
Setelah bercengkrama dengan teman-temanya, Jendral dan Gardden saling merangkul, mereka menyemangati satu sama lain, lalu berpisah ke ruangan masing-masing.
Jendral diantar dayang istana menuju sebuah kamar, mempersilahkannya memasuki sebuah kamar mewah, dengan karpet biru keemasan, dan ranjang besar megah dengan kelambu tipis yang mengeliling.
“ Putri? “ Jendral yang masih memakai jubah kerajaan menghampiri putri yang sudah berganti pakaian.
Di balik kelambu, di atas ranjang, tengah berbaring dengan posisi miring, sesosok wanita cantik dengan rambut tergerai, pakaian tipis yang mengundang hasrat dan dandanan yang sempurna mempesona.
Wanita itu tersenyum pada Jendral yang baru saja memasuki kamarnya.
“ Panggil aku Charlotte, suamiku..” suaranya merdu merayu.
Langkah pria itu berhenti di depan ranjang tanpa membuka kelambu tipis yang membentang.
“ Charlotte, maafkan aku…, beri aku waktu sebentar… “ Jendral dengan suara lirih menunduk, lalu berbalik badan hendak keluar kamar.
“ Suamiku!,..ada apa?! “ suara Charlotte tidak di hiraukan oleh Jendral, pintu kamar telah tertutup, pria itu meninggalkan Charlotte sendiri di kamarnya.
Jendral menemui Gardden di ruangannya. Teman-teman yang lain sebagian sudah tertidur.
“ Gard, kau belum tidur? “ sahut Jendral melihat sahabatnya yang sedang membersihkan pedangnya.
“ Luzen?!, bukankah seharusnya kau? “ Gardden sempat terkejut dengan kehadiran Jendral dimalam yang seharusnya ia bersama istri barunya.
“ Entahlah Gard, aku seperti belum bisa menyentuh siapapun, kecuali Merlin..” Jendral duduk di samping Gardden.
“ Sudahlah Luzen, temui putri Charlotte, dia akan sangat kecewa. Kau bisa menikahi Merlin setelah kita pulang nanti bukan? ”
“ Ya, tapi aku merasa,-“
“ Hey, yang mulia!, bersikaplah seperti seorang Raja..” Gardden mengepalkan tangannya ke pundak Jendral.
“ Akh, jangan meledekku Gard..”
“ Sudah sana, temani istrimu!, nanti dia terlanjur tidur, dasar bodoh! Cepat keluar sana!“ Gardden mendorong tubuh Jendral hingga menjauh darinya.
“ Ya, ya..aku keluar…dasar otot besar! “ Jendral melangkah keluar sambil menggerutu.
Jendral kembali lagi ke kamarnya, ia membuka pintu kamar degan perlahan. Pria itu melihat Charlotte yang masih terbaring di atas ranjang dengan mata tertutup, perlahan ia menyibak kelambu tipis dengan jemarinya.
“ Charlotte..” suaranya pelan.
Wanita itu membuka matanya dan tersenyum.
“ Apa kau mau disana terus suamiku? Kemarilah..” sahut Charlotte dengan suara menggoda.
Malam semakin pekat…Hening dan tenang suasana di kerajaan itu, tapi tidak setenang hati terdalam Jendral Luzen.
Dua hari berlalu…
Pagi menyibak, menghantarkan udara sedikit dingin dan sejuk.
Di atas ranjang mewahnya, putri Charlotte dan Jendral sama-sama terdiam.
“ Apa harus secepat itu kau pergi suamiku? “ Charlotte yang berada disamping Jendral menatap wajah pria gagah itu dengan melas.
“ Yah, aku sudah berjanji akan kembali kesana. Aku akan kesini lagi secepatnya Charlotte “
“ Maaf aku tidak bisa mengikutimu ke benua Oleic, aku harus menjaga ayah “ sahut putri cantik itu dengan rambut yang tergerai.
“ Ya aku mengerti, maaf aku harus meninggalkanmu sementara waktu, em..aku rasa aku harus bersiap sekarang “ Jendral masih agak canggung menghadapi seorang putri cantik kerajaan, yang sekarang adalah istrinya.
“ Tunggu! “ Charlotte menggenggam lengan Jendral yang akan turun dari ranjang.
“ Ada apa? “ pria itu menoleh.
“ Sebenarnya aku masih ingin bersamamu..” pinta wanita itu manja.
“ Yah, maafkan aku Charlotte, tapi aku harus bersiap sekarang, teman-temanku mungkin sudah menung-…“
Dengan agak sedikit meloncat, Charlotte dengan tiba-tiba memeluk erat Jendral yang sudah berdiri di sisi ranjang.
“ Ehh..” Jendral agak tersentak tidak siap menerima pelukan istrinya itu.
“ Kau sangat gagah suamiku…aku akan merindukanmu..” tangan wanita itu sudah melingkar di leher Jendral dan kepalanya berada dipundak pria itu.
“ Aaah, ya..baiklah..Charlotte, tolong lepaskan dulu pelukanmu..” pinta Jendral.
“ Tidak mau! “ sahut wanita itu semakin manja.
Jendral menghela nafas.
“ Apa kau mau cepat-cepat bertemu kekasihmu itu?“ Charlotte langsung melepaskan pelukannya, dan wajahnya spontan berubah.
“ Hmm, sudahlah, maaf aku pergi dulu..” Jendral mengusap kepala Charlotte, ia mengambil jubah hitamnya, lalu meninggalkan ruangan itu.
Charlotte yang masih duduk dengan kaki melipat ditindih tubuhnya melihat kerah pintu yang sudah tertutup. Baru saja Ia merasakan kehangatan cinta pada suaminya tapi harus ditinggalkan hari itu.
Jendral dan teman-temannya meminta izin kepada Ayahanda putri Charlotte untuk bisa kembali ke Oleic hari itu, dan mantan Raja itu mengizinkannya.
Setelah semua keluar ruangan, Jendral dan orang tua itu berbincang sebentar.
“ Anakku, kembalilah kesini jika urusanmu telah selesai “ Ayah Charlotte yang masih terbaring di ranjang kamarnya memegang tangan Jendral.
“ Baik, em ayah.. “ ujar Jendral seolah masih canggung dengan sebutan ayah.
“ Jagalah anakku sebaik-baiknya, cepatlah kalian mempunyai keturunan, karena bisa jadi akan banyak musuh yang iri pada kedudukanmu, maka sebelum sesuatu yang buruk terjadi, kalian harus memiliki penerus kerajaan ini “
“ Dan kau harus tahu satu hal lagi Luzen anakku, sebenarnya aku masih memiliki anak laki-laki dari istriku yang kedua, tetapi dia sudah tidak lagi ku anggap anak, karena kelakuannya yang bejat dan tidak pantas untuk menjadi seorang Raja, dia telah kuusir dari kerajaan ini“
“ Kau memiliki anak laki-laki? ” Tanya Jendral terheran-heran.
“ Ya, tapi namanya telah kuhapus dari keluarga kerajaan, dia juga tidak memiliki hak waris dan hak tinggal di kerajaan, karena kelakuannya yang sangat buruk. Aku sudah menuliskan sebuah keputusan beberapa tahun yang lalu, semua petinggi dan penasehat kerajaan juga sudah mengetahuinya, kalau dia tidak bisa mewarisi tahta kerajaan ini “
“ Bukankah seharusnya dia yang lebih berhak menjadi Raja di kerajaan ini? “
“ Dia tidak berhak!!” Ayah Charlotte batuk-batuk dan memegang dadanya.
Jendral langsung mendekatinya dan memegang punggungnya.
“ Apa kau tidak apa-apa?”
“ Yah, aku hanya kesal setiap kali mengingatnya…” ayah Charlotte sudah mulai tenang.
“ Kau tahu Luzen, dialah yang beberapa kali mencoba membunuhku untuk mengusai kerajaan ini…dia juga pernah mencoba mengganggu Charlotte, gadis itu tetap adiknya walaupun berbeda ibu, tapi dengan nafsu binatangnya..dia mencoba menjadikan Charlotte sebagai pemuas nafsunya, beruntungnya para pasukan kerajaan cepat menangkapnya dan membawanya ke hadapanku, hingga Charlotte putriku selamat dari kebiadabannya “ mata orang tua itu hampir memerah.
“ Begitu rupanya…dimana dia sekarang?” Tanya Jendral.
“ Aku tak pernah tahu, dan kuharap dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Jika dia masih ada, aku khawatir dia akan menjadi gangguan untukmu“ orang tua di hadapan Jendral itu seolah geram dengan seseorang diingatannya itu.
" Jangan terlalu khawatir, semoga itu tak terjadi.." Jendral mencoba menenangkan ayah mertuanya.
“ yah, baiklah anakku, pergilah ke tempatmu, tapi jangan lupa untuk kembali ke kerajaanmu ini, semua menunggumu disini “ pesan sang ayah mertua pada Jendral.
“ Baik, aku pamit…” Jendral menunduk memberi hormat pada ayah mertuanya, kemudian ia keluar kamar.
Akhirnya Jendral, kawan-kawannya, juga pasukan Fangs yang sudah menunggu, mereka berangkat menuju dermaga kemudian menaiki kapal besar yang akan dikemudikan oleh Ziggo.
“ Yang mulia, bagaimana istrimu? Tanya Gardden di samping Jendral yang sedang melamun.
“ Akh, jangan panggil aku dengan sebutan itu bodoh!, aku lebih suka panggilan biasa. Gard, bagaimana aku harus menjelaskan pada Merlin tentang Charlotte..” Jendral menatap lautan yang luas di hadapannya.
“ Semua sudah ku atur Luzen, kami semua akan membantumu meyakinkan Merlin..” Gardden merangkul Jendral, walaupun Jendral tak mengerti tapi ia tetap tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya itu.
Setelah beberapa lama di lautan yang tenang, akhirnya mereka mendarat di daratan Oleic.
Mereka langsung menuju benteng, rumah kembali mereka.
“ HOY! JENDRAL PULANG!!.” Teriakkan seseorang dari atas benteng membuat suasana benteng menjadi gaduh dan ramai.
Seluruh penduduk benteng datang meyambut kepulangan mereka, tak terkecuali Merlin.
Dari kejauhan senyuman Merlin, gadis cantik berambut perak yang tengah di sanggul ke belakang, menyisakan anak rambut di belakang lehernya yang menari terbawa tiupan angin, menambah kecantikkannya.
Teman-teman yang baru datang dari Benua Hitam, melihat kearah Jendral..menunggu apa yang kiranya akan ia katakana kepada Merlin.
Jendral melangkah kearah Merlin.
“ Merlin, kau cantik sekali…” Jemari Jendral menyentuh pipi Merlin.
Merlin hanya tersenyum sambil sedikit malu.
“ Merlin, bisa kita bicara sebentar? “ Jendral megambil tangan Merlin dan mengajaknya ke suatu tempat yang hening.
“ Eeeh, tunggu tuan, apa kau tidak ingin minum atau makan sesuatu dulu?” tubuh Merlin yang terbawa ikut dengan ajakan Jendral seolah tidak di gubris Jendral.
“ Aku tidak ingin makan, aku ingin bicara padamu..” jawab Jendral buru-buru.
Akhirnya Jendral membawa Merlin ke atas benteng, disana memang agak sepi dan lebih sejuk.
“ Merlin, dengarkan aku…kita akan menikah besok “ Jendral memegang kedua pundak Merlin dan menatapnya dengan serius.