
Pelantikan untuk LORD Luzen di adakan di Kastil Gozan Selatan. Seluruh para Raja yang hadir memberikan selamat untuk pencapaian Jendral yang kini telah resmi menjadi LORD, penguasa tertinggi dan pemegang otoritas kedaulatan di atas para Raja di kedua benua.
Panggilan yang mereka sepakati untuk memanggil Jendral adalah ‘ Paduka yang mulia ‘, tetapi Jendral sedikit keberatan dengan panggilan itu yang menurutnya terlalu berlebihan, ia lebih suka di panggil tuan atau Jendral.
Akhirnya gelar LORD di sandang Jendral, satu-satunya gelar yang baru ada di kedua benua tersebut.
Raja-raja yang berada di bawah kedaulatannya tidak ada satupun yang menentang semua kebijakan baru yang di keluarkan Jendral, karena kebijakan baru tersebut merupakan impian rakyat yang selama ini belum mereka dapatkan dari Raja-raja yang ada.
Jendral menghapus perbudakan, membebaskan seluruh budak yang ada di pasar budak.
Dia juga menetapkan pajak yang sangat ringan yang tidak memberatkan rakyat, menyalurkan bantuan ke seluruh pelosok yang kekurangan, membangun sarana untuk desa-desa yang masih tergolong miskin, juga memberi kebebasan kepada ras selain manusia untuk di hormati dan menghukum bagi siapapun yang mengucilkan, menyiksa bahkan memburu ras campuran atau ras selain manusia.
Rakyat di belahan dua benua tersebut sangat mendukung kebijakan baru LORD mereka, dan mereka sangat mencintai Jendral ketimbang Raja-raja mereka.
Tiga tahun berlalu,…
Musim semi yang indah mengiringi bulan itu di wilayah Oleic.
Benteng Drake kini telah memiliki pasukan elitnya dengan kemampuan yang berbeda-beda.
Seperti ‘Pasukan Elit Berkuda’, pimpinan Gardden, dengan kekuatan tempur, kemahiran berpedang dan ketangkasan berkuda diatas pasukan yang lain.
Ada pula ‘Pasukan Elit Pemanah’, pimpinan Denzu, pasukan pemanah yang dapat memanah dari atas kuda, dan tingkat keakuratan panah yang sangat tinggi.
Lalu ‘Pasukan Elit Garda Depan’, dengan Leon sebagai pemimpinnya. Dengan kekuatan fisik yang dimiliki pasukan elit ini, mereka di latih untuk menjadi pasukan tameng terdepan untuk menghalau musuh, termasuk di dalamnya pasukan Fangs dan pasukan pecahan Zeron.
Kemudian ‘Pasukan Elit Kunai’, pasukan elit yang telah di latih oleh Razel untuk menggunakan kunai sebagai senjata andalannya. Razel telah berlatih selama delapan bulan di berbagai tempat untuk menguasai kunai sebelum melatih pasukannya.
Di suatu tempat yang damai….
Masih di sekitaran wilayah benteng Drake, di tepi danau yang sejuk, Merlin dan Jendral tengah menikmati kedamaian tahun-tahun yang mereka lewati.
Tanpa peperangan, tanpa perbudakan, tanpa pajak yang mencekik, dan sejumlah kebijakan yang telah diubah menjadi lebih baik oleh kekuasaan yang ada di genggaman Jendral Luzen yang kini telah menjadi LORD, pemegang kekuasaan tertinggi di wilayah Benua Oleic dan benua Hitam.
Merlin yang duduk di tepi danau menjulurkan kedua kakinya yang digunakan untuk sandaran bantalan kepala suaminya. Jendral yang tiduran di pangkuan istrinya berbincang santai sambil menggigit batang tumbuhan anai-anai.
“ Merlin, jika suatu hari kita memiliki anak lagi, aku menginginkan seorang putri yang cantik, rambutnya perak, bermata biru sebiru langit,..persis seperti ibunya “ hayal Jendral di pangkuan Merlin.
“ Kalau aku justru ingin memiliki anak laki-laki yang banyak, agar bisa memimpin banyak kerajaan..” ujar Merlin pada suaminya.
“ Tapi kita sudah memiliki dua pemimpin yang gagah bukan?” sahut Jendral.
“ Ya, tapi ak-. Ha? Eldr ada kabar apa kira-kira? “ seolah instingnya berbicara, Merlin langsung menoleh ke kebelakangnya.
“ Ada apa Merlin? “ belum lagi Jendral mendapat jawaban..
Sesosok Eldr terbang dari ketinggian menuju kearah mereka, dan dengan sekejap mendarat dan berlutut memberi hormat di depan Merlin dan Jendral.
Jendral spontan bangkit dari rebahannya di pangkuan Merlin.
“ Ada berita apa? “ tanya Jendral dengan suara berat.
Jendral dan Merlin saling melempar pandang. Jendral mengerutkan keningnya.
“ Siapa kira-kira mereka?. Apa mereka dari Benua Hitam? “ tanya Jendral pada Eldr yang masih berlutut.
“ Sepertinya bukan tuan, kami belum pernah melihatnya“ jawab Eldr.
“ Baiklah, terimakasih, kau boleh kembali “ setelah mengangguk, Eldr tersebut mengepakkan sayapnya dan terbang kembali ke udara.
“ Merlin, aku harus secepatnya kesana, aku harus ke Hazmut sekarang juga “ tukas Jendral.
“ Aku ikut denganmu tuan “ Merlin menatap wajah suaminya.
“ Jangan, kau tetaplah berada di benteng “ Jendral mengelus rambut perak milik Merlin.
“ Tapi bukankah kau bisa menutus tuan Gardden atau yang lain untuk menemui mereka? “
“ Tidak apa Merlin, aku sedang tidak ada kesibukan hari ini, apa salahnya aku yang melihat langsung keadaan disana, dan siapa mereka “
Akhirnya Jendral dan beberapa pasukannya berangkat menuju Hazmut. Ternyata benar, di dekat jalan menuju dermaga telah ramai dan ricuh para penduduk yang berlarian menghindari kedatangan tamu tak diundang itu.
“ HOY! Ada paduka tuan LORD! “ teriak salah satu prajurit Hazmut yang berada di sana.
“ Beri jalan!!” teriaknya lagi.
Spontan seluruh penduduk disana menyingkir memberi jalan untuk Jendral dan rombongannya. Mereka menunduk di sisi pinggir memberi hormat.
Jendral terburu-buru menuju dermaga. Jendral dan beberapa pasukannya memacu kudanya agak kencang kearah laut.
“ Itu mereka “ ujar Gardden di samping Jendral.
Kuda-kuda rombongan Jendral berhenti perlahan ketika melihat kapal-kapal tak di kenal singgah dan di tambatkan di dermaga Hazmut.
“ Gardden, Leon, temui mereka, tanya apa maunya “ perintah Jendral.
Setelah keduanya mengangguk, Gardden dan Leon langsung melajukan kudanya kearah orang-orang yang tengah berdiri di sekitaran dermaga.
Penampilan mereka mirip perompak, dengan peralatan perang yang lengkap, pedang, tameng, kapak terlihat menghiasi penampilan mereka.
Rambut mereka berwarna kuning keemasan, dengan janggut tebal dengan warna yang sama.
Gardeen menghampiri salah satunya yang tengah siap berdiri dengan menggenggam ujung pedangnya.
“ Hey! Dimana pemimpin kalian?! ” tanya Gardden yang masih berada di atas kudanya.
Kemudian seorang pria yang terlihat lebih muda dari yang lain, berbadan tegap, dengan penampilan yang sederhana maju kearah Gardden.
“ Aku pemimpinnya tuan! “ jawabnya dengan suara yang berat