
"Kalau aku merayumu, apakah kau mau menemaniku di sini sampai besok malam?" Hara balik bertanya.
Kendra menatap Hara dengan datar. Ia memperhatikan mata penuh harap gadis itu "Kau tidak berhak memberiku syarat. Kau milikku!"
Hara tercengang. Ia lupa, kalau Kendra telah membelinya.
"Kalau begitu kau lanjutkan saja pekerjaanmu!" Hara berdiri meninggalkan Kendra.
Kendra melanjutkan pekerjaannya hingga sore hari ia baru menyelesaikannya. Kemudian ia menghampiri Hara yang telah tidur di atas ranjang.
Ia memeluk gadis yang terlelap itu dan tidur bersama.
Malam harinya ketika Hara tebangun, ia merasakan Kendra sedang memeluknya. Ia tidak bergerak sama sekali dan membiarkan pria itu tidur dalam posisi nyamannya.
Tapi sayang, setelah beberapa saat perutnya kembali berbunyi dan membangunkan pria itu.
"Kau lapar lagi?" Tanya Kendra dan bangun memperhatikan Hara yang sedang memegangi perutnya.
"Aku akan pergi makan." Kata Hara dan beranjak turun dari tempat tidur.
Keesokan harinya, Hara berhasil membuat pria itu tetap bersamanya. Ia sengaja mematikan ponsel Kendra dan menahan pria itu tetap berada di atas tempat tidur.
Pada malam harinya di mana pesta ulang tahun itu akan di mulai, Kendra baru turun dari tempat tidur dan mandi sebelum meninggalkan Villa itu.
Hara berdiri di baklon dan tersenyum penuh kemenangan.
...
Kendra tibn di mansion orang tuanya.
Ia berjalan dengan muka datar menghampiri ibunya "Selamat ulang tahun Bu," katanya lalu memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru tua pada Ibunya.
Marita meraih kotak itu dan memeluk putranya "Terima kasih sayang." Ucapnya dan mengecup pipi kanan Kendra.
"Dimana Ayah?" Tanya Kendra kemudian.
"Ayahmu sedang menyapa keluarga Asyila yang datang, pergilah kesana dan sapa juga mereka." Ucap ibunya dan berjalan pergi meninggalkan Kendra.
Kendra mengikuti perintah ibunya dan menemui orang tua Asyila.
Semua orang tersenyum melihat tingkah manis Asyila.
"Kalian orang muda," Ranan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka.
Setelah berbincang sebentar dengan ke-3 orang itu, Asyila menarik kendra ke dalam sebuah ruangan kecil.
Sikap Kendra yang acuh berdiri tegak di depan Asyila, sangat mendominasi.
"Kemana kau 2 hari ini? Kau bahkan mematikan ponselmu, jadi aku memilih sendiri hadiah yang ku berikan pada Ibu, untunglah ia menyukainya." Kata Asyila dengan sedikit kesal.
"Apa kau sudah selasai?" Tanya kendra tanpa melihat gadis itu. Perhatiannya tertuju pada langit malam di luar jendela.
"Kau bahkan tak menjawab pertanyaanku." Asyila semakin kesal.
"Kalau tidak ada lagi, aku kan pergi." Ucap lelaki itu dan membalikkan tubuhnya.
"Kau! Ya! Aku akan mengatakannya pada Ayah jika kau pergi!" Ancam Asyila.
Kendra berhenti di langkahnya "Apa yang akan kau sampaikan padanya?" Katanya tanpa berbalik melihat gadis itu.
"Kita sudah betunagan kau tidak pernah memberi waktumu untukku. Kau hanya sibuk dengan pekerjan dan pekerjaan terus. Kau seharusnya memperlakukanku sebagai tunaganmu, sebagai orang yang kau cintai."
Kendra terkekeh "Orang yang ku cintai? Kau tidak akan pernah menjadi orang itu." Lalu lelaki itu beranjak pergi.
Asyila sangat kesal memandangi Kendra yang mengacuhkannya. " Lihat saja nanti, Kendra, kau akan memohon padaku!" Katanya dengan jengkel.
Setelah acara itu selesai, Kendra ditahan oleh ayahnya. Ia hanya diam dengan wajah datarnya tak mengatakan apapun dan ia bahkan tidak perduli dengan yang mereka bicarakan.
"Kau antar Asyila pulang." Kata Ranan pada Kendra seraya memutar matanya dengan lembut melihat ke arah Asyila.
"Tidak usah Ayah, aku akan pulang bersama Ayah dan Ibuku saja." Kata Asyila sopan.
"Jangan menolaknya, sudah menjadi tugas Kendra untuk selalu memperhatikan keselamatanmu. Pergilah." Ranan tersenyum.
"Baik Ayah." Kata Syila dan bergegas pergi bersama Kendra.