Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Jendela


Hara menghembuskan nafasnya seraya mengusap air matanya lalu menarik gagang pintunya.


Tapi tidak bisa terbuka. Saat itu ia menggunakan satu tangan kemudian ia menambahkan tangan yang lainnya dan menarik dengan keras, tapi kemudian pintu itu benar-benar tidak terbuka.


Apakah karena ia sakit sehingga ia benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk membuka pintu itu?


Ia berdiri selama beberapa lamanya di sana, berusaha membuka pintu itu namun benar-benar tidak bisa terbuka. Lalu sebuah suara serak dari belakangnya kemudian terdengar di telinga nya "Kau pikir ke mana kau akan pergi? Kembali ke mari!"


Saat itu jantung Hara seakan meledak karena detakan yang terlalu kencang.


Tanpa sadar air matanya yang sudah habis itu tiba-tiba membludak lagi meluncur ke pipinya sebagai air terjun yang tak bisa di bendung.


Ia terisak kecil seraya berbalik dan melihat pria itu sedang menatapnya dengan tatapan penuh harap.


"Mendekatlah," sambung pria itu seraya mengangkat sedikit tangannya menginginkan gadis yang ada di depannya segera menyentuh tangannya.


Hara tidak tahu harus berkata apa dan kakinya seolah tidak terkendali berjalan menuju Kendra diikuti tangannya yang kemudian menyentuh tangan dingin pria itu. "Apa kau memanggilku?" Tanyanya masih terisak.


"Kau pikir kau bisa meninggalkanku begitu saja? Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan hingga aku berada di sini saat ini."


"Maafkan aku, aku salah. Apa pun yang kau inginkan, aku akan melakukannya," kata Hara seraya mengeratkan genggamannya pada tangan dingin pria itu, berusaha menghangatkan tangan dingin pria itu.


"Kau akan melakukan semua yang ku inginkan?" Suara Kendra masih tersengal, pria itu berusaha keras untuk berbicara dengannya.


"Ya apapun yang kau inginkan, aku akan melakukan semuanya!"


"Lihat ke sana," kata Kendra seraya menunjuk ke arah jendela.


Hara mengarahkan pandangannya ke jendela itu namun ia hanya melihat gedung-gedung tinggi beserta langit dan beberapa burung yang sedang terbang.


Saat itu, wajah arah berubah menjadi pucat ketika memikirkan apa yang diinginkan pria itu.


Meski sebelumnya ia benar-benar ingin mati, tapi itu karena ia sudah tidak memiliki alasan untuk hidup lagi.


Namun saat ini, ia memiliki satu alasan untuk hidup yaitu melihat Kendra bahagia, ia sudah mengatakan pada hatinya meskipun Kendra bahagia dengan orang lain, ia tetap akan merelakan pria itu.


Namun saat ini, pria itu mala menyuruhnya untuk mati?


Air matanya kembali berderai membuat matanya terasa perih karena sudah terlalu banyak menangis.


"Berjalanlah ke sana," terdengar suara berat disertai nafas pria yang sedang berbaring di atas ranjang.


Hara mengalihkan pandangannya dari jendela dan melihat Kendra, pria itu benar-benar bersikap serius, tidak ada canda and ataupun keraguan di mata pria itu.


Namun, jika pria itu akan bahagia ketika dirinya benar-benar pergi, ia akan menuruti kayu keinginan pria itu.


Biarkan ia hanya memandangi kebahagiaan pria itu dari atas langit dan berbahagia untuk pria yang akan berbahagia itu.


Dengan langkah yang kecil, Hara kemudian berjalan ke jendela dan semakin melihat dunia di luar jendela itu dengan jelas.


"Buka jendelanya," lagi, suara pria itu terdengar membuat Hara sedikit gemetaran.


Namun begitu, ia masih patuh membuka jendela itu kemudian melihat kebawah ujung bangunan rumah sakit itu.


Terlihat mobil-mobil mewah yang sedang lalu lalang di bawah jalan raya sangat kecil sekolah mobil-mobil itu hanyalah seekor semut kecil yang sedang lewat.


Hara menelan air liurnya seraya merasakan peri di matanya karena hembusan angin yang membuat matanya menjadi lebih iritasi.