
"Aku akan menemanimu di sini." Kata pria itu dengan sangat lembut seraya duduk menggenggam tangan Hara.
Hara hanya mendengar perkataan pria itu tanpa mau mengalihkan pandangannya melihat mata Kendra.
Karena ia tak memiliki tenaga yang cukup untuk berdebat dengan pria itu, Hara memilih untuk tidur dan ia memejamkan matanya dengan cepat.
Ketika ia bangun, saat itu sudah malam hari. Ia mencium wangi bubur yang sangat menggugah selera. Benar saja, bubur itu diletakkan di samping rancangannya dan seorang pria ada di sana sedang menuangkan air ke dalam sebuah gelas.
Setelah menuang air itu pria itu kemudian melihatnya sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Hara.
"Kau sudah bangun, aku sudah menyiapkan bubur untukmu." Kemudian pria itu menaikkan sandaran ranjang Hara hingga Hara.
Kendra kemudian meraih air putih yang telah Ia masukkan ke dalam gelas, ia juga mendapatkan sebuah sedotan lalu memasukkannya ke dalam gelas.
"Minumlah dulu," ucapnya dengan lembut pada Hara seraya mengarahkan pipet tersebut ke bibir pucat Hara.
Hara hanya memandang pipet itu namun tidak berniat untuk membuka mulutnya.
Bahkan air matanya kembali bercucuran seraya hatinya berasa dicabik-cabik.
Saat ini yang ia pikirkan laki-laki itu sedang mengasihaninya karena ia menderita seperti ini akibat istri Kendra yang merasa cemburu padanya.
Pria itu hanya melakukannya agar ia tidak merasa bersalah karena istrinya telah melukai nya.
"Jangan bersikap seperti ini, kalaupun kau marah padaku, kau harus tetap makan agar tenagamu kembali pulih dan kau bisa memarahiku sepuasnya." Pria itu meletakkan gelasnya kembali ke kenampakan di atas meja lalu meraih selembar tisu dan menyeka air mata Hara.
Harat tidak menerima ataupun menolak, ia tetap diam di tempatnya dengan pandangan lurus ke depan seraya membiarkan air matanya mengungkapkan seluruh isi hatinya.
Ia berharap dirinya hanya ingin mati agar pria itu tidak perlu repot-repot untuk mengurusinya.
Menyadari tatapan pria itu, Hara kemudian memejamkan matanya dan berusaha membuat dirinya tertidur. Tapi pria itu sama sekali tidak mau membiarkannya tertidur dan Kendra terus membujuknya agar ia mau memaafkan pria itu dan mau menerima makanan yang telah disediakan Kendra.
Akhirnya setelah Hara terus menolak pria itu, Kendra akhirnya meninggalkan ruangannya.
Hara merasa lega melihat pintu yang tertutup itu kemudian memejamkan matanya seraya menahan rasa sakit dari perutnya.
Tentu saja perutnya terasa sakit karena ia belum makan selama beberapa waktu enggak memicu asam lambungnya naik.
Bahkan belakangnya terasa nyeri karena terus-menerus berbaring dalam posisi yang sama, tapi ia tidak memiliki tenaga untuk bergerak mengganti posisi tidurnya.
Akhirnya seorang perawat memasuki ruangannya dan membawa nampan lain yang berisi bubur.
"Selamat malam Nyonya, saya datang membawa makanan Anda." Perawat itu kemudian meletakkan makanannya di atas meja lalu membantu Hara untuk duduk.
Sama seperti sebelumnya, Hara tetap diam dan menolak makanan yang dibawa perawat itu.
Pada akhirnya, perawat itu juga meninggalkan ruangan Hara.
Sampai 2 jam berikutnya, sudah sekitar 10 perawat yang memasuki ruangan Hara membujuk wanita itu mau memakan buburnya.
Namun Hara tetap keras kepala dan tidak bergeming dengan bujukan para perawat-perawat itu.
Ia lebih memilih mati kelaparan, dari pada hidup melihat Kendra bersama dengan wanita lain, sambil pria itu mengasihaninya.
Ia sadar, sebesar apapun cintanya pada pria itu, ia tidak akan pernah memiliki Kendra yang tak mengijinkannya memasuki hatinya.
Ini sudah pilihannya, ia tidak mau menderita lagi.