
Hara terluka di kedua kaki dan kedua telapak tangan yang ia gunakan untuk menopang tubuhnya saat jatuh.
Semuanya di perban dengan rapi sebelum dokter itu meninggalkan apartemen mereka.
"Apa yang ada di otakmu hingga membuat masalah dengan vas yang diam di tempatnya?" Kendra menerima makanan dari Olan.
"Ha ha ha, aku hanya belajar menari, siapa juga yang begitu nakal meletakkan vas bunga yang sangat tinggi di situ?" Hara melihat perban di telapak tangannya.
Kendra menggelapkan tatapannya melihat wanita itu masih tertawa ketika ia bahkan tak akan bisa menggunakan tangannya untuk memegang sendok.
Kemudian ia menatap ke arah Olan "Telpon orang untuk menyingkirkan semua vas bunga di rumah ini," kata pria itu dengan datar.
"Baik Tuan." Olan kemudian berjalan pergi.
"Kenapa kau menyingkirkan semuanya? Apa yang akan menjadi dekorasi ruang kalau kau menyingkirkan semuanya?" Hara bertanya dengan bingung.
"Diam dan buka mulutmu," kata Kendra sambil mengarahkan satu suapan nasi ke arah mulut Hara.
Hara menerima suapan itu dan mengunyah makanannya seraya memperhatikan wajah Kendra yang tidak nyaman untuk di pandang.
Tapi ia dalam keadaan yang sangat bahagia sekarang, jadi Hara tersenyum melihat pria itu.
Kebahagiannya semakin bertambah mengingat pria di depannya bahkan menyingkirkan semua vas bunga itu hanya untuk melindunginya.
"Ada apa dengan senyummu itu? Kau baru saja membuat semua orang hampir kehilangan jantung mereka dan kau di sini tersenyum seperti itu?" Kendra memberi satu suapan lagi pada Hara.
"Maafkan aku," ucap wanita itu dengan menyesal lalu menunduk memperhatikan tangannya. Tapi ia tetap tersenyum meski ia berusaha menyembunyikan senyuman itu dari Kendra.
Sekarang tangannya mati rasa karena di beri obat bius agar tidak membuat Hara kesakitan ketika semua serpihan kaca yang tertinggal di dagingnya dilepas.
"Kau mau belajar menari? Aku kan mencari seoragn,"
"Baiklah, berhenti berbicara dan habiskan makananmu." Ucap pria itu kemudian.
Hara menghabiskan semua makanannya dan meminta Kendra memindahkannya ke lantai bawah. Ia ingin melihat pemandangan laut dari jendela besar di lantai bawah.
Kendra duduk di sampingnya, pria itu sedang makan hingga terjadi keheningan di antara mereka.
Ketika Kendra selesai makan, ia duduk di samping Hara dan mengupas buah untuk gadis itu.
"Kau tidak bekerja?" Tanya Hara mengingat pekerjaan Kendra.
"Bagaimana aku akan meninggalkanmu dengan kondisi seperti ini?" Kata pria itu sambi mengupas buah apel di tangannya.
"Ada Olan dan juga Anni, aku akan baik-baik saja." Ucap wanita itu sambil bergeser menghadap Kendra.
"Jangan banyak bergerak, lukanya bisa terbuka kembali." Pria itu penuh kecemasan meletakkan pisau dan buahnya lalu membantu Hara berpindah tempat.
"Aku akan baik-baik saja, bagaimana bisa kau meninggalkan pekerjaanmu," Hara menikmati posisi barunya dan memperhatikan wajah Kendra.
"Lalu bagaimana caramu berpindah tempat? Atau bagaimana caramu pergi ke toilet? Kau ingin meminta bantuan mereka untuk membersihkan area pribadimu saat kau,,"
"Cukup!" Wajah Hara memerah dan ia melihat sekelilingnya memastikan tak ada Olan maupun Anni di sana.
Ha ha ha... Suara tawa Kendra meledak melihat ekspresi panik Hara. "Aku akan berkerja dari rumah agar bisa mengawasimu, siapa tahu nanti kau bukan hanya memecahkan vas, tapi malah membakar rumah."
"Omong kosong apa yang kau katakan itu? aku bahkan tak bisa memegang ponsel dan kau menuduhku akan membakar rumah?" Hara merasa sangat kesal.
"Ha ha, baiklah nyonya kecil." Kendra mencolek hidung Hara dengan jari telunjuknya.