
Dengan memejamkan mata dan mengepalkan tangannya, Hara menyiapkan dirinya ditabrak oleh mobil yang melaju kencang itu.
Ketika ia sudah memperkirakan mobil itu akan menabrak nya, sosok laki-laki datang menyambar tubuhnya dan mereka berguling ke pinggir jalan saling menindih hingga akhirnya mereka terbentur pada sebuah batu besar yang diletakkan sembarang di sana.
Segera darah segar mengalir di bawah aspal memantulkan cahaya matahari yang sangat terik.
Hara merasakan tubuhnya kesakitan ketika ia berusaha duduk dan disambut dengan rasa kejutnya melihat noda darah yang keluar dari tubuh Kendra.
Hara hendak membuka mulutnya untuk memanggil bantuan, tapi suaranya tercekat dan air matanya sudah mengalir deras.
Saat itu pula, orang-orang sudah mulai berkerumun dan beberapa petugas medis datang membawa tandu dan segera melakukan pertolongan pertama pada Kendra.
...
Di ruangannya, Hara sendirian menatap kosong ke dinding di depannya, ia sudah dibawa paksa kembali ke kamarnya bahkan pintu kamarnya dikunci dan dia tidak diizinkan keluar dari sana.
Tapi ia sudah tidak memikirkan bagaimana caranya untuk mengakhiri hidupnya, karena ia memikirkan pria yang menolongnya itu kemungkinan sedang terluka parah dan tak sadarkan diri.
Tapi ia memikirkannya lagi dan mendengus kesal membayangkan dirinya sedang menghawatirkan pria itu. Sementara pria itu, pernahkah pria itu memikirkan perasaannya sedikit saja?
Hara membungkus dirinya dengan selimut dan berusaha memejamkan matanya untuk memasuki alam mimpi.
Namun, saat itu masih siang hari hingga ia bahkan tidak bisa berlama-lama di bawah selimut. Hara membuka selimutnya lalu melihat seorang wanita sedang berdiri di depannya menatapnya penuh kerinduan.
"Nyonya!" Olan berteriak seraya berlari menghampiri Hara lebih dekat kemudian memeluk gadis itu.
Hara membalas pelukan wanita itu sebelum menepuk-nepuk punggungnya "Jangan menangis, semuanya baik-baik saja sekarang." Katanya menenangkan wanita itu.
"Aku sangat mengkawatirkan Nyonya." Wanita itu mengusap air matanya seraya menatap Hara.
Hara tersenyum lemah pada Olan kemudian ia memegang kedua tangan wanita itu lalu berkata "Aku sungguh baik-baik saja dan dan jangan memanggilku Nyonya, seseorang benar-benar akan marah jika mengetahuinya."
"Kenapa seseorang harus marah? Siapa yang berani marah? Selamanya Kau adalah Nyonya kami!"
"Berhentilah mengatakan itu, semuanya sudah berakhir sekarang. Bahkan Kendra pun akan memarahimu jika ia mendengarmu memanggilku seperti itu."
"Bagaimana mungkin Tuhan akan marah dia lah yang menyuruh kami memanggilnya dengan sebutan itu!" mendengus kesal lalu melanjutkan kata-katanya "Aku minta maaf, waktu itu aku tidak bisa melindungi Nyonya hingga beberapa pria itu bahkan menculik Nyonya.
"Aku bahkan tak memiliki kesempatan untuk menghubungi Tuan dan melaporkan situasinya pada Tuan, kami baru bertemu Tuan beberapa hari yang lalu. Aku juga sudah memberitahu Tuan tentang semua yang terjadi."
"Itu bukan kesalahan kalian, yang terpenting sekarang, semuanya sudah baik-baik saja." Hara menenangkan Olan yang kini sudah terisak lebih keras lagi.
"Tapi Nyonya, ini mungkin terakhir kalinya kita bisa bertemu kekacauan terjadi di ibukota mengharuskan aku dan Ani harus kembali. Kami sudah di tugaskan untuk menjaga Villa kosong milik Tuan di sebuah pulau terpencil."
"Bagaimana bisa seperti itu? Kekacauan apa yang terjadi?"
"Nyonya belum mengetahuinya? Pernikahan tuan dengan Ashilla telah dibatalkan. Dan kami mendapat hukuman karena gagal melindungi Tuan dari kekacauan yang terjadi. Semua pelayan yang melayani Tuan dan Asyila di Villa sebelumnya akan diasingkan."