
Ketika Hara keluar dari kamarnya, ia mendapati Olan dan Anni telah selesai menyiapkan sarapan.
Ia tidak berselera, tapi ia tetap duduk di meja makan dan berusaha mengisi perutnya.
Ia tidak mau membuat kedua wanita itu merasa kecewa jika ia tidak menyentuh masakan mereka.
Setelah makan, ia keluar dari ruang makan dan mendapati tempat itu telah dipasangi penuh dengan CCTV, bahkan beberapa pengawal berada di depan pintu.
Saat itu, kemurungan di wajah Hara semakin bertambah. Ia kembali di kurung!
Hara tahu, tidak ada gunanya melakukan segala cara untuk lolos dari tempat itu.
Orang yang dihadapinya bukan orang yang biasa saja, tapi seorang Kendra yang memiliki kuasa untuk melakukan apapun.
Setelah selesai memperhatikan seluruh ruangan itu Hara kembali ke kamarnya dan mengunci pintu.
Ia mengawasi kamar itu selama beberapa lama dan memastikan tidak ada satupun kamera di sana sebelum ia melempar dirinya ke atas tempat tidur.
Ia kemudian tidur sampai siang harinya ia terbangun karena rasa lapar.
Tapi ia tak memiliki niat untuk makan atau hanya mencium aroma makanan yang akan membuatnya muntah.
ia kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke jendela memandang pemandangan luar disana lewat jendela itu.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu mengganggu pikirannya yang kini melayang jauh.
"Nona ini sudah pukul 2 siang, keluarlah untuk makan siang." Suara Olan menggema dari seberang pintu.
Hara tidak bergerak sedikitpun bahkan untuk memandang pintu itu, ia sama sekali tidak memiliki niat.
Tanpa menjawab Olan, Hara kembali ke tempat tidurnya dan meraih ponselnya.
Ia membaca satu persatu laman website tersebut dan merasa dirinya semakin frustrasi. Jadi ia melemparkan ponsel itu dan membungkus dirinya dengan selimut berniat untuk kembali tidur.
Pada malam berikutnya, Hara benar-benar tidak keluar dari kamar dan hanya berdiri di depan jendela melihat pemandangan di luar.
Ia seperti Rapunzel yang terkurung di dalam menara dan hanya bisa melihat melihat dunia luar lewat jendela kecilnya.
Tapi ia berbeda dari Rapunzel. Ia sedang dikurung oleh orang yang dicintainya sehingga ia tidak menunggu siapapun untuk datang menyelamatkannya.
Sementara Rapunzel masih lebih baik lagi nasibnya, Rapunzel dikurung oleh seorang penyihir jahat dan ia masih mempunyai harapan untuk keluar dari menara tersebut, jika pangerannya datang menyelamatkannya.
Hara memandang selama berjam-jam bangunan-bangunan koko yang memancarkan cahaya-cahaya indah dari sana.
Tapi cahaya itu tak lebih indah dari cahaya bintang-bintang di atas langit.
Yang manakah bintang miliknya di atas sana? Yang manakah bintang milik orang tuanya?
Hara meneteskan air matanya mengingat jalan hidupnya yang terlalu pahit. Ia kehilangan orang tuanya, bahkan dirinya sendiri karena seorang penghianat di keluarganya.
Dan saat ini, ia tidak memiliki kemampuan untuk membalas dendam orang tuanya ataupun dendamnya sendiri.
Sebuah rantai yang diikat oleh mantan tunangannya kini menjeratnya. Dan bukannya ia berusaha melepaskan rantai itu, ia malah menikmati rantai itu hingga ketika rantai itu kini mencekiknya dan ia tak berdaya untuk melepaskan diri.
Sekarang semua sudah terlambat!
Sampai 3 hari ia terus berada di kamar itu tak pernah keluar, ia sudah mengalami demam dan tak seorang pun yang tahu.
Hara terbaring di tempat tidur dengan tubuh lemas nya, tidak bisa bergerak sama sekali. Biarlah ia di sana menunggu kematian menjemputnya hingga ia bisa bersama orang tuanya.
Dengan begitu, dendamnya nya tidak perlu dibalaskan dan ia bisa tenang tanpa memikirkan persoalan dunia lagi.
Lagipula ketika ia pergi, tak ada yang akan mencarinya, tak ada yang akan bersedih. Ia hanya sendirian di dunia ini karena orang yang sangat memperdulikannya telah pergi.