
Hara menajamkan matanya tak lagi berniat membukanya jika masih ada perawat lain yang memasuki kamarnya.
Benar saja, ia mendengar suara pintu yang didorong di ikuti langkah tenang seseorang.
Begitu orang yang memasukinya mendekat Hara segera mencium wangi parfum yang sering dinikmatinya.
Parfum elite yang mahal itu hanya bisa dibeli oleh beberapa orang saja. Dengan demikian ha bisa menebak siapa yang telah datang.
Tapi ia tetap memejamkan matanya benar-benar tidak berniat melihat wajah orang itu.
Tiba-tiba saja ia merasakan nafas seseorang yang semakin mendekat ke arahnya, pikiran terliarnya memberitahunya seseorang itu berusaha menciumnya.
Tapi ia tidak mau terganggu dan tetap memejamkan matanya seolah tak ada apa-apa.
Detik berikutnya ia sudah merasakan sesuatu yang lembut, hangat, manis dan basah mendarat di bibirnya.
Seandainya ia memiliki tenaga ia akan mengarahkan tangannya dan menerapkannya dengan keras di pipi lelaki itu, tapi percuma, ia benar-benar tak memiliki tenaga.
"Bangunlah dan makan," ucap lelaki itu dengan lembut, nada suaranya sangat sabar.
Tapi Hara tetap diam seolah hatinya hampa, seolah dirinya benar-benar sedang tertidur tak merasakan apapun.
Tangan lelaki itu kemudian mendarat di kulitnya yang panas memperbaiki rambutnya yang ia perkirakan telah kusut dan berminyak.
Jika saja hubungannya dengan laki-laki itu sedang baik-baik saja, Hara akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang romantis karena lelaki itu rela mengotori tangannya dengan menyentuh rambut lepek yang berminyak hanya untuk memperbaiki rambutnya yang berantakan.
Bahkan ciuman lelaki itu akan terasa sangat menyenangkan karena lelaki itu menciumnya bahkan saat ia tahu Hara belum menggosok gigi selama beberapa hari. Apalagi pria itu ialah pria yang sangat menikmati kebersihan sehingga mustahil bagi pria itu mau menyentuh hal-hal kotor seperti itu.
Tapi kini, Hara justru merasa jijik dengan kelakuan laki-laki itu. Ia merasa jijik dengan perhatian yang diberikan laki-laki itu hanya karena rasa kasihan.
"Kau benar-benar memaksaku untuk melakukannya." Setelah pria itu mengatakannya, Hara merasakan pria itu sudah menjauh darinya hingga beberapa saat pria itu kembali mendekat.
Bahkan bukan hanya dekat, Hara bisa merasakan hembusan nafas pria itu kemudian bibirnya merasakan sesuatu yang hangat bahasa seperti sebelumnya.
Tapi tidak seperti sebelumnya, jika ciuman sebelumnya hanya berlangsung singkat seperti kecupan biasa saja, kini pria itu berusaha membuka bibir Hara, pria itu bahkan menyelipkan lidahnya di antara bibir Hara, lalu Hara merasakan air mengalir ke dalam mulutnya.
Hara sangat terkejut.
Sialan!
Pria itu berusaha memberinya minum dengan cara menciumnya.
Tapi hari tidak mau mengalah, gadis itu kemudian sengaja berbatuk pelan sebelum kembali tenang seperti seseorang yang sedang tidur lalu dipaksa menelan.
"Jangan berpura-pura, aku tahu kau tidak tidur." Suara pria itu terdengar tenang dan yakin.
Hara tetap diam.
"Aku akan memberimu air lagi," terdengar suara pria itu setelah beberapa saat Hara terdiam.
Lalu seperti sebelumnya, ia merasakan sesuatu yang kenyal dan basah bibirnya diikuti aliran air yang masuk ke mulutnya.
Sialan! Ia sudah tidak tahan lagi!
Segera ia tersedak dan akhirnya membuka matanya. Hal yang pertama dilihatnya ialah mata yang memandangnya dengan khawatir.
Tapi Hara tidak terjebak pada tetapan pria itu, ia malah mengejek pria itu dalam hatinya tentang keahlian akting pria itu melebihi aktor internasional.