
Keesokan paginya ia tersadar dan bangun dari rerumputan di mana ia tertidur.
Hara berjalan ke arah gerbang dan memperhatikan foto keluarganya yang dipajang begitu besar di sala satu sudut pemakaman mereka.
"Selamat tinggal Ayah, Ibu. Hara selalu merindukan kalian. Hara berjanji akan menjadi anak yang patuh sesuai keinginan kalian. Meski sekarang Hara bukan berada pada tubuh Hara, Hara tetaplah anak kalian. Hara menyayangi kalian." Hara mengusap air mata yang kembali menyapa pipinya "Hara janji, hara akan sering mengunjungi kalian dan membawakan makanan kesukaan kalian. Ayah, Ibu, hiks,,, aku sangat merindukan kalian."
Sebuah mobil hitam berhenti di depan bangunan itu, lalu beberapa pengawal menarik paksa Hara.
"Sialan!" Hara menutup mulutnya tersadar akan janjinya untuk berubah.
"Lepaskan! Siapa kalian?" Katanya merontah di bawah pegangan kedua orang itu.
Detik berikutnya, Hara telah berada di dalam mobil. Orang-orang itu mengikatnya dan mendudukkannya di tengah-tengah mereka.
"Siapa kalian? Apa gunaya kalian menculik anak yatim seperti aku?" Air mata Hara terus merembes dari mata bengkaknya. Ayah, ibu, selamatkan putrimu dari orang jahat ini.
"Diam, atau kami akan membungkam mulutmu," kata sala satu pria itu.
"Mengapa aku harus diam ketika mulut diciptakan untuk berbicara? Sekarang juga lepaskan aku!" Teriaknya sambil merontah tak berdaya.
"Tolong! Tolong!" Teriaknya lagi.
"Bagaimana ini?" Sala satu pria itu bertanya.
"Bius saja dia."
Hara melototkan matanya dan meronta lebih keras, berusaha menghindari sapu tangan yang diarahkan ke wajahnya.
Sayangnya pria itu lebih kuat, dan Hara jatuh pingsan setelah beberapa saat.
"Lepaskan ikatannya." Perintah seorang pria yang duduk di kursi depan.
Pria itu melepaskan ikatan pada tangan Hara. Namun kemudian ia melihat tangan Hara menjadi kemerahan karena tali yang mengikatnya terlalu kuat. "Tangannya terluka." Kata pria itu dengan panik.
"Sial! Tuan akan marah kalau mengetahuinya. Oleskan salepnya." Pria di depan memberikan salep yang ia ambil dari sakunya.
"Kau harus berhati-hati setiap kali menjalankan perintah Tuan. Ia akan membunuhmu jika terjadi kesalahan." Katanya dan meluruskan pandangannya ke depan.
"Ha ha ha. Tentu saja. Tapi gadis satu milyar ini memang mengagumkan." Katanya memperhatikan semua bagian tubuh Hara.
"Jaga mata cabulmu itu! Kau akan kehilangan matamu kalau Tuan mengetahui kau menatap gadisnya dengan sembarangan." Pria di depan memperingatkannya.
"Maafkan aku." Kata pria itu dan tak berani lagi menatap ke arah Hara.
"Tapi, mengapa bos memilih gadis ini? Bukankah dia miskin dan, ya aku harus mengakui dia memang memiliki tubuh yang bagus." Kata pria itu lagi.
"Mungkin Tuan sudah jatuh cinta. Ha ha ha... Apa kau pikir itu mungkin?"
"Aku tidak pernah melihat Tuan tertarik dengan hadis mana pun. Bahkan dengan tunangannya yang super molek itu, ia tidak pernah mau memandangnya."
"Kau benar, mari berpikir kalau Tuan hanya akan mencoba melepas perjakanya pada seorang gadis perawan ini."
"Kau yakin gadis ini masih perawan? Dia akan berusia 17 tahun, dan juga, ia memiliki paras yang tak terbantahkan akan menarik banyak perhatian lelaki. Mana mungkin ia menjadi gadis alim? Kenapa juga Tuan harus menunggu sampai ia berusia 25 tahun untuk melepas perjakanya. Mengapa ia tidak melepasnya dari dulu?"
"Entahlah. Mari kita lihat, berapa lama Tuan akan bermain denganya."
Pria di samping kiri Hara yang selalu diam mendengar percakapan mereka akhirnya mulai hilang sabar "Kalian tidak takut Tuan akan mendengar ocehan kalian? Mobil ini dipasang alat penyadap beberapa hari yang lalu."
"Apa?" Kedua orang itu bersamaan menyahut dan melotot ke arah pria yang baru saja berbicara.
"Aku hanya bercanda. Bisakah kalian diam? Telingaku akan pecah mendengar suara bebek milik kalian itu."
Kedua pria itu akhirnya berhenti mengobrol hingga mereka tiba di vila utama Kendra.
"Kau yakin kita di suruh membawanya kemari?"
"Jangan banyak bicara dan pindahkan dia. Ingat, jangan macam-macam"
"Kau pikir aku punya berapa nyawa cadangan?" Pria itu membalas.