan suara beratnya.


“ Akh,…aku bukan penyusup tuan, aku, aku Razel..” Jendral serta merta terkejut dan mulutnya terbuka karena kaget.


“ Hah? Razel?! Sedang apa kau disini? “ pedang yang mengancam di leher Razel yang membuatnya kaku tak berkutik, diturunkan Jendral dengan segera.


Jendral memegang pundaknya dan membalik badan orang berpakaian hitam yang ternyata adalah Razel.


Kini Razel berada tepat di depan Jendral.


“ Kenapa malam-malam begini kau berada di luar sini?! “ lagi-lagi Jendral melempar pertanyaan.


Dengan tidak sabar dan perasaan sedikit geram, Jendral membuka penutup wajah Razel, dan akhirnya wajah cantik Razel tersibak di depan pria itu. Rambutnya sedikit berantakan tergerai di wajahnya.


“ Maaf tuan, aku hanya berlatih dan mencoba senjata baruku..” sahut Razel sedikit takut.


“ Berlatih apa? senjata baru apa?..kau benar-benar membuatku terkejut tadi! “ suara Jendral masih terdengar geram.


“ Maafkan aku tuan, aku benar-benar minta maaf..” kali ini wajah Razel menunduk tetapi mata hitamnya yang indah melirik keatas kearah wajah Jendral.


Jendral menghela nafas panjang dan menurunkan bahunya. Pria itu melirik ke telapak tangan Razel, ia megambil tangan Razel yang sedang menggenggam Kunai.


“ Senjata apa ini? “ tanya jendral melihat benda di genggaman.


“ Ini kunai tuan “ jawab Razel dengan wajah sedikit berubah ceria.


“ Kunai? aku baru melihatnya. Bagaimana menggunakannya? “ Jendral mengerutkan dahi.


“ Ini bisa di lempar, atau digunakan utuk memanjat tuan “


“ Kau bisa menggunakannya? “ tanya Jendral kembali.


“ Aku dulu mahir menggunakannya tuan, tetapi sekaang aku harus belajar lagi, karena itu aku keluar mal-… “ ujar Razel sedikit semangat, tetapi kalimatnya terhenti ketika Ia melihat tuannya menatapnya terus menerus tanpa berkedip.


Jendral menatap wajah Razel degan tatapan yang mulai aneh. Pria itu menatapnya agak lama, seolah penuh hasrat, hingga membuat Razel salah tingkah dan kembali menyurutkan senyumnya.


Gadis itu kembali menunduk tak berani menatap tuannya yang sedang menatap dirinya, Razel menggigit bibirnya karena kikuk, tetapi justru Jendral malah tertarik dengan tingkah kikuk gadis di depannya itu.


Telapak tangan Jendral perlahan menyentuh pipi Razel di kegelapan malam.



Ini adalah senjata kunai bagi yang belum tahu.