
"Kau tahu? Dari mana kau tahu?" Kendra meletakan gelasnya dam menatap lekat gadis di depannya.
Hara mundur sedikit sebelum menjerit "Ah!"
Sebuah benda tajam menusuk bokongnya ketika ia dengan refleks maju dan berakhir mendekap pria di depannya.
"Siapa yang menaruh jarum di situ?" Katanya penuh rasa khawatir sambil melirik ke arah jarum.
"Apa sekarang kau sengaja mencari kesempatan?" Kendra menyadarkannya dari rasa phobianya.
Ia segera tersadar di mana ia duduk dan kemana tangannya melingkar.
Dengan refleks, Hara bangkit berdiri dan menjauhi Kendra.
"Sialan! Kau yang mencari keuntungan. Kau pasti sengaja menaruh jarum di mana aku akan duduk 'kan?" Hara dengan kesal berbicara dan menyambar nasi goreng di meja lalu bejalan keluar.
Ia makan di kamarnya sebelum akhirnya tidur dengan lelap.
Saat tengah malam ia merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan kehangatan di punggungnya.
Ia merasa rakus pada rasa hangat itu dan akhirnya berbalik memeluk sumber hangat itu.
Tubuh hangat itu seperti tubuh yang memeluknya disaat kecil, ketika ia di tidurkan ibunya.
Karena pergerakan Hara, Kendra terbangun dan tersenyum melihat gadis itu memeluknya di bawah alam sadarnya.
Kendra membalas pelukan Hara dan mengeratkan lilit tangannya di sekitar tubuh mungil itu.
Mungkin karena terlalu bersemangat hingga ia tidak sengaja membuatnya terlalu mencengkram tubuh Hara hingga terlihat Hara mengerutkan keningnya dan bulu mata gadis itu bergetar.
Kendra memperhatikannya dan mengetahui kesalahannya. Ia melonggarkan pelukannya namun tak berniat menjauh dari gadis itu.
Gadis itu langsung tersadar, ia sedang memeluk sebuah tubuh?
Dengan spontan ia menarik tangannya dan duduk memandang Kendra yang sedang menatapnya juga.
Wajahnya memerah di penuhi amarah, nafasnya memburu dan terasa berat.
"Sialan kau! Bagaimana bisa kau berada di tempat tidurku?" Hara segera menjauh dan memeriksa pakaiannya. Untunglah semuanya masih dalam keadaan utuh.
Ia segera meraih bantal dan memukul pria itu "Keluar! Keluar kau! ******** sialan!" Umpatnya dengan kuat.
Namun lelaki itu bukannya menurutinya, ia malah berbalik dan membiarkan punggungnya di pukuli oleh Hara.
Bahkan teriakan Hara yang keras dan melengking berubah menjadi suara erotis di telinganya.
Ia berbalik mendorong Hara dan meletakkan tubuhnya di atas tubuh gadis itu.
Kendra menahan kedua tangan Hara di atas kepalanya hingga Hara tak punya kemampuan untuk melawan.
Hara terkesiap "Apa yang? Mmmh"
Kendra menggigit pelan bibir gadis itu sebelum melepaskannya.
"Tunggu bagianmu setelah kau berumur 17 tahun." Kata pria itu dan melepaskan Hara lalu meniggalkan gadis itu.
"Sialan! Itu ciuman pertamaku dan kau mendapatkannya secara paksa!" Katanya dan melemparkan sebuah bantal ke arah pintu yang tertutup.
Hara segera menggosok giginya dan berkumur berulang kali untuk menghilangkan kejijikan Kendra yang menempel di sana.
Mulai hari itu, Kendra tidak pernah pulang ke Vila. Ia hanya menjadi Nyonya rumah yang pemalas dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk tidur.
Ia tidak di-ijikan keluar dari Vila, bahkan tak ada ponsel untuknya.
Dua minggu berlalu dan keesokan harinya adalah ulang tahunnya.
Ia menyuruh Pelayan Anni untuk membuatkannya cake kecil.
Malam itu ia begadang menunggu dentangan jam 00:00.
Kurang semenit dari waktu yang ia tunggu, Hara dengan semangat menyalahkan lilin kecilnya dan menunggu dentangan jam.
Ding dong....
Hara menutup matanya dan mengatakan keinginannya.
Saat itu air matanya terjatuh karena keinginannya hanya untuk merayakan ulang tahun berikutnya bersama seseorang yang menyayanginya.
Mampukah ia menemukan orang itu?
Setelah mengucapkan keinginannya, ia mengusap air matanya dan membuka matanya.
Tapi yang ia lihat ialah sebuah kue tart besar dengan sekumpulan lilin indah yang telah di nyalakan. Ia mengangkat wajahnya dan melihat sebuah boneka doraemon besar diletakkan di depannya.