
“ Merlin terjatuh?! “ Jendral langsung berjalan cepat menuju ruang periksa yang berada di sebelah ruang obat.
Di ruangan tersebut telah berkumpul beberapa orang, terlihat juga Denzu, Razel dan Ziggo.
Jendral langsung menemui istrinya yang sudah terbaring di dipan kayu sederhana.
“ Bagaimana keadaanya? Apa sudah memanggil tabib? “ tanya jendral sedikit panik.
“ Tabib sedang dalam perjalanan kesini Jendral “ Ziggo menjelaskan.
Merlin membuka matanya perlahan, dan ia menatap suaminya dan memaksakan tersenyum.
“ Tuan..” gumamnya lirih.
“ Merlin, kau tidak apa-apa? “ tanya Jendral yang berada di sampingnya sambil mengusap ujung keningnya.
“ Aku tidak apa-apa tuan, hanya sedikit lemas “ jawab Merlin pelan.
Akhirnya tabib datang dan memeriksa kondisi Merlin. Ternyata Merlin hanya kelelahan dan perlu beristirahat.
“ Beruntung istri anda sering mengkonsumsi herbal, jadi daya tahan tubuhnya bagus. Dia hanya perlu istirahat untuk beberapa hari “ Jelas tabib kepada Jendral.
“ Baik, terimakasih telah membantu “ sahut Jendral mengiringi tabib yang berlalu pergi.
Jendral kembali ke ruang periksa, dan menemui Merlin yang terbaring sendiri.
“ Merlin, sebaiknya kau istirahat untuk beberapa hari. Semua pekerjaan akan diserahkan pada para wanita disini. Seharusnya dari kemarin kau meyerahkan pekerjaan pada orang lain saja, kau tidak perlu mengerjakan semua sendiri “ sahut Jendral pada istrinya.
“ Sebenarnya aku banyak di bantu oleh Razel akhir-akhir ini. Tetapi memang aku sedang tidak enak badan, hingga kondisiku lemah tuan “
“ Oya tuan, ada yang ingin kubicarakan padamu..”
“ Merlin, kau harus banyak istirahat, bicaranya nanti saja. Aku akan menggotongmu ke kamar “
“ Tapi tuan, ini hal yang penting “Merlin menangkap tangan Jendral yang hendak akan mengangkat tubuhnya.
“ Ada masalah apa ?” pria itu mengurungkan niatnya dan menunggu Merlin berbicara.
“ Duduklah dulu tuan “ suara Merlin pelan.
Jendral menuruti kemauan istrinya, duduk di kursi kayu di samping Merlin.
“ Tuan, aku ingin memberikan hadiah untukmu sebelum kau pergi berperang “
“ Hadiah? “ tanya Jendral bingung.
“ Ya, hadiah untukmu. Aku ingin memberimu Razel sebagai budakmu, biarkan dia melayanimu tuan “
“ Ha?..tapi kenapa?! dia adalah budakmu..kenapa kau serahkan padaku? “ tanya suaminya dengan alis berkerut.
“ Karena dia lebih pantas menjadi pelayanmu tuan. Pekerjaanku sudah banyak yang membantu, dia terlalu bagus untuk bekerja di benteng sebagai pelayan yang mengerjakan pekerjaan sehari-hari “ tegas Merlin.
“ Tapi, apa dia mau menjadi pelayanku? “ tanya Jendral setelah menghela nafas.
“ Yah,baiklah,..tapi, apa kau?..maksudku..” Jendral terlihat ragu dengan pertanyaannya.
Merlin tersenyum menatap suaminya.
“ Tidak tuan, aku tidak cemburu padanya, aku yang memberikannya padamu. Dia sekarang adalah budakmu, pelayanmu, perlakukanlah dia dengan baik tuan, dan kau bebas melakukan apapun kepadanya, bahkan untuk urusan ranjang, dia adalah milikmu..kau tidak perlu menikahinya bukan? Karena dia adalah budakmu..”
Pernyataan Merlin membuat Jendral berhenti bernafas sejenak. Matanya membesar dan alisnya berkerut kembali.
“ kau jangan bercanda Merlin. Apa kau ingin mengujiku? “ tukas Jendral.
“ Tidak tuan, aku serius. Bukankah kau boleh melakukan apapun kepada budak yang telah kau beli, apa aku salah? ”
“ Ya,..iya memang benar, tapi itu..” Jendral seolah membenarkan pernyataan istrinya, tetapi bagaimana harus menyetujuinya.
“ Sudahlah tuan, tolong terima Razel sebagai hadiah dariku. Dia juga cantik, benarkan? “ Merlin seolah menggoda suaminya.
“ Bicara apa kau ini, sudahlah, ayo kubawa kau ke kamar “ ujar Jendral menyembunyikan ketertarikannya pada Razel.
Akhirnya Merlin mempertemukan Razel dan Jendral di kamarnya, karena merlin masih lemah dan terbaring di ranjang kamarnya.
“ Razel, sekarang tuan Luzen adalah tuanmu, jadilah pelayan yang setia untuknya“ ujar Merlin pada Razel yang sedari tadi menunduk karena kehadiran Jendral di sisi Merlin.
“ Baik nyonya “ jawab Razel yang masih menunduk.
“ Tuan, sekarang Razel adalah budakmu, tolong perlakukan dia dengan baik “ Merlin menoleh kearah suaminya yang duduk di tepi ranjang sambil melipat tangannya di dada.
“ Yah, kau sudah bicarakan itu kemarin..” Jendral seolah tidak suka dengan penyerahterimaan yang formal seperti itu.
“ Baiklah, aku harus ke aula lagi “ Jendral bangkit dari duduknya kemudian mencium kening istrinya, dan ketika ia melewati Razel, pria itu melirik kearahnya, tetapi Razel hanya menunduk tak berani menatap Jendral, pria gagah yang disukainya.
Setelah seharian sibuk dengan persiapan perang, dan ia baru kembali dari luar benteng, Jendral berjalan dengan jubah mengibas, ia memasuki kamarnya dengan keletihan yang menggelayut.
Ketika pintu kamar telah terbuka, pria itu setengah terkejut, karena di kamarnya ia tidak menemukan Merlin di dalamnya, melainkan Razel yang tengah berdiri menunduk dan dengan dandanan sederhana tetapi tetap mempesona.
Rambutnya tergerai indah, dengan pakaian tipis yang menggoda.
Jendral tidak dapat berkata apa-apa. ia menutup pintu kamar perlahan sambil matanya masih menatap gadis cantik itu tanpa henti.
“ Apa Merlin yang menyuruhmu, dimana dia? “ tanya Jendral sembari mendekati Razel.
“ Iya tuan, aku diminta nyonya untuk melayanimu. Sekarang nyonya berada di kamar anak “ sahut gadis berbibir mungil itu.
“ Kau bersedia, melayaniku? “ tanya Jendral yang mulai menyentuh helai rambut Razel.
“ Iya tuan, anda adalah tuanku sekarang, apapun yang tuan inginkan dan perintahkan akan kulakukan”
“ Hmm…” pria itu bergumam tampa suara.
Jendral kemudian melipat tangannya di dada. Ia memperhatikan budaknya yang berdiri di hadapannya.
“ Baik, coba kau layani aku “ kata-kata Jendral membuat Razel sedikit tersentak dan wajahnya menjadi sedikit tegang.