
"Maksudmu, Kendra tidak jadi menikah dengan Asyila?" Hara begitu terkejut sampai ia yang awalnya setengah duduk itu kini telah duduk tegap menatap lekat mata hitam Olan.
"Ya, mereka tidak jadi menikah, Tuan membatalkan pernikahannya 2 jam sebelum pernikahan itu dimulai, bahkan Tuan menghancurkan keluarga Asyila. Saat ini kekacauan yang besar antara keluarga Tuan dengan keluarga Asyila sudah tersebar sampai ke luar negeri."
Saat itu, Hara bagai diberi hantaman yang keras, ia sudah meragukan Kendra, bahkan tidak mau berbicara dengan pria itu dan akhirnya pria itu terluka karena nya.
Semua ini kesalahannya!
"Aku akan melihat Kendra." Ucap hara hendak turun dari tempat tidur.
"Tidak! Tidak, Nyonya, saat ini Tuan sedang tidak dapat dikunjungi." Olan dengan cepat menahan hara agar tidak turun dari tempat tidur.
"Apa maksudmu dengan tidak dapat dikunjungi?" Hara terdiam melihat Olan, mungkinkah sesuatu yang buruk terjadi pada kendra?
"Tuan sedang menjalani operasi, dokter mengatakan operasinya membutuhkan waktu yang lama."
Air mata Hara segera jatuh tak dapat di bendung mendengar kata-kata Olan. Ia kemudian terisak tampil memeluk Olan menyesali betapa bodohnya ia berpikir hingga menyebabkan kendra terluka.
"Semuanya akan baik-baik saja Nyonya," kata Olan menenangkan gadis itu sambil menepuk pelan punggung Hara.
"Ini semua salahku! Akulah yang tidak mempercayainya hingga aku berpikir bodoh dan membuatnya terluka.
"Kalau saja aku tidak pergi ke tengah jalan, kalau saja aku tidak berniat bunuh diri dan kalau saja ia tidak datang menolongku, semua ini tidak akan terjadi."
Hara bukan saja menangis biasa ia bahkan meraung seakan dunia sudah hancur dan akan meninggalkannya.
Hal itu membuat Olan merasa sangat cemas, tapi ia tidak tahu bagaimana harus menghibur gadis itu.
Sampai 15 menit kemudian Hara masih menangis sangat keras dan tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti. Saat itu pula seorang perawat memasuki ruangan Hara.
Olan memberi kode pada perawat itu supaya nampannya diletakkan saja di meja.
"Nyonya tidak boleh bersikap seperti ini, tubuh Nyonya masih lemah dan tidak memiliki energi. Sekarang tenanglah lalu makan bubur yang dibawakan perawat. Dengan begitu Nyonya memiliki tenaga untuk menunggu Tuan kembali bangun."
"Aku tidak berhak untuk makan, bahkan untuk hidup aku tidak berhak! Aku sudah meragukannya, aku sudah mencelakainya bahkan aku membuatnya berada di ruang operasi yang dingin." Ucap Hara dengan putus asa.
"Nyonya, kau tidak boleh berbicara seperti itu, Tuan tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau ia bangun dan melihat Nyonya tidak baik-baik saja."
Mendengar kata-kata Olan, Hara merasa lebih baik dan tangisannya perlahan-lahan mulai reda.
Olan melepaskan pelukannya pada wanita itu lalu memberi sapu tangan pada Hara.
Dengan patuh Hara menerima satu tangan tersebut lalu menyerah air matanya seraya menahan segukannya yang masih memuncak untuk dikeluarkan.
"Minumlah air putih ini," Olan segera menyerahkan air putih pada hara.
"Terima kasih," ucap Hara meraih gelas itu lalu perlahan meminum isinya.
"Tidak perlu berterima kasih, yang perlu Nyonya lakukan hanyalah bersikap patuh dengan menjaga diri Nyonya tetap baik-baik saja hingga Tuan sadar." Olan mendapatkan semangkuk bubur yang diletakkan perawat di atas meja lalu meletakkannya pada meja ranjang rumah sakit di depan hara.
"Nyonya harus menghabiskan bubur ini supaya Nyonya kembali mendapatkan tenaga."
Hara mengangguk kecil seraya meletakkan jelasnya lalu meraih sendok bubur yang diberikan Olan. Ia hendak menyendok bubur itu, tapi kemudian ia menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Olan. " di mana Anni?"
Olan tidak bisa menahan rasa kejutnya bahwa Hara segera menanyakan Anni juga. Apa yang harus ia jawabkan?