
Hara memperhatikan anggur itu. Ia baik-baik saja setelah minum satu gelas, tidak masalah menambah satu gelas lagi, supaya ia terbebas dari pria mesum ini. "Biarkan aku pergi setelah menghabiskan satu gelas."
"Mm.."
Hara segera meneguk habis satu gelas anggur itu dan meletakkan gelasnya.
Rasa panas pada tenggorokannya menjalar begitu cepat di-iringi pertambahan suhu badannya.
Ia akan melangkah pergi ketika Kendra malah menariknya mendekat ke pelukannya.
Hara begitu Kaget, matanya terbelalak, tapi ia tidak bisa berbuat apa pun, sudah terlambat! Pria itu telah menguasainya.
"Sekarang jadilah Nyonya kecilku yang patuh." Kendra memulai aksinya yang pertama kali untuk melepas keperjakaannya.
Hara meneteskan air mata dan hanya membiarkan Kendra melakukan apa pun yang diinginkan pria itu.
Ia tidak bertenaga dan Hara langsung terangsang dengan cepat karena minuman yang ia konsumsi.
Gerakan mereka semakin liar ketika Kendra telah membawanya ke kamar dan menghempaskannya ke bawah tempat tidur.
Pria itu menjelajahkan tangannya ke balik gaun Hara sebelum merasa tidak puas dan melepas paksa semua pakaian Hara.
Hara mengeram ketika merasakan dirinya menginginkan sesuatu yang lebih dari pria itu, ia ingin di sentuh lebih daam!
Ia terombang ambing di lautan kenikmatan seraya mengeram kuat dengan bunyi kecupan basah Kendra di seluruh tubuhnya.
Pengaruh anggur pada Hara benar-benar bekerja cepat saat gadis itu mengeram lebih kuat lagi membuat Kendra semakin tidak sabar.
Ia mengarahkan miliknya yang perkasa pada Hara saat miliknya melesat dari lubang sempit itu.
Percobaannya berikutnya selalu gagal karena lubang sempit nan basah itu tak dapat di tembus miliknya yang besar. Atau karena ia tak memiliki keterampilan yang buruk dalam hal ini.
Hara menjerit kesakitan karena paksaan Kendra, saat itu pula, ia tersadar dan gairahnya sudah hilang ditelan rasa sakit di bagian bawahnya, "Sakit!" teriaknya berusaha menghentikan pria itu.
"Kenapa begitu basah dan licin? Bisakah kau membantuku?" Ucap Kendra pada Hara sambil terengah.
Hara memalingkan wajahnya tak mau berbicara dengan lekaki itu.
Akhirnya Kendra hanya pasrah dan berusaha sendiri sambil mencegah gadis itu terus merontah. Namun sampai kelelahan menahan hasratnya, ia belum berhasil. Bidikannya selalu melesat ke tempat lain.
"Apakah milik wanita memang sesulit ini? Mengapa di video biru begitu mudah mereka melakukannya?" Umpatnya mengusap keringatnya dan akhirnya memilih berbaring di samping Hara.
Ia membawa gadis itu ke atas tubuhnya lalu memeluknya. Hara merontah keras, tapi kekuatannya tidak bisa mengalahkan Kendra hingga ia hanya diam saja kemudian.
"Aku tidak akan melakukannya kali ini. Kau bisa tenang sekarang." Katanya setelah menyadari hasratnya telah menghilang karena kegagalannya menembus milik Hara.
"Apa lain kali kau akan memaksa melakukannya lagi?" Tanya gadis itu sambil meneteskan air matanya.
"Ya," jawab pria itu.
Hara terdiam dan kekesalan memenuhi dirinya "Berapa banyak wanita yang telah kau perlakukan seperti ini?" Tanya gadis itu dengan terisak.
"Ini pertama kalinya."
"Bohong!" Teriak gadis itu dan ingin menjauhkan diri dari Kendra. Tapi i tidak begitu kuat untuk melawan kekuatan Kendra.
"Kenapa kau marah?" Tanya Kendra.
"Kenapa aku harus marah? Aku sudah kau beli dengan harga satu milyar, sekarang kau bisa memperlakukanku semaumu saja!" Ucapnya dengan berderai air mata.
Hara merasa dadanya di pukul berulang kali. Pria ini sebenarnya hanya menganggapnya benda yang telah ia beli.
Ia menghapus air matanya namun air asin itu terus keluar membuatnya terisak kecil.
"Jangan menangis. Ini pertama kalinya, kau juga akan jadi satu-satunya." Kendra mengusap rambut halus milik Hara.
Hara merasa lebih baik, ia mencintai pria ini, sudah lama ia mencintainya, tapi kebenciannya tumbuh setelah bertemu Kendra di bar. Ia bahkan membeli wanita lain dan mengajaknya pulang.
Bagaimana kalau saat ini ia tidak bertukar jiwa dengan Kintan? Apakah ia akan menderita dengan menyaksikan tunangannya berselingkuh?
Tapi setelah mendengar apa yang dikatakan Kendra, hatinya merasa jauh lebih baik.
Kalau ia tidak bisa memiliki Kendra menggunakan tubuh lamanya, maka ia mungkin bisa memiliki lelaki ini dengan tubuh barunya ini.
"Kau sudah berhenti menangis?" Kendra mengeratkan pelukannya pada Hara.
Hara hanya diam dan tenggelam dalam pikirannya.
"Tubuhku lengket. Ayo mandi bersama." Katanya dan berusaha bangun.
"Kau mandi sendiri. Aku menyusul nanti." Kata Hara dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
Kendra membiarkan hara dan berjalan ke kamar mandi membawa ponselnya.
Ia berdiri di bawa guyuran shower sambil menggunakan ponsel anti airnya.
"Hai sobat! Ada angin apa kau menelponku pada jam segini?" Arron membelai gadis di sampingnya.
"Aku ingin bertanya sesuatu." Kata Kendra.
"Kenapa kau jadi berbeda? Kau sudah bukan Kendra yang ku kenal? Kemana Kendra yang tak mau berbasa-basi itu?" Arron tertawa mengejek.
"Kau pernah melakukannya dengan gadis perawan?"
Arron tersedak air liurnya mendapat pertanyaan itu. Meski ia telah tidur bersama ratusan bahkan ribuan wanita, ia belum pernah mencoba gadis perawan.
"Mengapa kau bertanya? Apa kau berniat melepas keperjakaanmu?" Tanya Arron dengan penasaran sambil terkekeh.
"Jawab saja pertanyaannya!"
"Yah, sejauh ini belum. Tapi menurut yang pernah mencobanya, perawan itu hmm,, kau akan kesusahan bahkan kesakitan menembusnya, tapi kau akan mendapat kenikmatan penuh jika berhasil melakukannya." Kemudian Arron tertawa dan membawa gadis di sampingnya kepelukannya.
"Aku menutup telponnya." Kendra mematikan sambungan telponnya dan melanjutkan acara mandinya.
Ketika ia selesai, ia keluar kamar dan mendapati Nyonya Kecilnya telah tertidur pulas.
Ia memakai piyamanya dan membawa satu piyama untuk Hara.
Ketika ia akan membantu gadis itu memakai piyama, ia mendapati badannya begitu lengket karena keringat.
Ia menghembuskan nafasnya dan melemparkan piyama di tangannya ke sebelah ranjang sebelum berlalu ke kamar mandi mengisi bak berendam.
Ia kemudian mengangkat Hara ke dalam kamar mandi dan membaringkan gadis itu di dalam bak berendam.
Merasakan air hangat yang menenangkan membuat Hara tersadar dan dengan linglung membuka mata beratnya.
Tapi entah apa yang terjadi ia tidak ingat apa pun lagi dan tertidur.