
Hara tidak merasakan apa pun sampai pagi menjelang. Ia tidur dengan nyenyak karena kelelahan.
Ia terbangun dan merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Ngghhh..."
Kendra mengeratkan pelukannya pada wanita itu "Selamat pagi Nyonya Kecil," katanya sambil membemamkan wajahnya di belakang leher Hara.
Hara meletakkan tangannya di atas tangan Kendra dan pikirannya segera membaik, "Selamat pagi."
"Apakah masih sakit?" Tanya Kendra lagi.
"Semua badanku sakit, bisakah kau memberiku pijatan?"
"Kau mau pijatan di seluruh tubuhmu?"
"Emmh, ya, semua tubuhku sakit semua." Katanya dengan nada setengah merintih.
Kendra segera bangun dam meloroti selimut yang membungkus mereka.
Ia memperhatikan tubuh Hara yang penuh bekas cintanya dan melihat mata Hara yang masih setengah terpejam. "Dari mana aku harus mulai?"
"Hmmm...." Gumam Hara sambil mengangkat tangan kanannya.
Kendra kemudian memberi minyak aroma teraphi sebelum melakukan pijatan lembut pada tangan Hara. Dari jari ke telapak tangan Hara terus ke lengan.
Kemudian ia berpindah ke tangan kiri Hara. "Yang mana berikutnya?" Tanyanya lagi ketika lengan kiri Hara telah ia pijat.
Hara meletakkam satu kakinya di paha Kendra "Kaki."
Ia merasa begitu senang, kapan lagi ia bisa memerintah Kendra seperti ini?
Apakah karena pria itu telah jatuh cinta padanya hingga mau melakukan apa yang ia suruh? Senyumnya mengembang tipis di wajahnya.
"Kenapa pahamu juga penuh dengan bekasku?" Katanya dengan bingung. Setahunya, ia tidak mencium paha gadis itu.
"Mmh.." gumam Hara dengan malas, tapi ia masih tersenyum menikmati layanan dari Kendra.
"Kendra melilit celana Hara semakin ke atas dan mendapati memang terlalu banyak bekas kecupan di sana.
Ia melihat Hara yang masih memejamkan matanya, di leher gadis itu bahkan jauh lebih banyak, mau tidak mau ia tersenyum sebelum melanjutkan pijatannya pada kaki Hara.
"Punggungku," kata Hara dan membalikkan tubuhnya.
"Lapas bajumu," perintah Kendra saat melihat gadis itu bersikap terlalu malas.
"Bisakah kau melepaskannya untukku?" Gumam Hara dengan suara yang masih serak.
"Kenapa kau menggodaku kagi?" Kendra dengan tidak tenang merasakan kegelisahan.
"Hmm?" Gumam Hara lagi.
"Kau membangunkan singa yang tertidur dengan suara serakmu itu!" Kanya dengan kesal sambil membalikkan lagi tubuh Hara dan membuka kancing piyama gadis itu.
Hara begitu malas menjawab, ia hanya diam saja dan membiarkan pria itu menyentuhnya.
Piyama yang tersingkap memperlihatkan tubuh hara dengan segera.
Tidak seperti biasanya, jika kulit itu terlihat begitu mulus, namun kini telah penuh dengan memar-memar hitam.
"Kenapa kau diam? Tanya Hara setelah merasakan Kendra tak lagi bergerak dalam waktu yang lama.
Ia membuka pelan matanya dan melihat tatapan Kendra dengan penuh nafsu memandanginya.
"Jangan bilang kau menginginkan itu lagi?" Tanyanya sambil melototi Kendra dan membungkus dirinya kembali.
Rasa sakit di tubuhnya masih terasa, terutama nyeri di bagian bawahnya.
"Hm." Gumam Kendra dengan tidak jelas.
" Jangan menatapku lagi! Aku akan meminta Pelayan Anni memijatku nanti." Katanya dengan tak suka.
Tatapan Kendra menggelap "Siapa yang mengijinkannya menyentuh area pribadimu?"
"Itu bukan area pribadiku! Hanya punggung saja!" Jawab hara dengan kesal.
"Kau mau memamerkan semua memar-memar di tubuhmu pada Pelayan Anni?" Katanya dengan kesal pada Hara.