Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Putri yang dilamar pangerannya


Sarapan yang mereka buat selesai dengan cepat.


Hara kembali ke atas kamar dan membangunkan Kendra yang masih tertidur.


Ia duduk di samping Kendra dan memperhatikan wajah itu, pira ini memilih Kintan untuk ia cintai.


Hara bisa memikirkan itu karena ia tahu, saat ini Kendra melihatnya sebagai Kintan, bukan sebagi Hara, dirinya sendiri.


Kendra terkenal akan kebenciannya pada wanita, dan juga, bahkan ketika ia yang menjadi tunangan Kendra, lelaki itu tak pernah berbicara dengannya.


Ketika Hara tenggelam dalam pikirannya, Kendra telah membuka matanya dan melihat gadis itu.


Hara tersenyum dan menyingkap selimut yang menutupi tubuh pria itu, ia kemudian berbaring mengecup bibir Kendra sebelum tidur memeluk pria itu.


Niatnya membangunkan Kendra berubah menjadi perasaan ingin bermanja-manja dengan pria itu.


Kendra menyambut Hara dengan semangat lalu melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Hara, bahkan sala satu tangannya telah menyusup ke balik gaun tersebut.


"Ada apa denganmu?" Tanya Kendra.


"Aku sedang memikirkan sesuatu." Ucap gadis itu memperbaiki posisi kepalanya.


"Jangan terlaku banyak berpikir, aku membawamu kemari untuk bersenang-senang, bukan untuk menjadi stres." Pria itu mengecup Hara.


"Mm,," gumam wanita itu dan tak lagi berniat mengutarakan apa yang ada di pikirannya.


Kendra bisa membaca suasana hati yang buruk gadis itu, ia semakin merapatkan diri dengan Hara dan mencumbuinya penuh cinta.


Tiba-tiba ponselnya berdering.


Kendra mengabaikannya dan lanjut memperdalam ciumannya sampai sering ponsel itu berhenti.


Tangannya hendak menyusup ke bawah ketika telpon sialan itu berdering lagi.


"Angkat panggilannya, mungkin itu penting." Hara bergerak melepaskan diri dari Kendra dan meraih ponsel di atas nakas.


Ia sempat melihat nama pemanggil itu, seorang mantan sahabatnya yang kini menjadi tunangan om senangnya!


Kendra dengan ketus meraih ponselnya lalu menekan tombol terima. Tapi pria itu hanya diam saja sambil terus memeluk Hara.


"Di mana kau? Aku tidak bisa menemukanmu di kantormu." Kata wanita itu dari seberang telpon.


"Luar negeri."


"Apa? Mengapa aku tidak memberitahuku? Apakah pekerjaanmu membutuhkan waktu yang lama?"


"1 bulan."


Saat itu Hara bisa mendngar percakapan mereka karena Kendra begitu dekat dengannya.


Ia mengigit bibirnya dan jantungnya berpacu cepat menunggu jawaban Kendra.


Apakah liburannya akan terganggu karena penyihir itu?


Apakah Kendra lebih memilih gadis itu ketimbang dirinya?


Sementara Hara berada dalam rasa gugupnya, akhirnya Kendra telah berbicara "Aku sibuk." Lalu pria itu menutup panggilan tersebut.


"Ayo makan." Hara segera bangkit dan berjalan cepat ke arah pintu.


Ia ingin melompat sangat tinggi dan berteriak sangat keras serta berputar sangat cepat.


Ia bersenandung sambil berlari kecil ke lantai bawah.


"Nyonya, hati-hati," Olan begitu khawatir melihat Hara yang sedang berlari seperti putri yang baru saja di lamar oleh pangerannya.


"Tidak, aku tidak akan terjatuh, lihat ini," Hara berputar dengan senang sambil tersenyum merekah kemudian berhenti dan melihat Olan yang di depan pintu dapur. "Lihat! Aku baik-baik saja bukan?"


Hara kemudian lanjut berputar di ruang santai dengan begitu senangnya. Sementara Olan yang merasa khawatir Hara akan terjatuh segera panik di tempatnya. Tapi ia tidak bisa melakukan apa pun.


"Aku akan berputar dengan cepat!" Hara meningkatkan gerakannya hingga, Bruk!!!


Ia terbentur di vas bunga yang tinggi hingga vas itu terjatuh dna pecah.


Sementara Hara tak bisa menahan keseimbangannya dan ikut terjatuh pada serpihan vas di bawah lantai.


"Nyonya!" Olan berteriak keras dan berlari menghampiri Hara.


Anni yang berada di dapur juga keluar dan melihat Hara telah tergeletak di lantai dengan darah segar keluar dari tubuh gadis itu.


Anni membelalakkan matanya dan berlari membantu Olan membangunkan Hara.


"Nyonya, kau baik-baik saja?" Tanya Olan dengan khawatir sambil membantu Hara duduk di sofa.


"Apa yang terjadi?" Kendra berjalan dari lantai dua dan melihat ketiga wanita itu.


Keningnya langsung berkerut melihat vas bunga yang berserakan di lantai dengan beberapa genangan darah di sana.


Ia berlari melompati 3 anak tangga hingga tiba di mana Hara sedang duduk.


"Panggil dokter!" Ucap pria itu dengan tidak sabaran.