
Mereka berdua tiba di hotel tempat diadakannya acara itu.
Kendra melingkarkan tangannya di pinggang Hara dan berbicara dengan temannya.
"Apa ini tunangan barumu?" Sala satu teman Kendra bertanya.
"Dia hanya wanita biasa." Jawab Kendra den mengangkat gelasnya.
Temannya itu mendentingkan gelasnya ke arah gelas Kendra "Dia terlihat cantik, umur berapa kau?" Tanyanya pada Hara.
"Dia tidak boleh sembarang berbicara dengan orang asing." Kendra menyelah ketika Hara hendak membuka mulutnya.
"Ha ha ha... Apa sampai segitunya kau melindunginya?" Pria itu tidak memaksa Kendra lagi.
Kendra membawa Hara berkeliling menyapa semua orang.
Mereka berhenti setelah 2 jam, di mana kaki Hara telah terasa pegal karena berdiri sepanjang waktu.
Ia sudah lama memiliki kebiasaan tidur dan jarang menggunakan kakinya.
"Apa kau lelah?" Tanya Kendra ketika mereka duduk di sudut ruangan.
"Apa kau akan membiarkanku pergi kalau aku bilang lelah?" Hara dengan kesal memalingkan wajahnya.
"Kita akan kembali sebentar lagi. Hanya ada satu orang lagi yang perlu kita sapa." Kata Kendra.
Setelah itu mereka duduk sebentar sebelum beranjak menyapa orang yang di maksud Kendra.
Mata Hara terbelalak begitu mengetahui siapa orang itu, pamannya.
"Hm, kau mendapatkan gadis lain dengan cepat." Goda Dandam pada Kendra.
"Kendra hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya di sekitar pinggang Hara.
Mereka berbincang sebentar sebelum pergi. Selama itu pun, Hara hanya terdiam dan murung. Suasana hatinya sangat buruk.
Mereka berada di dalam mobil ketika ponsel Kendra berdering.
"Tuan, Nona Alisya berada disini." Anni terdengar sedang menelpon secara sembunyi-sembunyi.
Karena ruangan itu sangat hening, Hara bisa mendengar apa yang dikatakan Anni.
Alisya adalah temannya, tapi mengapa ia berada di villa milik Kendra?
Ia memandang Kendra dengan tatapan kesedihan.
"Jangan biarkan ia masuk ke kamarku. Aku akan tiba sebentar lagi." Kendra kemudian menutup telponnya.
Lelaki itu segera memberi tahu supir untuk berangkat. "Jalan," katanya.
"Kemana kita akan pergi?" Tanya sang supir.
"Cari hotel terdekat." Kendra bahkan tak repot-repot memperhatikan Hara.
Hati Hara mencelos, tapi ia menguatkan diri dan membuka mulutnya "Siapa Alisya?" Tanyanya dengan suara berat.
"Aku tidak tahu," jawab Kendra dan mobil itu jadi hening hingga mereka tiba di hotel.
Kendra bahkan tidak mengantar Hara ke kamar hotel yang di pesan. Ia hanya memberikan kartu pada Hara dan meninggalkan gadis itu bersama seorang pengawalnya.
Hara menatap kepergian Kendra dan air matanya terjatuh di pipi mulusnya.
Dengan cepat Kendra tiba di Villa.
Begitu ia masuk, Asyila sedang berada di dapur.
"Kau sudah pulang?" tanya gadis itu setelah melihat Kendra berjalan ke dapur.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Tanyanya dengan datar.
"Apa lagi? Sebentar lagi kita akan resmi bertunangan, dan akan menikah juga. Aku harus belajar jadi istri yang baik dengan memasak makanan untukmu. Malam ini aku kan menginap di sini." Alisya tersenyum manis ke arah Kendra.
"Kau boleh menginap," kata Kenda dan meninggalkan ruangan itu.
Alisya tersenyum. Bahagia dan melanjutkan acara memasaknya.
Sedangkan Kendra berjalan ke kamarnya diikuti Anni. "Bereskan semua barang milik Hara."
Kemudian Kendra beranjak pergi ke ruang kerjanya. Setelah beberapa saat, Alisya masuk ke ruanganya dengan sebuah nampan di tanganya.
"Aku membuat bubur ini untukmu, Ibu memberitahuku kalau kau menyukainya." Alisya meletakkan buburnya di atas meja dan duduk di sofa.