
Setelah acara mandi erotis mereka, mereka sarapan bersama.
Hara dengan menahan diri duduk di ujung meja, panjang saling berhadapan dengan Kendra.
Meja itu panjang dan muat untuk 10 orang hingga jarak mereka terlalu jauh.
Kendra makan dengan tenang dan tak banyak bicara, begitu pun Hara.
Ketika mereka selesai sarapan, Anni membawa sebutir obat di bawah piring dan memberikannya pada Hara.
"Hm, apa ini?" Tanya Hara dengan bingung.
"Itu suplemen kesehatan." Anni menjawab.
"Oh, tidak perlu, aku tidak pernah makan itu, aku selalu sehat." Katanya dengan di penuhi senyuman.
"Tapi kau perlu energi tambahan untukku setiap malam, makan itu." Kata Kendra dengan suara acuh membuat pipi Hara memerah seraya melihat ke arah Anni.
Hara segera meraih pil itu dan menelannya bersama air putih.
Setelah memastikan gadis itu mengkonsumsi pilnya, Kendra bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Hara merasa kesal, Kendra bahkan tak berpamitan padanya, tapi ia tak mengatakan apa pun dan berpura-pura cuek.
Hara kembali tidur setelah sarapan dan ia baru bangun pada sore harinya.
Ia kembali makan dengan lahap dan cukup senang memikirkan ia sudah menjadi milik Kendra. Apa lagi ia memiliki mimpi yang indah pada siang itu.
"Nyonya, kabar baik apa yang membuat Nyonya senyum-senyum seperti itu?" Anni meletakkan makanan terakhir di meja.
Pipi Hara memerah dan tak berani mengatakannya pada Anni "Aku hanya bermimpi sesuatu yang menyenangkan."
Anni tidak lagi menanggapi dan kembali ke dapur.
Hara segera menyelesaikan acara makannya dan kembali ke kamarnya.
Ia memasang headset dan mendengarkan lagu. Belum lama ia mendengarkan dan seorang datang memeluknya.
Ia dengan refleks menjauhkan diri "Apa yang kau lakukan?" Hara berusaha melepaskan diri dari Kendra.
Mata Hara langsung melompat. "Apa? Kau akan membawaku keluar?" Tanyanya dengan antusias.
"Kau tidak mau?"
"Ya ya ya! Aku mau! Jadi pesta seperti apa yang akan kita hadiri?" Hara begitu bersemangat, ia telah melupakan untuk berpura-pura kesal pada Kendra.
"Ya, penata rias akan datang sebentar lagi." Kendra kemudian menarik Hara ke pelukannya. "Akhir-akhir ini tagihan air dan listrik meningkat. Kita akan menghemat air mulai sekarang."
"Apa yang kau katakan? Lepaskan aku sialan!" Hara merontah sekuat tenaga ketika mengetahui maksud pria itu mengajaknya menghemat air.
"Aku tidak punya cukup uang untuk membayar tagihan air yang kau gunakan setiap hari." Katanya dan membawa Hara ke kamar mandi.
"Lepaskan aku!" Teriak Hara lebih keras.
Detik berikutnya Kendra melepaskan pegangannya dan Hara terhempas ke dalam bak berendam yang penuh air.
"Huwa, uhuk,, uhuk,," air masuk ke saluran pernafasannya.
Setelah mendapatkan nafas dengan benar ia memandang kesal pada Kendra yang masih berdiri memperhatikannya. " Kau b*jingan sialan!" Katanya degan marah.
"Siapa yang meminta di lepaskan?" Kendra membuka satu per satu kancing kemejanya.
Hara berdiri di dalam bak berendam dengan bertolak pinggang menantang Kendra. "Tapi kau hampir membunuhku!"
Kendra mengentikan kegiatannya dan melihat Hara yang sudah basah kuyup. "Kau tidak bilang untuk dilepaskan dimana. Jadi aku menuruti keinginanmu di tempat yang ku sukai." Katanya dengan acuh baru lanjut membuka kancing bajunya.
"Kau! Aku tidak akan menemanimu ke pesta itu! Pergi saja sendiri, dasar kau sialan!" Umpatnya dan keluar dari bak berendam.
Sekali lagi adegan pintu kamar mandi yang terkunci menahannya.
Bagaimana pintunya bisa terkunci ketika ia bahkan tak melihat pria itu mengunci pintunya?
Ia berbalik dan melihat punggung Kendra, lelaki itu masih tenang membuka kancing kemejanya.
...