
Dengan terpaksa Kendra menahan diri sekuat mungkin membantu Gadis itu mandi.
Setelah mandi, Hara dibantu Kendra untuk mengeringkan rambutnya. Kemudian mereka lanjut tidur, Hara bisa merasakan pria itu berusaha sekuat mungkin menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Ia tidak tahu apa alasan pria itu, karena hanya tangan dan kakinya saja yang terluka, tidak ada bagian lain yang terluka serius sehingga akan mempengaruhinya saat berhubungan. Ia tersenyum saat melihat punggung lelaki itu, lelaki itu tidur membelakanginya.
"Mengapa kau tidur seperti itu?" Greta bertanya kecil di belakang Kendra.
"Mmhh.." gumam lelaki itu dengan suara yang hampir tidak terdengar membuat Hara tertawa geli.
Gadis itu akhirnya tidak lagi mengganggu pria itu, ia tahu Kendra berusaha keras dan sedang berjuang untuk tidak menyentuhnya.
Ia kemudian memejamkan matanya sambil tidur membelakangi lelaki itu juga.
Keesokan paginya, Hara terbangun karena merasakan benda lembut yang basah mengusap kulitnya.
Iya membuka perlahan matanya dan melihat lelaki itu sedang menunduk dihadapannya sambil memegang handuk basah dan mengelap tubuhnya.
"Aku harus bekerja hari ini, kau tinggal di sini bersama Anni dan Olan. Kemungkinan aku pulang tepat saat jam makan." Pria itu berkata penuh perhatian.
"Ok," kata Hara mengiyakan.
Setelah membantu Hara makan, Kendra kemudian bersiap untuk bekerja.
Harta tetap berada di tempat tidurnya dan tidak bergerak sampai lelaki itu pulang dan membantunya makan siang.
Tepat ketika mereka selesai makan siang, ponsel Kendra berbunyi. Pria itu segera meraih ponselnya dan melihat nama Asyila tertera disana.
Kendra menghembuskan nafasnya dengan gusar seraya mengangkat telepon itu.
" Apa lagi?" Ucap lelaki itu ketus.
Hara segera memasang telinganya mendengarkan pembicaraan itu dengan teliti.
"Aku berada di Dubai, Sekarang aku di bandara, jemput aku di sini." Suara gadis yang lembut itu terdengar dari ujung telepon.
"Tunggu di sana," kata pria itu kemudian menutup teleponnya.
Tatapan Hara segera meredup. Apakah lelaki itu akan meninggalkannya demi wanita itu?
Ia merasa gugup saat melihat Kendra berjalan keluar dari kamar itu.
Namun setelah beberapa saat Kendra kembali masuk lagi.
" Kau tidak menjemputnya?" Tanya wanita itu seraya memperhatikan Chandra.
"Sopir akan menjemputnya."
"Sopir akan membawanya ke hotel." Pria itu naik ke tempat tidur dan memeluk Hara.
Sampai satu minggu berlalu Kendra tak pernah meninggalkan Hara, lelaki itu terus berada di sisinya sambil bekerja lewat komputernya.
Pagi itu Hara terbangun dan melihat ranjang disampingnya telah kosong. Pria sudah bangun.
Kaki dan tangannya yang terluka sudah tidak sakit lagi jadi iya memakai sendalnya dan berjalan ke lantai bawah.
"Nyonya kau sudah sembuh," ucap Anni segera menghampiri Hara.
"Iya, aku baik-baik saja sekarang," jawab Gadis itu seraya berjalan ke meja makan.
"Nyonya, kau disini." Olan keluar dari dapur memakai celemek.
Hara mengangguk sambil tersenyum kepada wanita itu."kemana perginya Kendra?" Tanyanya kemudian.
"Kami tidak tahu, Tuan keluar pagi-pagi sekali." Jawab Anni.
Hara hanya mengangguk dan tidak lagi mempertanyakannya "Duduklah dan ayo kita sarapan bersama,"
"Terima kasih Nyonya," Kata Ani seraya kedua perempuan itu duduk di hadapan Hara.
...
Sementara di tempat lain Asyila bersama Kendra di sebuah restoran mewah.
"Aku sudah 1 minggu di sini, tapi kau kau tidak pernah menemuiku selama itu." Asyila menatap Kendra dengan ketus.
"Aku sibuk," jawab pria itu singkat.
"Sesibuk apa kau hingga melupakan istrimu sendiri?" Gadis itu merajuk.
"Sibuk bekerja," Pria itu kembali menjawab dengan singkat seolah percakapan mereka tidak menarik baginya.
Asyila tahu tidak ada gunanya merajuk di depan pria itu, jadi ia menunduk dan makan makanannya.
Setelah selesai makan Asyila memaksa Kendra menemaninya berbelanja.
Mereka berbelanja sampai sore, kemudian Kendra mengantar Asyila kembali ke hotel.
"Karena kau sangat sibuk di sini aku akan kembali saja ke ibu kota." Kata gadis itu dan berlalu masuk ke dalam lift.
Asyila menghentakkan kakinya begitu pintu lift tertutup ia merasa kesal sepanjang perjalanan mereka berbelanja, Kendra tidak pernah memperhatikannya dan hanya sibuk mengurus teleponnya yang terus berdering karena urusan pekerjaan.
Ia sadar, memang tidak ada gunanya ia mengikuti pria itu kemari.