Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Dibuang


Sayangnya, pengawal itu mengangkat senjatanya dan mengarahkannya kepada mereka berdua. "Minggir!" Teriak pria itu.


Kedua wanita itu menutup mata mereka dan bersikukuh tidak mau bergerak.


Amarah pria itu semakin membuncah melihat kedua garis itu tidak mau mendengar, akhirnya sebuah suara tembakan menggembala di sepanjang ruangan itu.


Dor!


Lengan kiri Olan mengeluarkan darah merah segar seraya wanita itu telah jatuh tersungkur karena rasa kagetnya.


"Kamu baik-baik saja?" Ucapan Anni seraya membantu Olan berdiri.


Belum sempat mereka berdiri, dengan kasar salah satu pria itu telah mendorong mereka ke samping. Pria lain menembak gagang pintu hingga merusaknya.


Segera pintu itu terbuka dan semua pria itu masuk ke dalam kamar Hara.


"Tidak! Jangan sentuh Nyonya kami!" Anni berlari menghentikan semua pria itu tapi ia dibuat pingsan dengan 1 pukulan dari salah satu pria berbadan kekar itu.


Orang memegangi lengannya sambil berjalan ke arah Ani yang telah terkapar di lantai.


"Kalian badjingan!" Umpat Olan sambil memandang dengan penuh amarah kearah pria-pria itu.


Namun sesaat kemudian ia gemetaran ketika salah satu pria mendekatinya dan tanpa kekuatan untuk melawan pria itu ia dibuat pingsan oleh pukulannya.


"Bawa dia," ucap salah satu pria dari mereka kemudian semuanya meninggalkan tempat itu membawa Hara yang masih tak sadarkan diri.


Di dalam mobil, salah satu pria itu menghubungi seseorang "Kami sudah membawanya, tapi dia tak sadarkan diri sepertinya ia sedang sakit."


"Lakukan rencana B," jawab seorang pria paruh baya dari ujung seberang telpon.


"Siap Tuan."


Mereka tiba di sebuah rumah yang tidak terlalu mencolok, pemilik rumah tersebut menyambut mereka dan mengarahkan para pria kekar itu membaringkan Hara di dalam sebuah kamar.


"Rawat dia sampai sembuh dan jangan biarkan ia pergi kemanapun sampai kami kembali." Kemudian pria itu itu langsung berbalik dan meninggalkan rumah tersebut.


Istri dari laki-laki tersebut langsung masuk ke dalam kamar dan melihat Hara "Gadis ini benar-benar cantik."


"Apa yang cantik dari seorang gadis yang kurus seperti itu?" Abdulla berkata acuh dan meninggalkan kamar itu.


Abia tidak memperdulikan suaminya itu dan menunduk memperbaiki rambut Hara yang berantakan.


Baru saja ia menyentuh dahi wanita itu, ia merasakan panas yang menyengat dari tubuh Hara. "Ia demam," ucap Abia seraya keluar dari kamar tersebut mendapatkan sebaskom air dan membasahi handuk tersebut sebelum mengompres Hara.


Sampai pada sore harinya, Hara masih belum sadar juga jadi wanita bercadar itu segera memanggil seorang dokter untuk memeriksanya.


"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya pada dokter laki-laki tersebut.


"Ia mengalami dehidrasi yang cukup parah biarkan ia beristirahat lagi dan ia akan segera pulih." Dokter itu kemudian meninggalkan rumah tersebut tanpa berkata apapun lagi.


Abia yang memandangi Hara yang telah Ia ganti bajunya itu, ia juga membuat hara memakai cadar supaya tidak membuat kecurigaan pada dokter yang baru saja tiba tersebut.


"Semoga kau lekas sembuh," gumamnya lalu keluar dari kamar itu.


Keesokan paginya, Hara akhirnya bangun dan mendapati dirinya berada pada sebuah kamar kecil dengan seorang wanita di sampingnya sedang merapikan lemari pakaian di kamar itu.


Ia tidak berbicara dalam waktu yang lama sampai wanita itu melihatnya "Kau sudah bangun, bagaimana perasaanmu? Apakah ada yang sakit?" Abia mendekat ke arah Hara dan memeriksa suhu tubuh gadis itu.


"Di mana ini?" Tanyanya dalam suara yang serak.


"Kau berada di rumahku, namaku Abia, tunggu di sini sebentar dan aku akan memberitahu suamiku." Kemudian wanita itu pergi meninggalkannya.


Selang beberapa lama, wanita itu kembali ke dalam kamar dan membawa nampan yang berisi bubur.


Seorang lelaki mengikuti wanita itu masuk dan berdiri di depan ranjang.


"Jangan pedulikan dia. Dia memang seperti itu," ucap Abia menghibur Hara.


"Mengapa aku ada disini?" Tanya Gadis itu kemudian.


"Kami menemukanmu dibuang di pinggir jalan dan kau tidak sadarkan diri. Kami membawamu kemari karena tempat itu penuh dengan orang-orang yang biasanya melakukan hal tak senonoh pada wanita.


"Apa kau kabur dari rumah?" Lanjut wanita itu bertanya.


Harap tercengang, bagaimana bisa ia yang awalnya berada di sebuah apartemen mewah, mengunci dirinya di kamar, lalu berakhir tak sadarkan diri di pinggir jalan.


Apakah sekarang Kendra membuangnya?


Hara meminjamkan matanya dan memikirkan lelaki itu, tapi ia merasa lebih baik kalau lelaki itu benar-benar membuangnya, dengan begitu ia tidak lagi perlu diikat oleh rantai yang di kendalikan oleh Kendra.


Setelah memikirkannya selama beberapa lama, ia kemudian membuka matanya lalu melihat wanita itu sedang memandanginya sambil memegang semangkuk bubur.


"Aku berasal dari ibukota dan tersesat. Namaku Hara." Ucapnya pada wanita itu.


"Nama yang indah, sekarang kau harus makan agar tenagamu kembali pulih dan kau bisa kembali ke negaramu." Wanita itu kemudian menyuapi Hara secara perlahan.


"Terima kasih telah membantu saya, saya pasti akan membalas kebaikan anda."


"Tidak perlu sungkan, sesama manusia memang harus saling tolong-menolong."


....


Selama tiga hari Hara berada di tempat itu akhirnya ia sudah pulih dan bisa berjalan-jalan di sekitar rumah tersebut.


Ia mengenakan pakaian serba hitam beserta cadar yang diberikan oleh perempuan itu untuk mencegah ia menarik terlalu banyak perhatian penduduk sekitar.


Setelah berjalan-jalan selama beberapa waktu Hara kembali ke rumah tersebut. Tapi ia begitu terkejut melihat rumah itu di datangi oleh sekelompok pria berbaju hitam. Dari penampilannya mereka terlihat seperti pengawal yang terlatih.


Hara bersembunyi di balik bunga dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Di mana gadis itu?" Tanya salah seorang laki-laki.


"Ia sedang berjalan-jalan, kemungkinan ia akan kembali sebentar lagi," jawab Abia.


"Kalian harus menjaganya sampai kami kembali untuk mengambilnya, pastikan ia tidak kabur ataupun membuat masalah, apalagi menarik perhatian orang-orang."


"Baik Tuan." Abdullah lah yang menjawab kali itu.


Ketiga pengawal itupun kembali ke mobil mereka yang terparkir tak jauh dari tempat mana Hara bersembunyi.


"Mengapa kita tidak membawa Gadis itu saja sekarang? Bagaimana kalau ia kabur?"seorang lelaki dari mereka bertanya.


"Ia tidak akan kabur, lagipula tuan menyuruh kita untuk membuat dia sehat kembali lalu membuatnya menderita. Ia harus merasakan kesakitan sebelum kematian menjemputnya."


Wajah arah menggelap mendengar percakapan lelaki itu tapi ia tetap meringkuk di tempatnya tidak berani bergerak.


"Pernikahan putri tuan akan digelar dalam dua minggu kedepan. Mengapa Tuan malah repot-repot mengurusi gadis itu?"


"Kau tidak tahu? Gadis itu adalah selingkuhan dari calon suami Nona Asyila, Tuan berencana membuat Gadis itu melihat pernikahan Nona Asyila sebelum menyiksanya hingga mati." Salah satu pria itu segera berjalan ke dalam mobil.


Hara menunggu sampai mobil itu pergi sebelum ia keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan ke ujung jalan.


Ia menemukan sebuah tempat duduk disana lalu duduk termenung sebelum kembali ke rumah Abia.


Ia menahan diri agar terlihat baik-baik saja di depan Abia dan suaminya.


"Kau sudah kembali, masuklah dan makan, aku sudah menyiapkan makanan diatas meja." Wanita itu sedang menyapu di halaman.


"Terima kasih," jawab Hara melangkah ke dalam rumah.