Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 55 - KEGALAUAN JENDRAL


“ Jika aku hanya memilih pria karena tampan, maka sangat banyak yang sudah kupilih, apa kau tahu.. pangeran dari Gozan Barat jauh lebih tampan dari sahabatmu tuan Gardden, banyak wanita yang tergila-gila padanya, tapi ketika dia datang melamarku, aku menolaknya di depan semua dewan kerajaan juga seluruh anggota kerajaan Gozan Barat, karena bukan karena ketampanan yang kuinginkan, tapi aku menginginkan seorang yang memiliki jiwa pemimpin juga berkharisma tinggi, dan itu hanya kudapati di dirimu tuan Luzen“


Jendral terdiam sejenak, dia tak tau lagi bagaimana caranya meyakinkan putri.


“ Putri Charlotte, bagaimana jika seandainya aku menikahimu tetapi aku juga menikahi wanita lain, apa kau keberatan dengan hal itu?..”


Jendral berharap jawaban putri adalah ia keberatan, sehingga rencana pernikahannya bisa dibatalkan…


“ Tidak tuan Luzen, aku tidak keberatan dengan hal itu, ayahku juga memiliki tiga istri, sebelum mereka semua wafat aku sudah terbiasa dengan hal semacam itu, dan hal itu sudah lumrah di kalangan kerajaan atau bangsawan..”


Jendral malah semakin bingung…pria itu mengusap perlahan wajahnya.


“ Tuan Luzen, apa kau tahu? Jika kau menikahiku maka kerajaan ini akan menjadi milikmu, akupun menjadi milikmu, bukankah itu suatu keuntungan besar?” gumam putri.


“ Kalaupun aku menikah denganmu, Kerajaan ini bukanlah milikku karena kaulah yang menjadi Ratunya, dan aku hanya pendampingmu…dan dari awal aku memang tidak berniat untuk menguasai kerajaan ini “


“ Kau salah tuan Luzen, siapapun yang menikahiku maka ayahku akan menyerahkan tahtanya pada suamiku, karena penerus kerajaan ini sangat diharapkan seorang laki-laki, karenanya ayah bersikeras menyuruhku untuk segera mencari calon suami agar bisa mendapatkan penerus Raja yang bisa memimpin kerajaan ini “


Jendral diam sesaat, ia memijit keningnya…


“ Baiklah, aku akan diskusikan dulu hal ini dengan yang lain..” Jendral hendak akan bangkit dari duduknya.


“ Tuan Luzen, kau adalah pemimpin, untuk apa mendiskusikannya dengan yang lain, bukankah pernikahan adalah masalah pribadimu?” putri cantik itu bangkit dari bersandarnya.


“ Tapi memang seharusnya sesuatu hal itu di diskusikan putri, keputusannya tetap di tanganku” Jendral menjawab tegas sambil berdiri.


“ Ah, tuan Luzen…” putri Charlotte juga mengikutinya berdiri.


“ Tuan Luzen, apa kau sama sekali tidak tertarik denganku?..kenapa sikapmu sepertinya dingin tidak seperti kebanyakan pria yang mencoba mendekatiku..” putri Charlotte melangkah mendekati Jendral.


“ Aku, bukan seperti itu putri, andai saja belum ada yang mengisi hatiku, pasti sikapku tidak seperti ini, aku hanya sedang dalam kebimbangan putri Charlotte, maafkan aku..aku permisi “ Jendral melangkah cepat menuju pintu dan keluar dari ruangan itu.


Di ruang yang berbeda, di taman kastil, Jendral menemui Gardden yang sedang memegang pedang pemberian Raja.


“ Gardden, ada yang ingin kubicarakan padamu..” Jendral menghampirinya dan duduk disampingnya.


Gardden tersenyum pada Jendral, dan ia menatap wajah sahabatnya yang penuh beban.


Jendral mengerutkan kening, ia menatap dalam-dalam wajah Gardden.


“ Apa maksudmu? “


“ Menikahlah dengannya Luzen, jangan pikirkan aku..”


Deg!...


Jendral terkejut dengan pernyataan Gardden, dari mana ia tahu hal ini.


“ Jadi kau sudah mengetahuinya Gard?” Tanya Jendral.


“ Yah, ambillah kesempatan ini Luzen, takdir memang memihak padamu..”


“ Gardden, dengarkan aku!, aku sama sekali tidak menginginkan ini…aku bersumpah, aku tidak membayangkannya sama sekali akan menikah dengannya, akupun tak menginginkan menjadi Raja di kerajaan ini. Aku sudah mencoba menjelaskan pada Raja dan putri bahwa aku sudah memiliki Merlin yang akan ku nikahi nanti, dan aku juga menawarkan dirimu pada putri, aku tidak pernah berharap lebih Gard, percayalah padaku! “ Jendral menjelaskan pada sahabatnya dengan nada sedikit emosi.


“ Kau tidak perlu menolaknya Luzen, kaulah yang lebih pantas untuknya..aku sama sekali tidak kecewa, justru aku mendukungmu..ambillah kesempatan ini Luzen, ini semua juga untuk kepentingan benteng kita, untuk kemajuan Drake..jadilah Raja di kerajaan ini..”


Jendral semakin bimbang dengan pernyataan sahabatnya itu.


“ Apa kau yakin aku tidak membuatmu kecewa Gard?” Tanya Jendral.


“ Aku sudah mengenalmu lama Luzen, aku tahu yang kau rasakan saat ini, akupun sadar dengan siapa diriku dan siapa putri Charlotte, aku tidak akan memaksakan bulan yang jauh di atas langit untuk kuraih, yakinlah ini semua adalah takdir baik untukmu juga untuk kita”


“ Sungguh Gard, aku lebih suka di posisimu, tidak terbebani dengan sesuatu yang berat…yang ada dipikiranku saat ini adalah, bagaimana aku menjelaskannya pada Merlin..”


“ Sudahlah Luzen, kau jalani saja dulu pernikahanmu disini dengan putri, nanti kita pikirkan bersama bagaimana caranya menyampaikan pada nona Merlin “


“ Kau memang sahabatku Gard, maafkan aku..” Jendral menundukkan kepalanya didepan Gardden.


Gardden meraih kepala Jendral, jemarinya memegang belakang kepala Jendral, jidat mereka sama-sama beradu dan menyatu, mereka sama-sama menunduk.


“ Kau tidak perlu meminta maaf, kau sahabatku yang hebat Luzen, kau membuatku bangga..”.