Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Bunuh diri


Hari berikutnya ketika Hara terbangun, ia merasakan tubuhnya masih lemas, tapi ia sudah memiliki cukup banyak tenaga untuk bergerak.


Akhirnya gadis itu memutuskan keluar dari kamarnya sambil berpegangan pada dinding rumah sakit menuju lift.


Ia menekan lantai paling atas dan menunggu selama beberapa lamanya sampai lift itu membawanya ke atap.


Sampai ia tiba di atap, ia berniat untuk melompat dari atas, mengakhiri hidupnya yang menyeramkan itu.


Lagipula ia sudah pernah mati 1 kali dan rasanya tidak terlalu menyakitkan daripada harus hidup dalam kepahitan di dalam dunia.


Namun sayangnya, ia harus menerima kenyataan bahwa sekeliling atap gedung dipagari oleh besi-besi yang menjulang tinggi hingga tidak memungkinkan baginya untuk melompat ataupun memanjatnya dengan tubuh lemahnya.


Akhirnya Hara memutuskan untuk kembali ke lantai bawah.


Ia tiba di lobi dengan tubuh lamanya masih dalam balutan pakaian rumah sakit.


"Nona Anda mau ke mana?" Seorang perawat menemukannya akhirnya menghampirinya dan bertanya.


Hara memandang perawat itu dan tak tahu harus mengatakan apa karena sesungguhnya ia masih memakai pakaian perawat. Tentu saja pasien tidak diizinkan keluar dari rumah sakit.


"Saya menjatuhkan ponsel saya dari jendela rumah sakit. Jadi saya turun untuk mendapatkannya sekalian menemui saudara saya yang akan menjenguk saya hari ini."


Perawat itu memperhatikannya sejenak sebelum dengan lembut menyentuh lengan Hara "Silakan kembali ke kamar Nona dan saya akan mencarikan ponsel beserta menemui saudara Anda."


Tentu saja Hara menolak, ia tidak mau jika laki-laki yang sudah beristri itu kembali dan mendapatkannya hingga ia akan dikurung lagi di kekang oleh belas kasihan dari pria itu.


Hara melayangkan pandangannya ke sekitar lobi dan melihat sebuah kursi yang diletakkan di salah satu sudut ruangan.


"Saya akan menunggu di sana," ucap Sahara seraya menunjuk kursi di belakang perawat itu "Saya menjatuhkan ponsel saya dari unik A742. Bisakah Anda membantu saya mendapatkan ponsel saya?"


Hara akhirnya duduk di kursi itu lalu melihat perawat tersebut sudah meninggalkannya untuk mendapatkan ponselnya.


Segera setelah perawat itu pergi, Hara kemudian keluar dari rumah sakit itu.


Jalan di depan rumah sakit itu ialah jalanan yang ramai dan sibuk sehingga ada banyak orang yang lalu-lalang di sana.


Hara memperhatikan sekitarnya sebelum memutuskan untuk berjalan mencari tempat yang lebih sepi.


Setelah berjalan selama 10 menit hingga tenaganya terkuras habis, ia mendapatkan jalanan di mana ia berdiri lebih sepi dari jalanan yang sebelumnya dan mobil mobilnya lewat berjalan dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Hara meminjamkan matanya seraya memandang lurus ke tengah jalan raya, ini adalah pilihan satu-satunya baginya untuk membebaskan diri dari semua rasa pahitnya.


Cahaya matahari pada siang itu sangat terik hingga membakar hingga ke lapisan terdalam kulit.


Keringatnya bercucuran membuat emosinya semakin tidak stabil dan pikirannya semakin kacau.


Dengan langkah yang tidak stabil ia akhirnya mendorong tubuhnya masuk ke tengah jalan raya membuat suara klakson dari mobil-mobil yang lewat membuatnya tidak fokus.


Akhirnya ia berhenti di tempatnya lalu memandang pada sebuah mobil yang berjalan kencang ke arahnya.


Mobil itu membunyikan klakson yang sangat panjang berusaha memberitahu Hara untuk menghindar, tapi itulah yang diinginkan gadis itu.


Hara menginginkan mobil itu segera tiba dan bertubrukan dengan tubuhnya hingga jiwanya bisa terlepas dari tubuh yang ia tumpangi itu menuju ke alam baka bertemu dengan kedua orangtuanya.


Dengan memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya, Hara menyiapkan dirinya ditabrak oleh mobil yang melaju kencang itu.