
Ia berbalik dan melihat punggung Kendra, lelaki itu masih tenang membuka kancing kemejanya.
Wajahnya segera memerah, ia berbalik membelakangi pria itu dan kembali berusaha membuka pintu.
"Kau mau mandi atau bermain dengan gagang pintu?" Kendra melemparkan pakaian terakhirnya ke keranjang baju kotor.
Ia kemudian berjalan ke pancuran air dan mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Hara membelikan kepalanya dan bernafas lega melihat pria itu telah mandi.
Ia segera menarik sekat dan menghalangi pandangan mereka bertemu. Barulah ia melepas pakaiannya dan masuk ke bak berendam.
"Apa kau begitu malu padaku? Aku bahkan sudah ingat setiap inchi lekuk tubuhmu." Kendra berbicara setelah menyadari Hara telah masuk ke bak berendam.
Tapi Hara hanya diam dan tak memperdulikan pria itu.
Kendra selesai mandi dam keluar dari kamar mandi, ia kemudian memakai pakaiannya dan duduk di tepi ranjang.
Setelah beberapa saat Hara keluar dari kamar mandi, wanita itu membalut tubuhnya dengan handuk.
"Apa yang kau lihat? Jauhkan mata cabulmu itu!" Bentak Hara sebelum berlari ke ruang ganti.
"Pakai ini," Kendra memberikan baju yang telah disiapkannya pada Hara.
Hara masih memakai handuk dan menoleh melihat gaun di tangan Kendra.
Kendra meninggalkan Hara.
Hara berusaha memakai gaunnya, tapi gaun itu terlalu sulit untuk ia kenakan ketika tidak di bantu orang lain. Ia berusaha menarik resleting belakangnya, tapi tangannya tak sampai.
"Kenapa kau begitu lama?" Kendra kembali masuk dan melihat Hara sedang berusaha menarik resleting gaunnya. "Kenapa tidak bilang, aku bisa membantumu." Kendra berjalan ke arah Hara.
"Kalau begitu cepat!" Hara membalikkan punggungnya ke arah Kendra, ia melihat dirinya di pantulan cermin.
Kendra mendekati Hara, tatapannya terpaku pada punggung Hara yang begitu mulus, kecuali pada bagian di mana ia meninggalkan bekas percintaan mereka.
Tapi memar-memar itu pun seolah mengundang hasratnya untuk meledak.
Begitu ia mendekat, bukannya menarik resletingnya ke atas, ia malah menurunkannya dan melingkarkan tangannya di pinggang Hara.
Kemudian ia menundukkan kepalanya dan mulai mencium leher belakang Hara.
Hara bergidik. "Mmmh, hentikan itu! Kita akan terlambat nanti!" Katanya sambil merontah di pelukan Kendra.
Hara sangat senang, ia melengkungkan bibirnya, tapi tangan dan tubuhnya ia gerakkan untuk melawan Kendra.
"Diamlah, tidak akan lama kalau kau menurut saja." Kendra membalikkan tubuh Hara dan mengangkat wanita itu ke meja rias.
Ia membuka paha Hara dan meletakkan tubuhnya di antara kedua kaki Hara.
"Kau! Bajunya akan kotor nanti!" Hara segera panik dan berusaha mendorong Kendra.
"Biarkan saja, ada banyak baju di lemari," Kendra tak memberi alasan bagi Hara.
Ia segera memegangi dagu mungil Hara dan menyatukan bibirnya dengan bibir Hara.
"Mmmh," Hara berusaha menutup mulutnya agar Kendra tak bisa menerobos masuk.
Kendra menghentikan ciumannya "Kau tidak ingin keluar dari rumah ini? Kalau kau mengacaukannya kali ini, tak dan lagi kesempatan di lain hari!" Ucap Kendra dengan tegas.
Hara segera menelan air liurnya. Ia tidak mungkin berada di tempat ini sepanjang hidupnya, kesempatannya untuk memperkenalkan diri sebagai kekasih Kendra akan lenyap.
Ia bahkan tak akan punya kesempatan mengunjungi makam orang tuanya.
Hara segera mendekatkan tubuhnya ke tubuh Kendra, ia kini mengambil inisiatif sendiri.
Kendra tersenyum sebelum membalas perlakuan Hara. "Ayo lakukan dengan cepat Nyonya Kecilku."
Setelah adegan erotis mereka berakhir, mereka kembali mengganti baju yang telah kotor oleh perbuatan menyenangkan mereka.
Hara butuh waktu lama untuk di rias hingga mereka siap dan berangkat ke acara pesta.
Hara begitu senang melihat dunia luar, di mana ia bisa memperhatikan gedung tinggi dan semua tempat yang pernah ia kunjungi di tubuh lamanya.
Mereka melewati pusat perbelanjaan, karaoke, restoran ternama, gym, salon dan spa.
Ia tak melewatkan satu pun dan menikmati perjalanan itu sambil terus memainkan jarinya dengan senang.
Apakah Kendra akan mengijinkannya keluar dengan bebas setelah hari ini?
Ia menoleh melihat Kendra yang sedang bekerja lewat laptop di pangkuan pria itu.
Prianya!