Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Terpaksa


"Itu bukan area pribadiku! Hanya punggung saja!" Jawab hara dengan kesal.


"Kau mau memamerkan semua memar-memar di tubuhmu pada Pelayan Anni?" Katanya dengan kesal pada Hara.


Hara memkirkannya, Kendra ada benarnya. "Itu masih lebih baik dari pada kau yang melakukannya dan berakhir membuatku tambah kesakitan!"


"Kau bilang kesakitan? Bukannya menikmati?" Tanya pria itu sambil memicingkan matanya.


"Kapan aku menikmati? Lihat! Lihat! Aku bahkan tak bisa bergerak dengan leluasa karena rasa sakit di seluruh tubuhku!" Katanya lagi.


"Ha ha ha,, lalu siapa yang mengerang begitu nikmat kemarin? Ia bahkan mengangkat tubuhnya dan menginginkan lebih?" Kendra menatap lekat Hara.


Wajah Hara segera memerah, "Kapan aku melakukannya?" Katanya dan berbalik memunggungi pria itu.


Kendra melengkungkan senyumnya dan memeluk gadis itu. "Mau membuktikannya?"


"Sialan kau! Pergi sana!" Teriak Hara dan berusaha membebaskan diri.


"Ha ha ha..." Tawa Kendra sambil mengeratkan pelukannya. "Aku dengar semua gadis akan menangis saat diperawani, mengapa kau tidak?"


Hara merasa lebih marah lagi, mengapa pria ini membicarakannya? Lagi pula perawan yang di ambil pria itu bukanlah miliknya.


Tapi meski itu dirinya, ia dengan rela memberikannya pada Kendra, ia mencintai pria itu. "Jangan menanyakannya lagi dan enyahlah dari diriku!"


"Kau tidak suka? Tapi aku menyukainya. Mulai sekarang kau adalah milikku, selamanya! Siapa pun yang berani menyentuhmu akan ku panggang hidup-hidup!" Kendra.


Hara merasa dilambungkan ke atas langit. Tapi ia tidak mau mengakuinya di depan pria itu.


Dulu ia terlalu menampakkan dirinya menyukai Kendra, hingga ia kehilangan. Sekarang, ia ingin mencoba cara yang berkebalikan.


"Hah! Aku memang milikmu karena kau sudah membeliku, lagi pula, siapa yang akan menyentuhku kalau kau terus mengurungku di sini?" Kesal Hara.


"Baguslah kalau kau tahu." Kendra menarik piyama Hara dan melemparkanmya ke lantai.


"Kau mau menghindar? Aku hanya ingin memijitmu." Kendra menarik selimut itu dan mulai memijit punggung gadis itu.


"Kau sedang memijit atau berusaha meremukkan tulangku? Lakukan lebih pelan!" Hara memperbaiki posisinya.


Kendra melembutkan pijatannya, tapi matanya terus melirik ke arah gunung kembar milik Hara yang semakin menggoda saat tertindih tubuh Hara ke bawah ranjang, hingga semakin bulat menampakkan diri dilihat dari samping. "Apa bagian bawahmu masih sakit?"


"Ya, itu masih nyerih, jangan berharap melakukan apa pun lagi!" Katanya dan memejamkan matanya.


"Tapi kau telah membangunkannya, sekarang bagaimana aku akan menidurkannya kembali?"


"Aku tidak tahu! Jangan berbicara lagi!" Hara mendengus kesal.


Detik berikutnya ia berteriak "Ah! Apa yang kau lakukan?" saat Kendra membalikkan badannya.


Kedua tangannya menutupi gunung kembarnya sambil melirik selimut di bawah lantai. Sialan!


Kendra membawa Hara ke gendongannya.


"Turunkan aku!" Mukanya memerah ketika ia menyadari pria itu membawanya ke dalam kamar mandi.


Pikirannya melayang membayangkan terakhir kali mereka melakukan hal itu di bak berendam.


"Aku hanya butuh bantuanmu sebentar." Kendra menurunkan Hara ke dalam bak berendam dan meloroti pakaiannya sendiri.


"Sialan kau!" Kata Hara dan bangkit meraih handuk membungkus tubuhnya hendak kabur. Ia sudah tak ingat lagi mengenai badannya yang sakit.


Tapi begitu ia meraih gagang pintu, pintunya di kunci. Ia segera berbalik dan melihat pria itu sudah telanjang tanpa malu melangkah ke arahnya.


Dengan terpaksa Hara melayani lelaki itu lagi.