Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Pria itu selingkuh!


Seperti negara api menyerang kutub Utara, kemarahan Asyila menyebar seperti cepatnya api membakar rumput-rumput kering di atas gunung.


Ia menggenggam kuat kartu tersebut dan berjalan ke arah Hara menyerang gadis itu.


Ia tidak lagi memperhatikan harga dirinya atau di mana ia menyerang gadis itu, atau dengan siapa ia mencari masalah, atau apa konsekuensi yang akan ia dapatkan nantinya.


Pertama-tama ia menarik rambut panjang yang tersusun rapi itu dan menariknya ke belakang.


"Ahhh!" Cerita Hara memegang rambutnya.


Olan dan Ani yang sedang mengumpulkan barang-barang Hara begitu terkejut. Mereka berdua melemparkan kembali barang itu ke lantai dan berusaha memisahkan keduanya.


Hara tidak melakukan perlawanan dan hanya berusaha melindungi dirinya tapi kemudian wanita itu sudah keterlaluan dan hendak mencakar wajahnya.


Dengan segera Hara memutar badannya dan menarik rambut Asyila seraya memutar lengan gadis itu.


Pihak keamanan yang melihat itu segera berlari ke arah mereka dan mengunci pergerakan Asyila.


"Lepaskan! Lepaskan! Dia wanita jalang yang telah menggoda suamiku!" Teriak Asyila begitu keras.


Sementara itu, Hara dibantu Ani dan Olan untuk duduk di sofa dan memperbaiki penampilan gadis itu.


Seorang pelayan yang melihat kejadian itu segera memungut barang-barang Hara lalu memberikannya pada Olan.


Karena keributan itu menarik semua perhatian orang di sana, pihak keamanan segera mengamankan Asyila yang terus berteriak-teriak dan membawanya ke ruangan khusus.


Wanita itu terus memberontak, maka pihak keamanan tidak memiliki pilihan lain selain memborgol lengannya dan menghubungi polisi setempat.


Setelah berteriak-teriak selama beberapa lamanya, penampilan Asyila sudah tidak karuan. Namun begitu, ia berusaha menenangkan dirinya dan berbicara dengan pihak keamanan tersebut


"Tolong lepaskan saya, saya akan menghubungi keluarga saya." Katanya seorang laki-laki bertubuh tegap yang mengawasinya.


Ashilla menyertakan giginya melihat lelaki itu benar-benar mengabaikannya, "Saya hanya ingin menelpon, cepat lepaskan borgol saya!" Katanya lagi.


Pada akhirnya, lelaki itu mengijinkan Asyila menelpon, namun tetap memborgol salah satu lengannya yang dikaitkan dengan besi di bawah meja.


Asyila merasa geram, namun ia tetap mengeluarkan ponselnya dengan tangannya yang bebas lalu menghubungi nomor Kendra.


Sayangnya, saat itu itu panggilan tersebut tidak dapat terhubung karena ponsel Kendra dalam keadaan mati.


Ia semakin marah dan menggertakkan giginya, matanya memerah menahan kemarahan sekaligus menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Ia adalah seorang putri yang tidak pernah diperlakukan dengan kasar apalagi dikhianati seperti ini.


Dan borgol di tangannya itu adalah pertama kalinya ia melihat benda itu secara langsung.


Ia sangat marah pada Kendra, pada hara dan pada pihak keamanan yang telah memborgol lengannya.


Namun, ia tidak berani lagi membuat keributan yang akan merugikannya.


Setelah berpikir beberapa lamanya ia kemudian menghubungi ibunya.


"Halo Sayang, bagaimana perawatan hari ini?" suara lembut seorang ibu dari ujung telepon itu menggema dengan manis di telinga ashilla.


"Tidak ada perawatan menyenangkan Bu, aku bertemu selingkuhan Kendra di tempat ini!" Ucap Gadis itu sambil terisak.


"Apa yang kau katakan?" Karina bertanya dengan penuh rasa tidak percaya.


Saat itu air mata Asyila sudah meluncur deras dan ia terisak keras sambil menjawab "Ibu lelaki itu berselingkuh dariku!"


"Tenangkan dirimu dulu, Ibu akan menyelidiki masalah ini kau boleh pulang kemari sekarang." Ucap Karina menyenangkan putrinya.