Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Sala sangkah.


Mereka tiba di Dubai.


Hara segera berpisah dengan Kendra karena lelaki itu akan bertemu dengan kolega bisnisnya.


Ketiga orang yang tertinggal di antar ke apartemen oleh supir yang telah disediakan Kendra untuk mereka.


Apartemen yang mereka tempati sangatlah luas. Dengan desain modern yang membuat suasana menjadi lebih menyenangkan bagi Hara.


Ketiganya tidak berbasa-basi dan segera pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat memulihkan diri dari jet lag.


Keesokan paginya ketika Hara terbangun, seperti biasa, sebuah lengan berat melingkarkan di sekeliling tubuhnya.


Ia bergerak memindahkannya dengan hati-hati berusaha mencegah Kendra terbangun.


Saat ia berjalan ke dapur ia mendengar suara tawa kedua gadis dari sana.


"Aku memberinya obat tidur sehingga ia tidak bangun sampai siang dan terus merasa kesal karena tidak bertemu Tuan." Anni berbicara dengan senang sambil tertawa.


"Benarkah? Apa penyihir itu tidak marah?" Olan begitu antusias bertanya.


"Awalnya ia tidak perduli, tapi setelah 2 hari ia bangun memarahiku. Aku bahkan tak ingin memanggilnya Nyonya, jadi aku memanggilnya dengan sebutan Nona, ia akhirnya marah besar lalu memecatku." Kata Anni sambil membersihkan sayur di hadapannya.


"Apakah ia benar-benar menikah dengan Tuan?"


"Aku tidak tahu pasti, tapi sebuah cincin dengan berlian besar melingkar di jari manisnya, ia selalu memperhatikan cincin itu dan bergumam tidak jelas."


"Apakah cincin itu pemberian dari Tuan?"


"Entahlah, aku harap tidak sepeti itu!" Jawab Anni.


Hara segera berjalan menghampiri kedua gadis itu dan duduk di sala satu kursi di sana. "Apa kalian sedang membicarakan majikan kalian?"


Kedua orang itu tersentak kaget menoleh ke arah Hara. "Nyonya," ucapnya bersamaan. Ketakutan terpampang jelas di wajah mereka.


"Aku ingin mendengarnya, ceritakan juga padaku!" Kata Hara meningkatkan ketertarikannya.


Kedua gadis itu akhirnya tertawa lepas. Astaga barusan mereka sangat ketakutan.


"Apa lagi yang bisa ku ceritakan, Nyonya sudah menguping kami berbicara." Anni menjawab.


"Jadi tidak ada lagi yang lain?" Hara merasa kecewa.


"Tunggu mungkin Nona masih belum mengetahui cerita ini," Anni bersemangat. "Ketika Nyonya pertama kali pergi dari villa, itu adalah 2 tahun yang lalu, Tuan kembali ke sana saat penyihir itu datang. Penyihir itu tidur di kamar bekas Nyonya. Aku pikir saat itu Tuan akan tinggal juga di sana, tapi akhirnya, larut malam Tuan pergi meninggalkan villa."


Hara segera ingat kejadian saat ia diterlantarkan di hotel. "Jadi Kendra tidak menginap bersama penyihir itu?"


"Ya, ia pergi saat subuh sekali, mungkin sekitar jam 1 subuh. Dan si penyihir itu bangun di pagi hari, aku hanya memberitahunya kalau Tuan berangkat kerja pagi-pagi sekali."


Hara meredupkan matanya, kemana Kendra pergi saat itu? Kendra juga tidak tinggal bersamanya. "Lalu kemana Kendra pergi?"


Olan yang diam segera berbicara "Bukankah ia tinggal bersama Nyonya di hotel?"


Pfft, Olan menahan tawanya.


Hara semakin bingung melihat ke arah Olan. "Ada apa?"


"Nyonya, sepertinya Nyonya lupa, saat itu ketika saya akan mengantar pakaian ganti untuk Nyonya, Tuan membuat saya menunggu di luar sangat lama. Aku pikir terjadi sesuatu di dalam. Tapi Tuan keluar dengan sangat rapi, rambutnya basah dan menyuruh saya untuk menunggu sampai Nyonya bangun."


"Jadi maksudmu?" Hara memicingkan matanya.


"Tepat sekali, sepertinya malam itu Nyonya tidur sangat nyenyak!" Olan tersenyum lebar melihat ekspresi polos Hara.


Anni kembali berbicara membuyarkan kelucuan wajah Hara "Oh, masih ada, saat itu pertama kalinya Tuan kembali ke villa setelah 2 tahun tak pernah menginjakkan kakinya di sana."


"Apa? Jadi Tuan benar-benar tak pernah ke sana?" Olan bertanya penuh kejut.


"Ya, tak pernah!"


"Astaga! Aku salah sangkah, setiap kali ketika Tuan kembali larut malam aku selalu berpikir ia singgah di rumah penyihir itu!"


Anni menggelengkan kepalanya. "Saat itu pertama kalinya Tuan kembali ke Villa ia datang bersama penyihir itu, saat itu juga pertama kalinya penyihir itu menggunakan cincin,,"


Olan segera menyelah, "Jadi maksudmu, saat itu ketika Tuan pulang sangat larut,,"


"Jangan menyelahku!" Anni merasa kesal dan menjitak kepala Olan.


Olan memegangi kepalanya dengan tidak berdaya seraya mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Penyihir itu membuat teh untuk Tuan, tapi kemudian Tuan tak menyentuhnya sama sekali, ia menyuruhku membuang tehnya." Lanjut Anni.


Olan menutup mulutnya "Apakah Tuan takut diracuni oleh penyihir itu?"


"Kemungkinan penyihir itu menaruh obat di dalam tehnya. Aku melihat dia menuang serbuk putih di sana."


"Apa? Tunggu! Jadi ia ingin meracuni Tuan?" Tanya Olan dengan mata membelalak.


"Aku tidak tahu, tapi pagi harinya ketika penyihir itu bangun, ia menggunakan baju yang seksi, aku pikir ia menaruh obat lain di sana. Tapi untunglah Tuan tidak menyentuh minuman itu."


"Dasar penyihir licik!" Gerutu Olan kemudian.


"Selesaikan makanannya, aku akan membantu kalian." Hara bangkit berdiri dan membantu mereka.


Selama 2 tahun ia sudah berpikiran buruk pada pria itu.


Tapi mengapa Kendra memilih Intan?


Ia menyingkirkan pikiran itu sejenak dan memilih menyimpannya dalam hati.


Terlalu banyak teka teki setelah ia berpindah tubuh.