Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Kenyataan yang sebenarnya


Setelah makan siang, Hara bergegas turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar menuju ke ruang di mana Kendra dirawat.


Pria itu terbaring lemah di atas tempat tidur di balut dengan selimut tebal yang menghangatkannya.


Hara tidak bisa menahan air matanya jatuh berderai saat ia melihat pria itu dan berjalan mendekat ke samping Kendra, mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan dingin pria itu.


Ia tertunduk menempatkan wajahnya ke bawah kasur seraya menangis sesegukan karena rasa bersalahnya dan penyesalannya hingga membuat Kendra harus terbaring tak berdaya.


Ia bahkan tidak berani meminta maaf pada pria itu, karena sesungguhnya, kesalahannya benar-benar tidak bisa dimaafkan.


Apapun yang diinginkan pria itu akan ia ikuti bahkan ketika Kendra mengusirnya dan tidak menginginkannya lagi.


Hara tidak akan memaksakan kehendaknya lagi pada pria itu, bahkan untuk mencintai pria itu sangatlah tidak mungkin baginya, ia benar-benar tidak pantas pada pria itu, pria itu terlalu sempurna, sedangkan dirinya hanyalah seorang putri yang terbuang, hanyalah seorang putri yang tidak memiliki raga.


Cukup lama ia menangis di tempatnya sampai ketika ia menyadari jari Kendra sudah menggenggam tangannya dengan erat, barulah saat itu ia mengangkat wajahnya dan melihat pria itu sedang menatapnya.


Air matanya semakin deras mengalir membuat pandangannya menjadi kabur melihat pria itu benar-benar sudah tersadar.


Tapi bukannya ia merasa senang karena pria itu telah sadar, tapi ia merasa sangat bersalah, merasa sangat menyedihkan, merasa tidak pantas untuk pria itu.


Kemudian ia menarik tangannya dari tangan Kendra dan mengusap air matanya dengan kasar seraya memandang pria itu lalu berkata "Aku tidak pantas meminta maaf pada mu, aku bahkan tidak pantas berada di depanmu sekarang.


"Begitu banyak ketidakpercayaan yang kuberikan padamu, begitu banyak kesalahan yang kulakukan hingga membuatmu menjadi seperti ini.


"Aku tidak pantas berada di sampingmu, karena aku hanya akan menjadi beban bagimu dan hanya akan membuatmu terluka.


"Di kehidupanku yang lalu dan kehidupanku yang sekarang bahkan kehidupanku di masa yang akan datang aku hanya mencintaimu.


"Dimanapun aku berada dan bagaimanapun keadaanku, aku tetap hanya mencintai satu orang saja dan kau akan selalu menjadi satu-satunya di hatiku."


Air mata Hara semakin deras dan tenggorokannya terasa tercekat ketika ia melanjutkan kata-katanya, "Aku akan pergi sekarang, berbahagialah dengan kehidupanmu tanpa aku."


Hara kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah menuju pintu. Namun, saat itu hatinya terasa lebih sakit lagi karena pria yang berbaring itu tidak berusaha menghentikannya sedikitpun.


Memang benar, ia tidak pantas untuk pria itu, sepertinya pria itu memang telah menyadarinya.


Hara mencoba kuat ketika ia hendak meraih dagang pintu, ia sangat ingin berbalik lalu memohon pada pria itu agar ia tetap di sisinya, tapi ia tidak bisa. Ia sadar di mana posisinya yang sebenarnya, ia sadar apa yang akan terjadi ketika ia tetap disisiku Kendra.


Memori memorinya mengenai kenangan masa lalunya dengan pria itu kembali tergiang di pikirannya, saat di mana ia pertama kali bertunangan dengan pria itu dan pria itu lebih memilih melanjutkan pekerjaannya di luar negeri dari pada menghadiri pertemuan keluarga mereka.


Saat itu, sekalipun Hara adalah tunangannya, Hara tidak pernah bertemu dengan Kendra dan hanya melihat pria itu difoto, di televisi ataupun di majalah.


Namun begitu, ia tetap mencintai pria itu dan menganggap Kendra suatu saat akan menerimanya.


Saat itu ia masih muda, dan ia masih menikmati bacaan-bacaan receh di mana semua perjodohan yang dilakukan berakhir bahagia meskipun harus melewati pasang surut dalam membangun cinta rumah tangga.


Tapi kini, ia sudah lebih dewasa dan dapat membedakan mana cerita fiksi dan mana kenyataan yang sebenarnya.