
Setiap hari, Hara menghabiskan setiap waktunya untuk berjalan-jalan dan mengamati lingkungan sekitar tempat itu.
Hari demi hari ia semakin menambah jarak perjalanannya dari rumah itu dan terus mengamati lingkungan yang lebih luas.
Ia sudah memperkirakan waktu selama 12 hari untuk mengamati tempat itu dan merencanakan waktunya untuk kabur.
Sampai kemudian waktu yang ia tentukan itu akhirnya tiba, ia menyelipkan berbagai kebutuhan perjalanannya di dalam bajunya yang besar dan longgar itu sebelum akhirnya keluar seperti biasanya untuk berjalan-jalan.
"Hari ini akan ada hujan cepatlah kembali," Abia sedang membersihkan pekarangan ketika melihat Hara keluar.
"Kalau begitu aku akan meminjam payung ini," kata Hara meraih payung yang disandarkan pada teras dan berjalan keluar.
Setelah berjalan selama 30 menit ia akhirnya tiba di jalan besar dan menahan sebuah taksi.
Tapi taksi itu tidak berhenti, bahkan setelah ia mencoba menahan beberapa taksi lagi tidak ada taksi yang berhenti untuk memberinya tumpangan.
Ia memperhatikan sekeliling dan menyadari pakaiannya tidak cocok untuk menaiki taksi.
Sepertinya orang-orang di tempat itu jarang menggunakan taksi sehingga supir taksi mengabaikannya ketika ia menahannya.
Hara menghembuskan nafasnya dan memutuskan menaiki angkutan umum lainnya yang tersedia bagi warga sipil.
Hara tidak memiliki peta sehingga membiarkan angkutan umum itu melewati 3 halte sebelum ia turun dari angkutan umum.
Tempat dimana Ia turun sangatlah asing baginya. Ia duduk di halte selama beberapa lama sebelum memutuskan untuk mencari penginapan di sekitar situ.
Ia menemukan sebuah hotel kecil dengan biaya yang murah lalu menginap di situ.
Untunglah ia sempat mencuri uang wanita itu ketika wanita itu lengah. Hara tidak peduli dengan rasa bersalahnya karena wanita itu juga bersalah padanya.
Hara menganggap uang yang ia curi ialah tebusan dari wanita itu karena telah membohonginya.
...
Pagi hari di ibukota, itu adalah hari dimana Asyila akan resmi menikah dengan Kendra.
Asyila duduk dalam ruangan yang telah di dekorasi dan dikelilingi oleh pengantin-pengantin bayangannya.
Semua yang ada di sana ialah sahabat-sahabatnya, mereka semua bergembira atas pernikahan yang akan digelar.
Namun sampai jadwal yang ditentukan untuk menyambut kedatangan pengantin pria, Kendra tak juga muncul sampai 2 jam berlalu dan kepanikan semakin menjadi-jadi di acara tersebut.
Semua orang mulai berbisik kesana-kemari karena pengantin pria yang tak kunjung datang.
"Badjingan ini, ia mau mempermainkanku!"
"Ayah tenanglah, kemungkinan ia sedang terjebak macet."
"Apa yang terjebak macet? Terjebak macet selama 2 jam?"
Asyila akhirnya diam. Ia juga merasa sangat gelisah, bagaimana mungkin Kendra akan mempermalukan kedua keluarga besar itu.
Sementara di rumah Kendra, Ranan kembali jatuh sakit mengetahui putranya telah melarikan diri ke luar negeri.
"Suami tenanglah, jangan biarkan kesehatanmu menjadi lebih buruk. Siapa yang akan menasehati anak kita nanti kalau kau jatuh sakit." Marita Menenangkan suaminya.
"Ia tidak mau mendengarkan ku sebagai ayahnya. Aku telah gagal menjadi seorang ayah!"
Marita pun merasa sangat sedih, tapi ia sangat mempercayai keputusan putranya. Jadi ia hanya menghibur suaminya saja.
Saat itu sekretaris keluarga mereka memasuki kamar itu.
"Ada apa?" Tanya Marita pada lelaki paruh baya itu.
"Tuan muda menyuruh saya menyerahkan dokumen ini pada tuan besar," ucap lelaki itu menyerahkan dokumennya pada Marita.
"Marita menerima dokumen itu dan hendak membukanya ketika suaminya sudah berkata "Berikan padaku."
Marita kemudian meletakkan dokumen itu di atas tempat tidur lalu membantu suaminya untuk duduk bersandar pada sandaran ranjang.
"Berikan kacamatanya," ucap Ranan seraya membuka dokumen di atas pahanya.
Marita terdiam di samping suaminya melihat tangan gemetaran suaminya membuka satu persatu dokumen itu dan membacanya.
Semakin membacanya, Ranan semakin merasa tertekan hingga akhirnya tak sanggup lagi membacanya.
Wajahnya berubah pucat ketika ia melemparkan dokumen itu ke lantai.
"Suami ada apa?" Tanya Marita ketika melihat ekspresi suaminya yang menggelap.
"Keluarga sialan itu!" Ucapnya terbata dan akhirnya sesak napasnya kembali kambuh.
"Panggil dokter!" Teriak Marita seraya membantu suaminya kembali berbaring.