
"Kendra, kau harus mengumumkan pernikahan ini dengan cepat! Lalu cepat beri kami seorang cucu!" Ranan berbicara.
"Pernikahannya akan diumumkan ketika undangan pernikahan disebar. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat."
"Tidak, kita tidak perlu menunggu sampai saat itu, yang terpenting kalain sudah resmi menikah sekarang." Ranan bersikeras.
Asyila sebenarnya ingin pernikahannya diumumkan cepat. Tapi ia cukup tergoda dengan kejutan dari Kendra, ia ingin semua orang terkejut nantinya! "Ayah, aku rasa yang dikatakan Kendra,,"
"Panggil aku suami," Kendra menyelah.
Wajah Asyila segera merona dan ia merasakan suhu badannya dengan cepat bertambah. "Su, suami." Ucapnya dengan malu.
"Ha ha ha..." Semua orang tertawa dnegan tingkah kedua pengantin baru itu.
"Baiklah, Ayah tidak kan memaksa lagi, kalain boleh mengaturnya sesuka hati. Lagi pula Kendra sudah bekerja keras untuk mempersiapkan semuanya, tapi Ayah yang bodoh ini malah merusaknya." Ranan tersenyum.
"Iya, aturlah sesuka kalain, yang paling penting, kalain telah resmi menikah, dan sebaiknya kalian pulang sekarang! Seorang pengantin harus berbulan madu!" Marita menepuk pelan lengan Kendra.
"Pulanglah, biar kami yang menjaga Besan di sini, kalian anak muda harus memberi kami momongan!" Ibu Asyila menambahkan.
"Ibu, kalian membuatku malu." Asyila berbisik pelan pada ibunya.
"Tidak usah malu! Kau juga akan melaluinya 'kan?!"
...
Kendra dan Asyila pergi ke villa dimana Asyila telah tinggal.
Sepanjang perjalanan, Asyila tersenyum sambil menatap pria tampan yang sedang duduk di sampingnya.
Kendra sangat sibuk dengan laptopnya. Asyila tahu suaminya itu sedang bekerja, jadi ia cukup perhatian dengan tidak mengganggunya.
Ketika mereka tiba di Villa, Asyila kemudian turun bersama Kendra, namun Kendra segera masuk ke ruang kerjanya.
Sedangkan Asyila langsung membersihkan diri, ia cukup tegang kalau-kalau Kendra benar-benar menyentuhnya!
Kendra tidak menoleh sedikitpun pada Asyila, ia hanya mengangguk kecil dan terus menatap laptopnya.
"Apa kau perlu bantuan? Aku belum mengantuk juga." Ucap Asyila.
Jari Kendra yang sedang menari di atas keyboard segera terhenti. "Susun berkas itu." Ucapnya melihat ke arah meja di sebelah Asyila.
"Ok!" Jawabnya dengan senang. Itu adalah pertama kalinya Kendra membutuhkan bantuannya.
Setelah 2 jam berlalu, Asyila mulai mengantuk, tapi ia melihat berkas tersebut belum separuh dikerjakannya, ia menoleh ke arah Kendra dan mendapati pria itu masih terus menatap komputernya.
Asyila mulai kelelahan, jadi ia berdiri dan mengembalikan berkas itu ke meja "Aku sudah mengantuk, aku akan menyelesaikan ini besok pagi." Katanya sambil menoleh ke arah Kedhra.
"Tehmu? Kau tidak meminumnya?" Tanya Asyila melihat Teh yang masih penuh di atas meja.
"Sudah dingin." Jawab Kendra dengan singkat.
"Aku akan membuatkannya lagi sebelum pergi tidur." Kata Asyila meraih gelas situ dan berjalan keluar ruangan.
Setelah beberapa saat Asyila kembali dengan segelas Teh hangat. "Minumlah dulu, tehnya akan menjadi dingin." Ucapnya.
Kendra meraih gelas itu dan hendak meminumnya ketika ia menghentikan langkahnya, "Pergilah tidur aku harus lembur hari ini!" Ucapnya pada Asyila.
"Ok!" Asyila segera berlalu, ia memang sudah sangat mengantuk.
Kendra mengembalikan teh itu ke tempatnya dan lanjut bekerja.
"Tuan Anda memanggil saya?" Anni muncul dari pintu beberapa saat kemudian.
"Singkirkan ini," katanya menunjuk pada gelas yang masih ada di atas meja.
"Baik Tuan." ucap Anni.