Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Berita tidak menyenangkan


Di dalam mobil, Kendra dengan dingin memacu mobilnya ke jalanan.


Sedikit pun ia tak berniat menoleh ke arah Asyila. Ia seperti berkendara sendirian.


Asyila sesekali melirik Kendra, ia berpikir keras bagaimana mendapatkan perhatian pria itu.


Ketika Hara yang bertungan dengan Kendra, ia sudah melakukan berbagai cara agar Hara tidak bisa memenangkan hati Kendra.


Sekarang, saat dirinya yang menjadi tunangan Kendra, ia pun tidak bisa memenangkan sedikit pun hati lelaki itu.


Dengan mengumpulkan keberaniannya, ia berkata "Aku ingin kembali saja ke Villa milikmu."


Kendra tidak mengatakan apa pun dan tanpa aba-aba segera memutar balik mobilnya.


"Ahh!" Teriak Asyila dengan kaget.


Jantungnya berdegup kencang seolah akan meledak karena peristiwa 1 detik itu!


"Bisakah kau lebih pelan?" Katanya tergugup sambil memegang erat sabuk pengamannya.


Kendra hanya diam saja dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setelah mereka tiba di Villa, Asyila segera turun dari mobil dan memuntahkan semua isi perutnya.


Ia belum merasa pulih ketika mobil Kendra telah meinggalkan villa itu.


Beberapa saat Anni datang dari dalam dan melihat kejadian itu. "Nona, kau baik-baik saja?" Katanya bergerak mendekat.


"Apa kau buta? Kau lihat aku sekarang muntah!" Bentak Asyila.


"Aku akan membuatkan Nona teh hangat." Katanya berlalu pergi.


Asyila berdecak kesal memandang jalan keluar villa yang sepi.


...


Setelah kejadian itu, Kendra hanya tinggal di villa bersama Hara sampai kejadian yang ditakutkannya terjadi juga.


"Tuan Muda, Tuan Besar jatuh sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit." Perawat Hanin.


"Kirimkan alamatnya." Katanya dan melepaskan pelukannya dari Hara.


"Ada apa?" Hara bertanya dengan lembut.


Hara memandang kepergian Kendra dan menebak akan terjadi sesuatu yang buruk.


Tapi ia sungguh tidak perduli. Yang ia pikirkan hanyalah berada di villa itu sendirian.


Ia tidak perlu bersusah payah melakukan akting yang memuakkan agar lelaki itu tidak menyiksanya di ranjang.


Ia berbalik ke dapur dan menemui Olan sedang memasak.


"Apa yang kau masak?" Tanyanya mengintip sebuah panci di atas kompor.


"Sup jagung." Ucap Olan sambil tersenyum.


"Ajari aku membuat ini juga." Katanya sambil meraih sendok kecil dan mencicipi masakan Olan.


"Nyonya, selama 2 tahun ini Nyonya semakin akur dengan Tuan, bahkan Nyonya repot-repot belajar memasak untuknya. Apakah Nyonya mulai jatuh cinta pada Tuan?"


Hara tersedak kecil "Jatuh cinta apa? Aku hanya tidak ingin lelaki itu menyiksaku ketika aku membantahnya dan membuat suasana hatinya menjadi buruk."


"Jangan berkata seperti itu, yang kulihat, Nyonya mencintainya!"


"Lalu kenapa kalau aku mencintainya, ia bahkan memiliki seorang tunangan." Hara menjawab dengan cuek.


"Tuan tidak menyukai tunangannya, buktinya ia selalu tinggal di sini, dan tidak pernah satu malam pun bersama dengan tunangannya."


"Itulah yang kuharapkan. Aku berlajar merayunya dan belajar memasak, menyenangkan hatinya, agar ia tetap di sini. Kalau ia sudah menikah nanti, aku mungkin akan dirundung oleh istrinya itu jika Kendra mulai jatuh cinta padanya lalu mencampakkanku. Aku tidak mau hidup dalam kesusahan!"


"Tapi Tuan memiliki hati yang dingin, ia tidak akan menikah dengan orang yang tidak dicintainya!"


"Siapa yang percaya? Ia bahkan sudah bertunangan."


"Tuan pasti memiliki alasan yang jelas. Hmm,, aku bukannya tidak mendukung mengenai pertunangan Tuan, tapi Anni selalu menelponku dan memberitahuku betapa kasarnya tunangan Tuan padanya." Olan kemudian berbalik menatap Hara "Bisakah Nyonya membujuk Tuan agar Anni pindah kemari?"


"Ya, aku juga menyukai Anni, tapi aku mungkin tidak akan berhasil meyakinkannya."


"Tidak masalah, jika Nyonya mau mencoba, itu sudah cukup."


"Baiklah."


"Terima kasih Nyonya." Ucap Olan dengan riang.