
Dua hari berikutnya Andra selalu pulang ke Villa di mana Asyila tinggal. Tapi pria itu akan lembur sampai malam dan kemudian saat Asyila tertidur Andra akan pergi dari sana dan tidur di Villa Hara.
Asyila bangun tergesa-gesa, itu adalah pukul 9 pagi.
"Apa Kendra sudah pergi?" Tanyanya pada Anni yang sedang membereskan ruang kerja Kendra.
"Ya Nona, Tuan berangkat sangat pagi." Jawab Anni.
Amarah Asyila memuncak, "Kenapa kau tidak mebangunkanku?! Ini sudah kesekian kalinya dan aku tidak pernah bangun pagi!"
Anni mencibir dalam hati, tentu saja kau tidak akan bangun karena obat tidur yang kau makan itu!
"Nona, saya telah membangunkan Anda, tapi Nona tidak mendengar saya." Kata pelayan itu sambil tertunduk.
"Kau! Dimana Kendra tidur kemarin malam?" Tanyanya Asyila lagi.
"Tadi pagi saya melihatnya keluar dari kamar Nona."
Asyila merasa lebih baik dan ia tersenyum berbalik pergi. Tapi ia baru mencapai pintu ketika wajahnya menjadi garang lagi dan berbalik menatap Anni dengan kesal "Kau! Bukankah aku sudah bilang untuk memanggilku Nyonya? Kami sudah menikah sekarang!" Teriaknya.
Anni tersentak dan tertunduk lagi. Tentu saja ia merasa jijik memanggilnya Nyonya, bahkan panggilan Nona pun tidak pantas untuk Asyila. Saat ini ia merindukan Nyonyanya yang dulu, sungguh beruntung Olan bisa tinggal bersama Hara.
"Baik Nyonya." Ucapnya.
"Sekali lagi aku mendengarmu memanggilku Nona, aku akan membuatmu di pecat!" Kata Asyila dengan kesal.
"Baik Nyonya, tapi hari ini saya akan kembali ke desa saya untuk urusan keluarga, dan selama be,,"
"Bagus! Kau boleh pergi dan jangan pernah kembali kemari! Aku kan memberitahu Ibu mertuaku kalau kau sudah tak bisa lagi bekerja!" Kata Asyila dan bergegas pergi.
Anni merasa sangat bersyukur dan tersenyum membereskan semua pekerjaannya sebelum meraih kopor yang telah ia kemas dari kemarin siang.
Ia berjalan keluar dan tersenyum cerah memasuki sebuah mobil mewah berwarna putih.
"Olan!" Ucapnya memeluk Olan yang duduk manis di dalam mobil.
Hara yang duduk di seberangnya tersenyum memandangi kedua orang itu, sungguh persahabatan yang menenangkan hati.
"Aku meminta Nyonya untuk membawamu serta." Olan mengucapkannya dengan gembira.
"Terima kasih Nyonya," ucap Anni pada Hara.
Tepatnya pada pukul 4 sore, Andra kembali dari kantornya dan langsung membawa ke-3 wanita itu ke bandara.
Mereka semua duduk berada di kelas VIP meski Hara dan Kendra berada di ruang lain.
Hara menempel pada Kendra sambil tersenyum membayangkan apa yang sudah terjadi.
"Mengapa kau begitu senang?" Tanya pria itu ketika memperhatikan Hara.
"Aku senang saja." Jawabnya sambil merapatkan diri pada Kendra.
"Boleh aku bertanya satu hal?"
"Apa itu?"
"Mengapa kau tidak mengajak tunaganmu saja dan malah mengajak aku ke sana?"
"Karena aku menyukaimu."
"Lalu mengapa kau bertunangan dengan orang lain?" Tanyanya lagi.
"Apa kau percaya kalau aku mengatakan yang sebenarnya?"
"Tentu saja!" Hara bersemangat.
"Itu rahasia." Jawab Kendra singkat.
Hara tercengang "Baiklah, aku akan mempercayaimu saja."
Kendra tersenyum dan mendekap wanita itu lebih dalam. "Aku pergi keluar negeri untuk bekerja, tapi kau bisa berjalan-jalan bersama Anni dan Olan. Kita kan berada di sana selama 1 bulan penuh."
"Satu bulan penuh? Itu bagus!" Hara merasa sangat senang.
Hari ini ia merasakan hatinya kembali terbuka pada Kendra, ia sudah berulang kali meyakinkan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada pria itu, ia meyakinkan hatinya untuk menghapus rasa itu dan membiarkan kendra dimiliki orang lain.
Tapi kemudian ia terus merasakan manisnya perlakuan Kendra padanya, ia harus terbuai! Dan karena ia terbuai begitu dalam, ia bisa merasakan dirinya telah kalah!
Ia harus mencintai pria itu, apa pun yang terjadi!