
Di gudang pinggir kota.
Ruangan itu dipenuhi aura menekan dari seorang pria yang berdiri di tengah-tengah ruangan.
Pria itu memandang dengan tatapan tenang bersama mata jernihnya pada seorang pria yang sedang berbaring di tanah yang berdebu.
Meskipun mata pria itu terlihat jernih, tapi siapapun yang sudah mengenalnya mengetahui apa yang akan terjadi.
Semakin tenang pria itu semakin menakutkan dirinya. Semakin diam pria itu semakin banyak hal yang tersampaikan.
"Bangunkan dia," ucap Radi pada salah orang yang berdiri di sana.
Pria itu dengan patuh mendapatkan sebuah ember yang berisi air es lalu menyiramnya ke wajah pria yang terbaring di lantai.
"Bangun!" Bentak pria itu sambil menendang lelaki yang kini sedang mengerjapkan matanya.
"Ngghhmmm..." Gumam lelaki itu seraya berusaha membebaskan diri dari ikatan di tangan dan kakinya.
Rasa dingin yang dirasakannya membuatnya menggigil seraya menoleh ke arah laki-laki yang sedang mengerumuninya.
Begitu ia melihat pria yang berdiri dengan tenang di depan sekumpulan orang itu, ia melupakan rasa dinginnya dan kini ia bergetar karena ketakutan.
"Buka sumbatan mulutnya," Radi kembali memerintah.
Segera pengawal yang bertugas itu membuka sumbatan mulut pria berbaju hitam itu.
"Bicara!" Suara Kendra menggema di seluruh ruangan hening itu.
"Buat dia berbicara," Radi memberi perintah.
Pengawal yang bertugas itu mendapatkan sebuah tongkat bisbol dan berjalan kearah laki-laki yang sedang gemetaran itu.
Pria berbaju hitam itu segera membelalakkan matanya ketika melihat pengawal itu sedang mendekatinya sambil menantang tongkat bisbol. "Tunggu!" Teriaknya ketakutan, tapi pengawal yang berjalan ke arahnya itu tidak berhenti dan terus melangkahkan kakinya dengan begitu menakutkan.
"Tunggu! Saya akan mengatakannya!" Pria itu kembali berbicara seraya berusaha menggerakkan badannya menjauh dari pria yang masih berjalan mendekatinya.
Tapi tidak ada yang mendengarkannya, seolah ia berbicara pada benda mati, semua orang yang ada di ruangan itu menikmati ketakutan pria itu seakan mereka sedang menonton pertunjukan orkes yang menghibur.
Pengawal itu sudah tepat berada di depan pria yang berbaring di lantai, ia mengayunkan tongkat bisbolnya hendak memukul badannya. "Saya akan bicara!" Kata pria berbaju hitam itu.
"Tunggu!" Kendra akhirnya menghentikan pengawal itu.
Pria berbaju hitam itu akhirnya merasa tenang, tapi ia kemudian kembali gemetaran ketika melihat Kendra yang sedang menatapnya dengan tenang.
"Saya melakukannya karena diperintah." Ia tertunduk tidak berani menatap wajah Kendra.
Namun sepertinya 4 kata, 1 kalimat yang ia ucapkan itu tidak berguna, karena semua orang masih diam mengharapkan pria itu berbicara lebih banyak tentang kebenaran yang terjadi.
Pria berbaju hitam itu jelas tahu apa yang diinginkan oleh orang-orang dalam ruangan itu. Meski ia telah disumpah untuk tidak pernah mengatakan kebenarannya, termasuk orang yang berada di belakang kejadian ini, tapi ia akan mati jika tidak mengatakannya sekarang.
Lebih baik ia selamat saat ini dan mencari cara menghindar dari tuannya dari pada ia mati disini dengan sia-sia.
"Saya melakukannya karena terpaksa, seseorang menyuruh saya dan mengancam saya. Tapi saya sungguh tidak melakukan apa-apa pada gadis itu dan hanya menyekapnya saja." Pria itu berbicara dengan gemetaran sambil menatap lantai berdebu di bawahnya.