
Hara menuruti keinginan Kedra dengan mengikuti pria itu ke kantornya.
Ternyata apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Mereka menaiki lift khusus yang dijaga ketat dari para karyawan, apa lagi orang asing.
Hara duduk di sofa dan memainkan ponselnya sambil menikmati setoples kacang mete.
Ia bisa merasakan lirikan Kedra yang selalu berulang terjadi, tapi ia mengabikannya dan hanya fokus pada ponselnya.
Sekali-kali ia terkikik sebelum kembali diam dan tertawa pelan lagi.
Karena ia terus berada di rumah, ia telah terbiasa tidur siang pada pukul 11, sehingga ketika tiba jam 11 ia membaringkan tubuhnya di sofa hendak memejamkan matanya.
Tapi kemudian ia merasakan Kendra berdiri di dari kursinya dan berjalana ke arahnya. "Tidurlah di kamar." Kata pria itu membawa Hara ke gendongannya.
Mereka memasuki ruang tersembunyi di kantor itu, Hara dibaringkan di tempat tidur lalu sebuah kecupan besar mendarat di bibir mungilnya.
"Aku akan membangunkanmu saat jam makan siang." Ucap lelaki itu sambil menciumi seluruh wajah Hara.
"Pergi sana!" Bentak Hara membalikkan tubuhnya membelakangi Kendra.
Ia mencari posisi nyaman untuk tidur sebelum akhirnya terlelap ke alam mimpi.
Ia kembali bangun ketiak ia mendengar sebuah suara dari luar. Suara perempuan yang manja!
Ia segera melompat dari tempat tidur dan membuka sedikit pintunya. Ia bisa melihat Asyila memasuki ruangan itu.
"Suami, aku membawa makan siang untukmu." Katanya sambil tersenyum bahagia pada Kendra.
Asyila kemudian berjalan ke meja Kendra dan mengerutkan keningnya melihat tumpukan dokumen yang sedang diperiksa Kendra.
"Ayo makan dulu." Katanya bergelayut mesra di lengan Kendra.
"Siapkan makanannya." Kendra berkata tanpa menoleh ke arah Asyila.
"Baik suami." Ucap Asyila dengan manja sambil berjalan ke arah sofa dan meletakkan Tupperwarenya di atas meja kristal.
Ia menyiapkan semua makanan dengan bahagia sambil sesekali melihat ke arah Kendra yang sendang serius memperhatikan dokumennya.
"Kemarilah dan makan sebentar, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu setelah makan." Katanya melihat ke arah Kedra.
Kendra segera berdiri menuruti keinginan wanita itu dan berdiri pergi ke arah sofa.
Hara mengepal kuat melihat lelaki itu.
Lelaki sialan!
Hara mengumpat dengan kesal, ia hendak menutup pintu ketika Asyila berkata. "Kau pergi dari rumah sangat pagi, aku terbangun dan Pelayan Anni memberitahuku kalau kau berangkat sangat pagi. Mulai sekanrang aku akan bangun pagi sekali dan menyiapkan sarapan untukmu."
Asyila merasa sangat senang, senyum bahagia yang dalam terukir di wajahnya.
Hara menutup mulutnya, jadi Kendra datang pagi-pagi di villa hanya untuk membujuknya ke kantornya dan memperlihatkan pertunjukan mesra mereka?
Bagus! Bagus sekali!
Hara meledak dalam marahnya hendak membanting pintu, tapi ia baru meraih gagangnya saat kata-kata Kendra kembali lagi terulang di pikirannya. Wanita simpanan yang telah dibeli.
Ia tidak memiliki hak untuk marah! Bahkan untuk bernafas saja ia tidka memiliki hak, semua yang ia lakukan ditentukan oleh pemiliknya, pria sialan itu!
Ia berjalan dengan marah ke arah kasur dan memukul bantal sebagai pelampiasannya.
Suara Asyila yang manja menyebut suami terus terngiang di pikirannya. Ia semakin brutal menyiksa bantal itu ketika ia mengingatnya lagi.
Mereka sudah menikah!
B*jingan dan sialan itu itu telah menikah!
Hara merasakan tubuhnya bergetar, ia mengatur nafasnya dan berusaha tenang menguping pembicaraan dari lua.
"Tuan," Asisten Kendra memasuki ruangan, namun ia terkejut ketika melihat Asyila berada di sana.
Kendra memegang makanannya dan sudah akan menyuap makanan di atas sendoknya ketika ia meletakkannya kembali lalu berjalan keluar.
"Hei, kau belum makan!" Teriak Asyila memperingatkan saat Kendra tak lagi berbalik menatapnya.
"Nyonya, Tuan akan menghadiri rapat penting bersama koleganya, silahkan menunggu." Radi berbicara dengan sopan
"Rapat penting? Pada jam makan siang?" Asyila memicingkan matanya pada Radi.
"Kolega yang ditemui tuan berasal dari Dubai, mereka akan segera kembali malam ini, jadi tidak ada waktu untuk menunggu." Ucap Radi.
"Sampai jam berapa rapatnya?"
"Itu, kemungkinan sampai malam, tidak ada waktu pasti." Katanya menjawab.
Asyila berbalik dengan kesal mengabaikan asisten itu. Ia menatap semua makanan yang ia siapkan, tidak ada yang disentuh lelaki itu!
Hara berada di kamarnya dan mendengar semua itu, sekarang ia semakin kesal!
Saat itu sudah jam makan siang, dan ia juga lapar, tapi wanita itu malah merapikan makanannya dan berbaring di sofa, tak berniat untuk pergi.
Nenek sihir sialan memang pantas bersama Kakek dukun sialan itu!
Hara terus mengumpat dalam hati sambil memegangi perutnya yang kelaparan.