
Ketika Hara memikirkan nasib tragisnya, suara pintu terbuka membuatnya melompat kaget.
Sesaat berikutnya ia melototkan matanya pada pria yang datang. Lelaki itu keluar dari pintu lain di ruangan itu, Cermin yang diletakkan di dinding ternyata adalah pintu.
"Kau sudah bangun" Kendra Berjalan ke arah Hara dan memeluk wanita itu.
"Mengapa kau memegangi perutmu seperti itu?" Tanyanya.
Hara masih dalam keadaan linglung. Bagaimana bisa? Apakah Kendra meninggalkan istrinya demi dirinya?
"Ada apa denganmu?" Kendra mengetuk lembut hidung mancung Hara hingga gadis itu tersadar dari linglungnya.
"Aku lapar!" Katanya kemudian.
"Kita akan makan." Kendra melepas Hara dari pelukannya lalu keluar lewat pintu rahasia itu.
Hara kembali mengintip Asyila dan melihat gadis itu masih di sana, sedang berbaring memainkan ponselnya.
Apa yang terjadi?
"Kau sedang mengintipnya?" Kendra berkata pelan, menjaga Asyila tidak mendengarnya.
"Kau sudah kembali," Hara segera menutup rapat pintunya dan mengikuti Kendra yang berjalan ke ruangan lain di sana.
"Kalian sudah menikah?" Hara melihat Kendra dengan seksama sambil duduk di kursi meja makan.
"Tidak." Jawab pria itu sambil menyiapkan makanan mereka di atas meja.
"Tidak? Lalu aku melihat kalain seperti suami istri." Kata Hara lagi.
"Ayo makan." Kendra mengakhiri pembicaraan itu.
Hara pun diam, ia tidak ingin lagi mengatakan apa pun. Tapi ia tahu Kendra sedang berbohong, tidak mungkin Asyila berani memanggilnya suami ketika mereka belum menikah.
Mereka makan dalam diam sampai selesai. Hara mencuci mangkuk itu dan kembali ke kamar melihat Kendra sedang berbaring di tempat tidur.
"Kau tidak kembali bekerja?" Tanya Hara sambil naik ke tempat tidur dan memeluk Kendra dengan mesra.
Kendra menyambut pelukan itu dan mendekap Hara ke tubuhnya. "Nanti saja."
"Apa kau tidak mau ke sana karena Asyila?" Tanya Kendra.
"Mm."
"Bukan." Jawab pria itu lagi.
"Ck, kau bahkan tak mengakui istrimu sendiri. Aku penasaran, apakah istrimu akan menceraikanmu kalau ia tahu apa yang kita lakukan saat ini."
"Dia bukan istriku." Tegas Kendra sambil membungkam bibir Hara dengan bibirnya.
Ciuman itu menjadi liar ketika Kendra dengan cepat menyelipkan tangannya ke baik gaun Hara.
"Tunggu!" Hara ngos-ngosan menatap Kendra. "Ada Asyila di luar, kau mau membiarkannya mendengar kita?"
Kendra meraih ponsel di saku jasnya "Usir dia." Telpon itu kemudian dilempar sembarang dan Kendra kembali menunduk membungkam Hara.
...
Tubuh Hara telanjang dan Kendra masih ada di belakanganya memeluknya sambil memberi beberapa kecupan besar di punggungnya.
"Kita akan ke luar negeri lusa, aku sudah mengurus semua keperluanmu, apa kau ingin mengajak Olan?" Tanya pria itu.
Hara segera berbalik dan menatap pria itu. "Benarkah?" Hara cukup senang, ini pertama kalinya untuk 2 tahun lebih ia akan ke luar negeri.
"Apa aku perna membohongimu?" Tanya pria itu.
"Ck, tentu saja perna, kau lupa akan ulang tahun pertamaku bersama denganmu?" Hara mengingat kepolosannya saat itu.
"Aku juga tidak berbohong kali itu," ucap Kendra mengecup bibir Hara lagi.
"Terserah padamu Tuan. Jadi aku akan mengajak Olan dan juga Anni." Ucapnya melingkarkan tangannya di leher Kendra.
"Baiklah."
"Apa? Kau setuju?" Hara tidak menyangka Kendra benar-benar setuju. "Tunggu, kau juga akan mengajak Asyila?" Hara mengerutkan keningnya memikirkan wanita menjijikkan itu.
"Tidak." Ucap Kendra lagi.
"Bagus!" Hara tersenyum puas, sekarang ia yakin kalau mereka benar-benar tidak menikah.
Terima kasih dukungannya readers, dan kemungkinan (akan diusahakan jika sempat)besok tidak update ceritanya karena sebentar siang akan mengikuti seminar satu dan malam harinya ada acara natal.
Itu saja dari author. Mohon dukungannya.