
"Jalan!" Bentak pria di belakangnya seraya mendorong Hara keluar dari pintu.
Hara mencelos membayangkan dirinya akan menjadi tameng peluru.
Dor!
Sebuah tembakan lain menggema ketika Hara sudah keluar dari ruangan itu.
Hara Bahkan tak sempat berkedip ketika peluru itu telah menembus kulitnya.
Peluru itu tempat bersarang di dada sebelah kiri Hara memercikan darah segar yang keluar dengan deras.
Hara merasakan tubuhnya segera melemah dan ia terkulai lemas jatuh ke lantai.
Sayup-sayup ia mendengar seseorang berkata "Target sudah diamankan."
Setelah itu ia sudah tak sadarkan diri dan mata yang indahnya tertutup memberi kegelapan pada penglihatannya.
Pria yang tadinya mendorong wanita itu sengaja ingin membuat mereka yang sedang menembak dirinya menahan diri.
Ia ingin menyandera gadis itu agar bisa meloloskan diri, tapi kini semuanya sia-sia karena yang dilihatnya sekarang ialah sosok mayat yang sudah berlinangan darah di lantai.
Dengan cepat ia menutup pintu kayu itu lalu mendorong lemari untuk menahannya.
"Sial!" Gumamnya seraya meraih ponselnya dan membuat panggilan.
Sayangnya, saat itu tidak ada jaringan hingga ia tidak bisa apapun yang membutuhkan jaringan seluler.
Dengan kesal ia membanting ponselnya ke bawah lantai dan berteriak dengan keras.
Sementara di luar ruangan, para pria pria berbaju kaos hitam mulai bergerak mendekati kamar itu.
Salah seorang pria memberi kode pada pria lainnya lalu pria itu berjalan mendekati Hara dan mengangkatnya dari lantai.
Sementara pria lain sudah mengepung pintu itu menaruh sebuah bom di sana sebelum mundur dan meledakkan bom tersebut.
Duar!!
Ledakan yang lumayan besar itu membuat pintunya hancur berkeping-keping.
Sementara di luar gedung, sebuah mobil hitam baru saja tiba, seorang pria yang tampan namun berwajah dingin turun dari mobil dengan langkah terburu-buru.
Ia tergagap di tempatnya sambil berusaha menggerakkan lidahnya untuk berbicara "Pria yang menculiknya mendorong Nyonya keluar ruangan secara tiba-tiba dan, dan salah seorang dari kita sudah melepaskan tembakan."
"Tidak ada libur untuk 1 tahun," Pria itu berkata dengan dingin sebelum berjalan menuju ambulans meninggalkan radio yang masih terpaku di sana mencerna kata-kata Kendra.
Seorang gadis dengan baju yang sobek di sana-sini berbaring tidak sadarkan diri.
Kemdra menggelapkan matanya saat ia naik ke atas ambulans itu lalu segera menggenggam tangan gadis itu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanyanya pada seorang dokter yang ada di sana.
"Ia akan baik-baik saja, tapi kami harus mengganti pakaiannya." Kata dokter laki-laki itu pada Kendra.
Kendra memicingkan matanya menatap dokter itu kemudian bertanya "Aku akan menggantinya."
Dokter itu merasa merinding dengan tatapan Chandra dan segera keluar dari ambulans itu. Namun setelah ia keluar dari ambulans ia kemudian terperangah.
Dokter yang sudah mendampingi lelaki itu itu sejak beberapa tahun terakhir tidak menyangka Tuannya akan menggantikan baju seorang wanita.
Kendra melepaskan satu persatu pakaian yang masih tersisa di tubuh Hara. Mata dinginnya semakin gelap ketika melihat ada banyak bekas kecupan di tubuh gadis itu.
Meski begitu, Ia tetap menahan amarahnya dan dengan lembut memperlakukan Gadis itu sebelum keluar dari ambulans.
"Tuan," Radi berdiri di luar menunggu Kendra.
"Dimana dia?"
"Kami sudah menahannya dan ia sedang pingsan."
"Bawa dia ke gudang di pinggir kota." Kemudian pria itu kembali ke dalam ambulans menggenggam tangan Nyonya kecilnya.
"Jalankan ambulansnya," katanya pada sang supir.
Tanpa berkata-kata apalagi sang supir itu mematuhi perintah
Kendra dan menjalankan mobilnya.
Bab selanjutnya nanti sore ya, soalnya penulis ada kegiatan mendadak.