Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Mantan sahabat


Asyila terbangun pada pagi hari dan mendapati rumah itu telah kosong. "Dimana Kendra?" Tanyanya pada Anni.


"Tuan sudah berangkat bekerja." Jawab Anni.


"Sudah berangkat? Sepagi ini?" Asyila bertanya dengan bingung.


"Ya, Tuan selalu berangkat sangat pagi." Jawab Anni lagi.


Asyila mendengus kesal dan berlalu pergi. Ia kemudian menghubungi sala satu temannya dan memilih menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan.


"Aku dengar sala satu barang dari LX akan rilis hari ini." Mika berkata penuh kegembiraan pada Asyila.


"Kalau begitu kita harus mendapatkannya!" Katanya lagi.


"Benar, kita harus berjuang!" Mika menambahkan.


Ketika mereka tiba, toko LX sudah penuh dengan antrian.


"Aku rasa lain kali saja, aku tidak tahan harus berdiri mengantri." Katanya melihat kerumunan orang di depan toko.


"Siapa bilang, mereka semua yang mengantri ini akan gagal mendapatkannya." Mika mengangkat kartunya.


"Member platinum?" Asyila berteriak saat melihat kartu di tangan Mika.


"Hmm, sepupuku meminjamkannya. Kau harus menyuruh Kendra memberikanmu juga, jika kau sudah resmi bertunangan dengannya." Mika dengan sombong mengusap kartu itu.


"Tunggu saja. Aku akan mendapatkan gold-nya." Katanya dengan bangga.


Lalu mereka berjalan ke antrian khusus member.


Saat mereka hendak mendapatkan tempat, seorang gadis bersama pelayannya mendahului mereka.


Asyila menjadi kesal. "Ya! Kami lebih dulu berada di sini!" Katanya menepuk punggung gadis itu.


Hara merasa kesal dan berbalik melihat Asyila dan Mika.


Matanya terbelalak melihat kedua gadis itu. Mantan teman satu geng!


"Kintan!" Kedua gadis itu berseru begitu mereka mengenali Hara.


"Anak yatim miskin, apa gang kau lakukan di sini?" Mika memperhatikan Hara.


"Maaf, kalian salah orang, Nyonya saya bernama Hara." Kata pelayan itu dengan sopan.


"Hara?" Kedua gadis itu kembali serempak menyebut nama itu.


"Ya, sepetinya kalian salah orang." Kata pelayan itu.


Hara berbalik ke arah depan dan menunggu gilirannya.


"Maafkan kami, kami salah orang, tapi tempat ini kami dulu yang mendapatkannya." Kata Mika.


"Saya rasa kalian salah, saya sudah mendapatkannya sejak tadi, saya berdiri di sini, dan karena antriannya sudah memendek, saya memanggil Nyonya saya untuk menunggu." Katanya.


"Tidak apa, biarkan saja, ia mungkin hanya gadis yang bermimpi mendapatkan tas itu, ia tidak mungkin mendapatkannya tanpa kartu member." Asyila berkata sambil melihatnya jijik beberapa orang yang keluar dari toko dengan tangan kosong.


"Kau benar," kemudian mereka tak lagi perduli dan berdiri sambil berbincang.


"Bukankah kau dengar tadi namanya Hara?" Asyila berkata.


"Ya namanya sama dengan wanita menjijikkan itu, aku bahkan tak ingin mendengar namanya lagi."


Asyila tersenyum, "Kau tidak bisa berkata begitu, hantunya akan menghampirimu kalau ia mendegarnya."


"Sebaiknya ia lebih dulu menghampirimu, kau mencuri tunangannya!" Mika terkikik.


"Aku tidak mencuri, dialah yang lebih dulu mencuri dariku, aku hanya mendapatkan kembali hakku."


"Ya, kau benar, gadis sombong itu akhirnya bisa tenang bersama orang tuanya."


"Jangan katakan apa pun, aku berkorban banyak untuk membuatnya meninggalkan dunia." Asyila mengingat kembali dimana ia membayar paman Hara dengan perawannya.


"Tapi akhirnya kau berhasil, berapa banyak uang yang kau gunakan?" Tanya Mika.


"Aku hanya membiayai Dandam untuk kembali dan memberikannya sumber daya." Asyila memperhatikan kukunya.


"Tapi kau tetap hebat!" Puji Mika.


...